Travelista

Jelajah Rasa dan Sejarah di Kaliurang

Ahad, 7 January 2018 01:46 WIB Penulis: Suryani Wandari/M-1

MI/SURYANI WANDARI

MENDARAT di Bandara Adjisucipto, Yogyakarta, Sabtu (18/11) saat matahari pas di atas kepala, perut saya mulai keroncongan. Rupanya saat itu pas sekali dengan jam makan siang, dimana semua orang termasuk pelancong seperti saya dan rombongan PT Bank Central Asia berburu tempat makan.

Atas inisiatif salah seorang teman, kami diajak santap siang di Warung Kopi Klotok, di Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sekitar 30 menempuh perjalanan dari bandara, kami pun sampai di rumah makan berasitektur tradisional khas Jawa.

Barisan antrian terlihat saat memasuki ruangan, ujung antrian tersebut mengarah pada meja besar berisi sajian nasi, sayur, dan lauk pauk. Tempat duduk yang penuh pun membuat kami harus menunggu giliran mendapatkan kursi.

Sedapnya lodeh kopi klotok

Akhir pekan yang memang biasanya pengunjung membludak, apalagi pada jam makan siang. Ya, meskipun bernama warung kopi, rupanya bukan hanya menyediakan kopi saja, adapula makan berat lainnya.

Saat mengantre mengambil makan, mata saya tak bosan melihat arsitektur dan dekorasi di dalamnya. Simpel, namun mencerminkan budaya Jawa, seperti caping tani, termos, hingga pemukul kasur tradisional dari bahan rotan itu menjadi hiasan unik. Kadang para pengunjung pun foto bersama barang unik yang jarang ditemui sekarang.

Tak hanya itu, ucapan dari artis dan pejabat negara pun menghiasi dinding kayu yang dirangkai dalam pigura. Salah satunya ucapan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Indonesia ke-6 yang menulis bahwa dirinya menikmati lokasi, makanan dan pelayanan yang ramah.

Setelah sampai di ujung antrean, akhirnya saya pun dapat memilih teman nasi, ada beragam lodeh seperti lodeh tempe lombok ijo, lodeh kluwih, lodeh terong, sayur asem, gereh layur dan sambel dadakan yang bisa dinikmati sepuasnya di tempat hanya Rp11.500 bersama nasi putih.

Tak hanya itu, ada pula tahu bacem, tempe goreng, telor dadar krispi, dan pindang goreng. Untuk minumnya, selain memesan kopi klotok--signature warung ini--seharga Rp5 ribu, saya mencoba teh tubruk gula batu seharga Rp6.500. Dengan suasana khas perdesaan, saya seperti makan di rumah sendiri apalagi dengan kudapan tradisional murah meriah, namun tetap lezat.

Cerita gunung di Lava Tour Merapi

Selesai makan siang dan beristirahat sejenak, rasanya kami masih belum telat untuk merasakan wisata yang populer setelah meletusnya Merapi, 5 November 2010 silam. Sekitar 10-15 menit dari warung kopi klotok, kami menyewa sebuah jip untuk dapat menaiki jalanan terjal keatas gunung.

Sekitar 15 menit diombang ambing oleh jip yang melintasi jalananan berbatu, kami tiba di Museum Omahku Memoriku atau yang lebih dikenal dengan The House of Memory. Wujudnya, rumah yang didedikasikan menjadi museum erupsi Merapi 2010 di bekas Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Ya, sesuai namanya, di sini terpajang aneka memorabilia korban Merapi yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar kawasan. Rumah yang dengan atap, pintu dan dinding yang hancur bahkan terdapat pasir dari awan panas bersuhu 600 derajat celsius.

Semua barang punya ceritanya tersendiri, seperti sebuah jam dinding yang angkanya berhenti di angka 12.15 yang menggambarkan awan panas menghantam jam tersebut. Adapula motor yang sudah tinggal rangkanya saja, ada tulang sapi yang berdiri layaknya gambaran saat erupsi terjadi. Furnitur, perkakas rumah tangga hingga batuan yang sampai ke rumah dengan jarak 7 km dari Merapi ini.

Lanjut ke trip selanjutnya, kami mengunjungi situs batu alien yang berada 4 km dari Alien. Disebut begitu karena batu ini memiliki bentuk seperti kepala alien jika dipandang dari suatu sisi. Tetapi, bukan itu yang membuat merinding dan tersentuh lagi.

Batu alien itu rupanya menyimpan misteri bagi warga sekitar, pasalnya batuan besar itu terlontar begitu saja saat erupsi merapi. Konon, awalnya di tempat ini terdapat 4 rumah warga yang kini tertimbun, tepat di bawah batuan itu yakni kandang sapi milik warga.

Dari sisi lain, kami pun bisa melihat jalur lahar Merapi yang saat itu sedang dikeruk beberapa truk besar, sedangkan dari kejauhan tampak Gunung Merapi dengan puncaknya yang indah dan begitu gagah, namun sayang tertutup awan.

Satu lagi trip yang disediakan pengelola, Bunker Kaliadem yang masih berada di 4km dari Merapi. Perjalanan ke area ini bisa dikatakan jalanan yang paling berat dan parah karena berada paling dekat menerima dampak erupsi Merapi.

Bunker ini sebenarnya dibuat sebagai perlindungan warga dari awan panas letusan Merapi. Tapi sayangnya, setelah satu tahun sejak peresmiannya, Merapi pun meletus. Bukan awan panas yang datang, melainkan lahar dingin yang melanda daerah ini. Dua orang relawan yang saat itu mengganggap bunker aman, malah meninggal di dalam tertimbun lahar dingin.

Namun di balik itu, pemandangan alam sekitar sini patut diacungi jempol. Apalagi jika suhunya bagus tak berselimut kabut seperti yang saya alami saat itu, berswafoto di sini terasa asyik karena latar tulisan bunker kaliadem berpadu dengan gunung merapi yang menjulang dengan gagahnya. Di balik ceritanya yang memilukan, masih tetap bisa merasakan berkah bentang alam nan indah. (M-1)

Komentar