Eksplorasi

Spesies Burung Hibrida Ditemukan di Amazon

Sabtu, 6 January 2018 11:20 WIB Penulis: Desi Yasmini Siregar

IFLSCIENCE

BURUNG yang pertama kali terlihat pada 1957 ini ialah keturunan yang telah lama ­hilang dari spesies manakin opal-crowned (­bermahkota opal), dan manakin snow-capped (bertopi salju).

Setelah lebih dari 50 tahun mempelajari burung manakin bermahkota emas, para peneliti di Universitas Toronto, Scarborough, akhirnya berhasil mengidentifikasi burung itu sebagai spesies burung hibrida pertama yang mampu berevolusi untuk membentuk spesiesnya.

Burung manakin golden-crowned, atau manakin bermahkota emas, adalah burung yang sulit ditemukan, berhabitat di Amazon Selatan-Tengah. Burung ini merupakan spesies hibrida yang pertama kali ditemukan di hutan hujan. Hibrida merupakan generasi hasil dari persilangan antara dua atau lebih populasi yang berbeda. Dalam kasus ini, kedua spesies ialah manakin snow-capped dan manakin opal-crowned.

Meskipun manakin bermahkota emas tinggal jauh dari spesies induknya, para peneliti menduga mereka terpisah selama zaman es di masa lalu ketika hutan hujan berkontraksi dan sungai-sungai yang luas terbentuk menjadi pembatas alami.

Penemuan tersebut berlangsung setelah tim peneliti meluncurkan dua ekspedisi terpisah ke Brasil. Mereka mengumpulkan sampel genetik dan bulu, lalu mengurutkan sebagian besar genom manakin bermahkota emas. Hasilnya, 80% genom manakin bermahkota emas berasal dari manakin bermahkota opal, dan 20% sisanya dari manakin bertopi salju. Mereka mengatakan, keturunan pertama hibrida lahir sekitar 180 ribu tahun lalu ketika burung dari dua spesies tersebut dikawinkan.

Penemuan pertama manakin bermahkota emas tersebut ditemukan ilmuwan asal Brasil, yaitu Helmut Sick dan Raimunda Costa, Juli 1957. Mereka mengumpulkan tiga ekor jantan dewasa dari anak sungai kecil di Rio Cururu-ri di sebelah timur Amazon Brasil.

Penampilan tiga spesies ini sangat mirip. Namun, manakin bermahkota emas memiliki kepala berbulu ku­ning yang kusam, sedangkan orangtuanya (manakin bertopi salju dan manakin bermahkota opal) masing-masing mempunyai bulu putih cerah dan berwarna-warni.

Untuk memahami perbedaan ini, para peneliti menganalisis struktur keratin (protein yang bertanggung jawab untuk menciptakan warna bulu yang sangat reflektif) dari ketiga spesies. Mereka menemukan, kedua orangtua burung tersebut menghasilkan keturunan dengan bulu yang kusam. Menurut para peneliti, burung unik itu awalnya ­berbulu putih atau abu-abu yang kusam lalu berubah menjadi kuning karena berevolusi.

The International Union for Conservation of Nature telah mengklasifikasi­kan manakin bermahkota emas sebagai spesies yang terancam, yang bisa punah karena lenyapnya habitat akibat penghabisan hutan hujan untuk penebang­an dan peternakan. (iflscience/tech times/dys/L-3)

Komentar