Jendela Buku

Tidak Selamanya Cinta Berakhir Indah

Sabtu, 6 January 2018 09:21 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni

Dok Mi

SIAPA yang tak mengenal dua karakter pasangan Jack (Leonardo DiCaprio) dan Rose (Kate Winslet)? Lewat film Titanic pada 1997 itu, mereka sukses memperlihat perjuangan cinta abadi meski tak selamnya berakhir indah. Selain mendongkrak minat baca generasi muda di Tanah Air, kisah cinta seperti itu selalu mendapat tempat terbaik. Yusuf dan Zulaikha duduk bersisian di lantai teras rumah Pak Imam. Zulaikha menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya. Yusuf diam, tak berani mengusik. Hawa siang itu terasa padat. Matahari baru mencapai pucuk ketinggiannya. Celah-celah perbukitan karst sedang enggan mendesiskan angin. "Suf, bagaimana kalau ternyata kita salah?" Zulaikha memecahkan kebisuan. "Tidak ada cinta yang salah," tukas Yusuf.

"Apa enaknya cinta begini?" "Jadi? Kita mau menyerah? Mau pu-" Zulaikha menyergah, "Bukan mau menyerah. Tapi bukan begini caranya." Yusuf meradang. "Terlambat mi (sudah), Laikha. Darahku pasti sudah dihalkan keluarga-ta (kamu)," Zulaikha terisak kencang dengan bahu terguncang-guncang. Ia tak sanggup membayangkan berbagai hal buruk terjadi pada Yusuf. Melihat kekasihnya terisak-isak begitu, panas kepala Yusuf perlahan menguap. Ia rangkul bahu Zulaikha dengan lembut dan berbisik, "Bismillah, Laikha. Kalau memang kita berjodoh dunia akhirat, Allah pasti kasih jalannya." Hubungan Yusuf dan Zulaikha dimulai jauh sebelum malam itu, saat pucuk pohon kesturi di depan rumah mereka masih bisa mereka gapai menjinjit. Mereka adalah sahabat kecil yang akrab karena tinggal hanya terpisah beberapa rumah.

Benih-benih cinta tumbuh sejalan waktu di antara keduanya. Zulaikha ialah anak dari Abdullah dan Rabiah. Kedua orangtuanya keturunan Raja Bone. Zulaikha dibesarkan berbagai aturan kebangsawanan yang membatasi gerak-geriknya. Ia bukan anak biasa. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah yang dijaga kemurniaannya selama belasan generasi. Tak lama, yang ia tunggu datang juga. Seorang gadis muncul di pintu masuk. Yusuf langsung berdiri dan menyambutnya. Sambil bergegas menghampiri si gadis, Yusuf tak bisa menahan senyumnya. Gadis itu terlalu cantik untuknya, mata besarnya yang dibingkai bulu mata panjang yang lentik. Yusuf mengecup ujung hidung Zulaikha dengan lembut, lalu membimbing Zulaikha duduk di meja mereka. Dengan gerak yang tak kentara, Yusuf memberikan isyarat kepada para pemain band akustik yang telah siap di sudut mereka.

Tak lama, mengalun sebuah lagu cinta yang terrnama, menghangatkan udara malam. "Yang, dengarlah sayangku, aku mohon menikah denganku...." Seseriusan Yusuf meminang terlihat ketika, paman Yusuf dan istrinya mengunjungi kediaman Zulaikha. Namun, kedatangannya mereka tidak sesuai dengan harapan. Tuan rumah menghidangkan teh pahit. Dalam jamuan bangsawan Bugis, hidangan teh pahit berarti banyak hal, tetapi semuanya tak mengenakkan. Sekoyong-koyongnya, niat baik keluarga Yusuf ditolak mentah-mentah keluarga Zulaikha. Kasus silariang atau kawin lari di Sulawesi Selatan sejak dulu hingga kini masih sering terjadi. Pasangan silariang tidak peduli dan tidak menghiraukan sanksi adat yang bakal dihadapi.

Meskipun harus berhadapan dengan ujung badik, bagi pria silariang, selama cinta bersemi, sanksi maut pun akan tetap dihadapi. Dalam novel ini, tokoh Yusuf memilih melakukan silariang bersama kekasih hatinya, Zulaikha. Mereka melakukan pelarian ke perdalaman.
Di sebuah desa di barat daya Sulawesi Selatan. Sore itu, Yusuf dan Zulaikha resmi dinikahkan seorang imam, dengan dua saksi dan seorang pejabat KUA sebagai wali nikah. Perempuan yang melakukan kawin lari itu tumanyala, sedangkan keluarga perempuan yang merasakan aib dan malu akibat perbuatan anaknya disebut 'tumasiri'. Apalagi murka ibunda Zulaikha cukup beralasan, anak perempuan satu-satunya itu tidak boleh menikah dengan rakyat biasa, ia mewariskan darah biru yang harus terjaga sesuai dengan titah pendahulu.

Penulis buku ini, Oka Aurora, berhasil mengaduk-gaduk emosi pembaca. Jalinan cerita dalam Silariang: Cinta yang (tak) Direstui perlahan-lahan membuka tirai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mendesak untuk dituntaskan. Apa artinya hidup jika semua kemewahan kita miliki, kecuali kemewahan mencintai semau hati? Namun, untuk apa cinta kalau akhirnya dibunuh dan mati? Dan untuk apa juga tetap hidup kalau tanpa cinta?"

Fenomena adat Bugis
Bicara tentang cinta sejati dan pelbagai perjuangannya, Indonesia memiliki potret yang kerap menjadi inspirasi banyak kalangan. Pasangan Habibie dan Ainun menjadi lambang cinta yang tak lekang oleh waktu. Sebelum menjadi orang nomor satu di Indonesia, Habibie harus melewati perjalanan yang sulit dalam kariernya. Sang istri, Ainun, selalu setia mendampinginya. Bahkan hingga akhir hayatnya Ainun tak pernah merepotkan Habibie akibat penyakit yang merenggut nyawanya. Begitu juga dengan novel Silariang ini, mengangkat realitas yang sering terjadi di kehidupan. Cerita tentang perjuangan cinta yang akhirnya menjadi sangat rumit. Cerita tentang martabat, budaya, adat, tradisi, keluarga, hingga perkawinan yang tak kunjung direstui.

Bagi suku Bugis Makassar, sejak dari dulu berlaku hukum adat, khususnya menyangkut masalah siri', dan di sisi lain berlaku pula hukum positif yang disebut hukum pidana. Kedua hukum yang hidup di masyarakat itu, khusus dalam hal kasus silariang, bertolak belakang.
Di satu sisi, hukum adat menghalkan, membunuh si pasangan silariang dengan alasan siri' atau harga diri keluarga, dan tidak bisa dikenai hukuman karena eksekutor silariang dianggap sebagai pahlawan yang membela siri'-nya. Dalam novel ini, juga sangat kental atmosfer Bugis, percakapan keseharian masyarakat setempat menjadi bait-bait menghiasi setiap halamannya. Untuk itu, Oka Aurora berhasil mengemas fenomena yang hingga kini masih dijumpai pada masyarakat Bugis Makassar dalam gaya kekinian. Oka menegaskan cerita awal untuk film berupa sinopsis singkat, kemudian melakukan riset dan diskusi bersama produser film, Ichwan Persada.

Oka mengatakan alur novelnya menarasikan perjuangan cinta mereka setelah memilih silariang karena perbedaan kasta. Keduanya harus menghadapi sederet konsekuensi, baik konflik keluarga, penolakan masyarakat, maupun berbagai aspek lain. Namun, kisah-kisah silariang lainnya ada yang tidak cukup beruntung hingga berujung maut. "Novel bercerita tentang kisah cinta Yusuf dan Zulaikha. Yusuf adalah anak pengusaha sukses yang lebih memilih menjadi jurnalis, sementara Zulaikha berasal dari keluarga bangsawan keturunan Raja Bone. Novel ini memuat sejumlah tambahan dari apa yang tidak cukup tergambarkan dalam film, seperti detail penjelasan tradisi serta latar belakang cerita Yusuf dan Zulaikha," kata perempuan berhijab kelahiran Jakarta, 19 Juli 1975 itu.

Guna memastikan ketepatan konten yang terkait dengan budaya, Oka dan Ichwan menggandeng sejumlah pihak yang memahami betul budaya Bugis Makassar. Mereka mewawancarai pasangan pelaku silariang, imam yang pernah menikahkan pasangan silariang, akademisi, hingga pemangku adat. Begitu juga kombinasi latar alam Makassar yang cantik dan adat budayanya yang unik menjadi sesuatu yang layak untuk disajikan sebagai pengetahuan yang mumpuni bagi generasi muda saat ini. (M-2)

Komentar