Travelista

Berkah Bambu di Pasar Papringan

Ahad, 7 January 2018 01:31 WIB Penulis: Wan/M-1

MI/SURYANI WANDARI

Di hari kedua, kami berangkat pagi-pagi ke Desa Ngadimulyo, Temanggung, Jawa Tengah. Di sana ada pasar unik di tengah kebun bambu, Pasar Papringan.

Tapi, jika mau datang ke pasar ini sebaiknya tentukan jadwal dan pastikan harinya, pasalnya pasar ini hanya digelar 1 bulan dua kali yakni saat Minggu Pon dan Minggu Wage.

Nama Papringan diambil dari kata Pring dalam bahasa Jawa yang artinya, Bambu. Yang menarik, bukan hanya berada di tengah kebun bambu, tapi transaksi jual belinya pun pakai bambu yang dibentuk persegi panjang bernama pring. Untuk mendapatkan pring, pengunjung pasar harus menukarkan uang rupiah ke stan penukaran, 1 pring bernilai Rp2 ribu.

Menurut penggagasnya, Singgih Susilo Kartono, pasar ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah, Singgih pun yakin keberadaan pasar di tengah kebun bambu yang memiliki keindahan alam desa ini menjadi magnet besar yang bisa menarik orang untuk datang kembali ke desa. "Sekarang pengunjung pasar terus meningkat setiap gelaran dua bulan sekali ini. Bahkan hari ini melebihi kapasitas hingga 4.000 pengunjung," kata Singgih.

Serba-ndeso

Yang unik, pasar ini menjajakan makanan ndeso seperti seperti sego jagung, dawet ayu, pepes, klepon, cenil, dan gethuk yang bahannya asli hasil tani. Jangan harap pengunjung dapat menemukan bungkus makan dari plastik ya, di sini semuanya memakai keranjang yang terbuat dari bambu.

Untuk anak-anak, jangan khawatir ada taman bermain yang bisa dicoba. Disediakan permainan tradisional seperti eggrang, lompat karet, congklak, alat musik gamelan, hingga taman bacaan yang disediakan PT BCA. Berbelanja di sini, pengunjung bisa merasakan kenyamanan karena rindangnya pohon bambu menebarkan kesejukan.

Komentar