Katalog Belanja

Bersiaplah makin Dimanjakan Peritel

Jum'at, 5 January 2018 10:04 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

Pengunjung memilih barang yang mendapat potongan harga di Senayan City, Jakarta, Sabtu (23/12)---ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

TAHUN lalu fenomena disrupsi oleh digitalisasi di segala bidang telah mengubah perilaku konsumsi masyarakat di banyak negara. Fenomena itu pun memaksa banyak peritel menutup atau mengalihkan gerai, sebagaimana terjadi pula di Tanah Air.

Tidak sedikit kalangan yang menduga hal itu akan terus berlanjut pada tahun ini. Namun, para peritel diprediksi kini telah mulai beradaptasi dengan tren disrupsi tersebut.

Periset bidang pemasaran sekaligus kontributor Forbes, Pamela N Danziger, bahkan mengemukakan, tahun ini akan menjadi tahun kebangkitan bagi retailer meski fenomena penutupan toko masih berlangsung. Sejumlah peritel menurutnya mulai bisa beradaptasi dengan tren disrupsi yang didorong teknologi dan digitalisasi tersebut.

Mengutip sejumlah pakar pemasaran dan eksekutif dunia, Danziger mengenai kesempatan yang bisa didapatkan dari adaptasi melalui integrasi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan pemanfaatan aplikasi. Peritel pun akan berupaya makin memanjakan konsumen lewat adanya pengalaman tambahan yang diberikan melalui saluran multikanal dan hubungan yang lebih personal dengan peritel.

“Pada 2018, peritel akan mempersepsikan ulang bisnisnya dengan kebutuhan. Hasrat konsumen yang pada saat ini bukan didorong oleh gairah untuk mendapatkan banyak barang, tapi hasrat mendalam untuk mendapatkan pengalaman tambahan dalam berbelanja. Itu yang akan diusahakan peritel,” katanya.

Ketersediaan multikanal dalam berbelanja, imbuh Danziger, yaitu keberadaan toko dan akses luas melalui implementasi toko daring akan menjamin konsumen mendapatkan pengalaman tersebut. Meski demikian, cepatnya perkembangan teknologi juga mesti dicermati, seperti sistem pembayaran dengan krypto currency semacam bitcoin atau metode digital lainnya.

Karena itu, Danziger menegaskan, tahun ini juga seyogianya menjadi momentum bagi peritel dalam transformasi teknologi untuk memperkuat sistem internal dan operasionalnya. Berikut juga dengan sistem logistik dan eksekusi yang efektif dalam sistem operasional perusahaan.

“Bisnis model yang inovatif akan muncul pada 2018 untuk meruntuhkan dominasi pemain lama. Toko masa depan ialah yang mampu berevolusi baik dengan keberadaan toko secara fisik maupun di jagat virtual,” ujar penulis buku Shops that POP! 7 steps to extraordinary retail succes itu.

Lebih banyak opsi
Senada dengan Danzinger, pakar pemasaran lain, John Karolefski menyebutkan, tahun ini, pemilik toko juga akan menawarkan banyak opsi pembelian dan pembayaran bagi konsumen. Selain itu, untuk mempertahankan loyalitas dan kunjungan konsumen, sejumlah toko juga akan menambah bar praktis di tokonya.

“Konsumen dapat mengharapkan sejumlah kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan setelah pemilik toko membuat berbelanja semakin mudah dan menyenangkan. Itu akan menjadi tren pada 2018,” kata Karolefski seraya menambahkan, sejumlah toko di Amerika Serikat mulai mempraktikkan hal tersebut.

Ia menyarankan, salah satu metode digital yang dapat menambah kepraktisan itu ialah dengan penyematan QR Code pada sejumlah produk yang dijual. Kode berbentuk kotak itu, bahkan bisa menambah kedalaman hubungan konsumen dengan produsen. Cukup dengan menggunakan ponsel guna memindai QR code, konsumen dapat mengakses latar belakang atau informasi terkait produk. Misalnya, akses ke informasi resep masakan pada produk pasta dan sebagainya.

Bagi generasi milenial yang sangat akrab dengan teknologi dan menyukai pengalaman baru, kemudahan tersebut tentu akan disambut baik. (Forbes/PRNewswire/S-2)

Komentar