Kuliner

Rasa Autentik Aceh di Jakarta

Ahad, 7 January 2018 00:16 WIB Penulis: M Taufan SP Bustan

MI/M Taufan SP Bustan

MEMASUKI restoran ini terasa berada di Aceh. Pelbagai foto ikon Serambi Mekah itu terpajang di beberapa dinding ruangan yang memanjakan mata pengunjungnya. Pelayanan yang ramah membuat tambah nyaman berada di Boulevard Coffee and Resto di Jalan Fachrudin, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tidak hanya suasananya yang membawa kita ke Aceh, makanan yang disajikan benar-benar autentik. Baik bumbunya maupun rasanya serasa kembali ke Aceh.

Mulai camilan ada timphan asoekaya, pulut panggang, dan roti jala. Tiga jenis kue basah ini menjadi hidangan pembuka sambil menanti pesanan makanan dan minuman.

Membuka santap siang Media Indonesia yang menyambangi restoran ini ialah ayam tangkap. Tampilannya mirip ayam goreng umumnya, tapi memiliki perbedaan dengan taburan dedaunan yang digoreng garing.

Juru masak Azwir Saputra mengungkapkan proses memasak cukup mudah. Yakni satu ayam kampung muda dibumbui dengan lada, kemiri, bawang putih, jahe, dan tidak lupa garam. Setelah itu, ayam yang sudah dipotong dan dibumbui itu digoreng selama 10 menit. Saat ayam masih setengah matang, dimasukkan daun kari, potongan daun pandan, salam koja, cabai merah keriting, dan potongan tipis bawang merah.

Kehadiran dedaunan ini bertujuan memberikan aroma rempah khas Aceh yang meresap ke dalam daging ayam sehingga ketika dimakan tidak hanya enak dan gurih.

Makan siang itu kian lengkap dengan kuah beulangong. Selintas mirip kari kambing. Namun, hidangan ini menggunakan tulang iga daging kambing tanpa lemak, labu air, serta dilengkapi dengan rempah Aceh. Tidak lupa campuran kelapa parut, cabai keriting bubuk, ketumbar, cabai rawit merah, kunyit, dan penyedap rasa yang dihaluskan semua. Daging kambing yang sudah dibumbui itu dimasak selama 1 jam hingga lembut.

"Dalam satu porsi ada delapan potongan daging dan empat potongan labu air. Ini bisa dimakan dengan nasi dan roti canai. Rasa khas rempah Aceh sangat terasa karena adanya pola masak yang khusus," sebut Azwir yang mengaku pernah belajar masak saat mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Aceh.

Sebagai pelengkap ada keumamah dan ikan asam keu'eng. Keumamah berupa ikan kayu atau baby tuna yang disuwir. Penampakannya seperti ikan yang dihancurkan, kemudian ditumis dengan campuran rempah dan bumbu khusus yang menciptakan rasa asam manis.

Pada ikan asam keu'eng, restoran ini menggunakan ikan bandeng. Sepintas masakan ini seperti ikan kuah asam yang ada di Pulau Sulawesi. Secara tampilan, ikan bandeng ini dibagi dua disajikan dalam kuah kuning dan potongan cabai hijau keriting.

Untuk bumbu, Azwir memperpadukan belimbing Aceh, bawang merah, bawang putih, dan sedikit kunyit yang dicampurkan penyedap rasa. Meski berkesan ada santan, hidangan ini tidak memakai santan.

Cepat saji

Restoran ini juga menyediakan menu cepat saji, yakni nasi gurih spesial Aceh. Hidangan ini memadukan nasi, sayur, dan ikan dibungkus ke dalam daun pisang. Tak ubahnya nasi kuning. Namun perbedaannya jika nasi kuning berwarna kuning, nasi gurih ini berwarna putih dengan campuran beberapa rempah.

Nasi gurih ini menggunakan santan sehingga mengurai butiran nasi. Penggunaan jahe, serai, daun salam pun begitu terasa saat sesendok nasi ini masuk ke mulut. Beberapa bumbu dan rempah khusus Aceh menambah kenikmatan dan kelezatan menu ini saat disantap.

Menurut Azwir, proses masak menu itu cukup mengukus beras yang telah dicampurkan bumbu dan rempah khusus selama 30 menit. Setelah masak, disajikan dengan sepotong ikan tongkol yang digoreng menggunakan sambalado.

Selain itu, ada tambahan potongan kecil ikan asin, kacang panjang tumis, serta penambahan beberapa biji kacang tanah goreng sehingga menambah kenikmatan menu ini. "Cara masak dan campuran bumbu serta rempahnya sangat muda. Semua bahan dibeli di Jakarta, namun ada rempah tertentu yang harus didatangkan langsung dari Aceh," imbuh Azwir.

Makanan berat ini merupakan makanan yang paling laris dan sangat direkomendasikan untuk Anda cicipi jika ke restoran ini.

Selain harganya yang terjangkau, sejumlah masakan ini dihidangkan dengan porsi yang cukup untuk disantap berdua dengan rasa tentunya 'menggoyang' lidah. Selain adanya rasa pedas dan manis, ada juga asam.

Nusantara

Menyegarkan dahaga Anda, coba timun serut atau ketimun parut yang dipadukan dengan sirop dan es batu yang telah dihancurkan. Pecinta kopi bisa menikmati olahan kopi robusta, arabika, hingga minuman berbahan kopi, susu, dan gula yang diberi nama sanger.

Tambahan kolak durian membuat restoran ini semakin lengkap dalam menyajikan masakan-masakan Aceh.

Manager Boulevard Coffee and Resto Aulia Nur mengatakan, 80% konsumen yang mendominasi datang ke restoran ini ialah komunitas di luar Aceh. Mereka tertarik karena restoran ini satu-satunya di Jakarta yang benar-benar menyajikan masakan khas Aceh. Pun begitu, restoran ini juga menyajikan beberapa menu selera Nusantara, seperti cakalang rica-rica dan sayur kuah asam.

"Tiap hari mulai dari pukul 07.00 WIB-22.00 WIB kami buka. Ya untuk konsumen tetap itu penghuni apartemen Boulevard dan dari karyawan kantor sekitar apartemen ini. Mereka semua hampir menjadi langganan tetap kami," ungkap Aulia.

Anda tidak perlu takut menguras kocek banyak. Satu porsi ayam tangkap dihargai Rp110 ribu dengan penyajian yang lumayan besar.

Sementara itu, kuah beulangong Rp35 ribu per porsi, keumamah Rp17 ribu per porsi, ikan asam keu'eng Rp17 ribu per porsi, nasi gurih spesial Rp25 ribu per porsi, kolak durian Rp35 ribu per porsi, dan timun serut Rp20 ribu per porsi. Sementara itu, tiga kue basah sebagai hidangan pembuka hanya dihargai Rp5.000 per biji.

"Masalah harga dengan rasa yang enak kami pikir sepadan. Apalagi ini masakan autentik Aceh dan spesial di sini pengunjung tanpa meminta langsung disuguhkan air hangat gratis. Kami juga menyediakan olahan pelbagai jenis kopi yang tentunya harganya pun terjangkau," tutup Aulia.

Rencana ke depan, restoran ini akan menghadirkan live music dan nonton bareng sepak bola serta Moto-GP. Nantinya dengan adanya penambahan fasilitas itu, pengunjung diharapkan semakin banyak. (M-4)

Komentar