BIG CIRCLE

Optimalkan Tanah Wamena

Jum'at, 5 January 2018 05:45 WIB Penulis: (Eno)

MI/ADAM DWI

DI tanah kelahirannya, Jayapura, Pieter Tan, 37, menemui banyak kebun kopi yang belum dioptimalkan petani. Dia kemudian sadar betul kekayaan sumber daya alam di Indonesia rupanya belum mampu secara linear meningkatkan kesejahteraan penduduknya secara menyeluruh. Perlu kerja keras membuat sumber daya alam bisa membuat sejahtera. Dia kemudian mencari solusi bagaimana caranya agar petani mau menanam kopi. Padahal, biji kopi banyak dihasilkan di kampung-kampung daerah Wamena. Buah kopi tidak terawat. Petani di Wamena tidak tertarik berkebun kopi lantaran harganya tidak menarik. Apalagi buah kopi tidak bisa langsung dijual ke pasar dan harus melalui proses pengeringan dan pengolahan yang memakan waktu satu bulan.

Pieter berkesimpulan hanya ada satu cara agar petani mau berkebun kopi, yaitu harus dihargai sesuai, setidaknya harga 1 kilogram kopi bisa membeli lebih dari 1 kilogram gula. Sejak saat itu, Pieter membeli biji kopi dengan harga 8 kali lipat lebih tinggi daripada harga normal.

Ia membeli kopi gabah dari petani, yang kemudian diproses sendiri. Kopi gabah menyusut hampir setengahnya. Pieter melakukan itu 2-3 tahun dengan sistem bayar langsung kepada petani. Dia juga memberikan insentif yang menarik. Pieter membeli hasil panen biji kopi dengan harga tinggi. Selain itu, ia memberikan edukasi kepada para petani kopi tentang cara meningkatkan kualitas biji kopi.

Tidak berhenti di situ, Pieter memberikan mesin pengupas buah kopi secara cuma-cuma kepada mereka hingga akhirnya biji kopi yang dihasilkan semakin baik. Di bawah bendera PT Garuda Mas, Pieter melanjutkan tongkat estafet bisnis sang ayah. Pieter Tan ialah generasi kedua bisnis kopi keluarga. Semula, ayah Pieter mengambil biji kopi dari Lampung dan Jawa ke Papua untuk dijual ke pasar kelas menengah. Setelah Pieter menyelesaikan pendidikannya, ia pulang ke Jayapura dan melihat tidak ada petani yang berkebun kopi.
Kini lulusan S-1 ilmu komputer Universitas Mikroskill, Medan, itu telah memberdayakan 500 petani di Papua dengan kapasitas produksi 40 ton kopi per tahun. Ia mendirikan sekolah barista di Papua bagi anak muda yang ingin mengasah kemampuannya menjadi barista sebagai bekal skill untuk bekerja di hotel-hotel atau restoran. (Eno)

Komentar