Inspirasi

Juaranya, Batik Autentik dan Organik

Kamis, 4 January 2018 12:40 WIB Penulis: Siswantini Suryandari

DOK PRIBADI

DILAHIRKAN dalam kultur pencinta dan perajin batik, Krisni Kuntari sudah tertarik menekuni tradisi ini sejak belia.

Di awal, ia hanya membatik untuk menuangkan cintanya pada seni ini, belum terpikir mengembangkan bisnis.

Pun, setelah lulus dari akademi sekretaris, Kuntari, sapaan akrabnya, memilih beranjak ke bisnis salon kecantikan dan kuliner.

Namun, ketika putra semata wayangnya, Sulchan Purnama Saputra berusia 10 bulan, suaminya, Purnomo wafat, tepatnya pada 1994.

Kondisi itu mengubah segalanya. Kuntari harus menghidupi dan membesarkan anaknya sembari tinggal bersama ibunya.

Beberapa tahun kemudian, ia mulai tertarik kembali ke dunia batik, kali ini dengan gairah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan bisnis sebelumnya.

"Meski saya sudah terbiasa membatik karena lingkungan keluarga, tapi saat memutuskan menyeriusinya, saya mulai lagi dari nol. Saya sering datang ke Balai Batik Yogyakarta untuk mendalami sejarahnya, filosofi, serta teknik membatik dan sebagainya," ujar Kuntari mengawali perbincangan dengan Media Indonesia, Sabtu (30/12/2017).

Dari lima bersaudara, hanya Kuntari yang tekun membuat batik.

"Saya dianugerahi talenta membatik lebih, dibandingkan saudara-saudara lainnya. Jadi, saya yang mewarisi bakat orangtua," ujarnya.

Merintis

Bisnis batik ia tekuni sejak September 2014 dengan mencari sendiri bahan-bahan membuat batik, mulai kain mori berkualitas prima, aneka peranti seperti canting, malam atau lilin, hingga pewarna alami, sedangkan motif atau pola, ia rancang sendiri, berbasis alam, seperti bunga, daun, kupu-kupu, batu, dan lainnya.

Ia pun bergerilya mencari pembatik dan ahli pewarna yang sudah berpengalaman.

"Tenaga pembatik cukup banyak, tapi yang mampu menghasilkan batik halus dan bagus terbatas. Saya pertahankan pembatik berkualitas ini, mereka kerja berkelompok, di rumah masing-masing. Saya juga mencari tenaga mumpuni dalam pewarnaan yang mampu mewujudkan jenis warna yang saya inginkan."

Kendati Yogyakarta tersohor sebagai kota batik, mencari pembatik yang bermutu ternyata sulit.

Kini, ia hanya memiliki tim dengan tujuh pembatik, termasuk pembuat warna.

"Umumnya pembatik-pembatik yang ada sekarang ini masih belum menguasai teknik membatik tulis halus klasik."

Minimnya kualitas SDM batik, kata Kunatri, juga menjadi tantangan para pengusaha lainnya, di tengah persaingan industri batik di Yogyakarta.
Spesialisasi tulis klasik

Batik Kuntrai dengan merek Wahyu Tumurun mengambil spesialisasi tulis klasik Yogyakarta.

"Batik, seni dan alam menjadi sebuah sinergi sehingga seni ini sarat filosofi. Maka, tradisi ini sangat perlu dilestarikan agar berkesinambungan," harapnya.

Untuk membuat satu lembar kain batik tulis klasik, lanjut Kuntari, bisa menghabiskan dua hingga tiga bulan.

"Cukup njelimet, tapi harganya cukup bagus, harga rata-rata satu lembar kain batik tulis klasik Rp3,5 juta."

Senantiasa organik

Kuntari pun senantiasa menjaga komitmennya pada pewarna organik. Ia pun menjadi anggota dari komunitas organik.

Pun, batik dengan pewarna alam jauh disukai jika dibandingkan dengan kimia.

Kini, pewarna batik organik telah banyak dijual di toko peralatan batik.

"Sebenarnya, pewarna alami dari sekitar kita juga bisa dipakai, sedangkan yang dijual di toko terbuat dari kayu mahoni, tinggi, teheran, pasta indigo, kulit buah jolawe, dan lainnya," ujar Kuntari yang juga terbiasa membuat sendiri pewarna dari tanaman di pekarangan rumahnya.

"Bahan-bahan alami itu kita buat ekstraknya, dan supaya tidak luntur, harus kita kunci atau fiksasi dengan tawas, kapur, dan tunjung," papar Kuntari.

Penetapan UNESCO berujung kompetisi

Kendati telah eksis di bisnis batik dengan pewarna alam di Yogyakarta, Kuntrai menegaskan, ada banyak tantangan yang harus ia hadapi.

Bahkan, sejak batik diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada 2 Oktober 2009, jumlah pengusaha terus bertambah, termasuk di Yogyakarta hingga pada 2014 mencapai 300-an.

Pada 2018, jumlah itu diperkirakan Kuntrai terus bertambah, sehingga persaingan terbilang ketat, hingga tidak sedikit yang saling menjatuhkan.

"Celakanya yang jadi sasaran, pengusaha-pengusaha batik yang berkualitas dan bagus," ujar Kuntari tentang pengalamannya, saat karyanya akan diajukan untuk cendera mata Kementerian Perindustrian melalui Balai Batik pada Oktober 2014 yang seleksinya diikuti ratusan perajin.

"Batik beserta kartu nama saya disembunyikan, untungnya ketahuan. Saya bersyukur, sebagai pendatang baru, ternyata karya saya satu-satunya yang terpilih," ungkapnya.

Iklim persaingan tak sehat, lanjut Kuntari, pun tecermin dari menjamurnya tekstil bermotif batik.

"Batik adalah sebuah proses produksi dengan cara membatik, menggunakan canting yang diisi malam (lilin), kemudian malam dituangkan ke kain sehingga dikenal batik tulis, cap, dan perpaduan cap dan tulis. Tapi sekarang, yang menjamur itu printing, kain ini bukan batik, namun menjamur di hotel dan mal. Kalau yang paham akan tahu mana yang asli dan palsu." jelasnya.

Sebaliknya, kata Kuntari, mereka yang tak paham batik, rentan keliru mengenali, apalagi perbedaan harganya jauh sekali. (Nda)

Biodata

Nama: Krisni Kuntari
Tempat, tanggal lahir: Yogyakarta, 7 Oktober 1967
Anak: Sulchan Purnama Saputra
Pendidikan: Budya Wacana Secretary College Yogyakarta
Pekerjaan: Pemilik Usaha Batik Wahyu Tumurun
Organisasi :
- Ketua Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara (APBTN) Cabang Bantul
- Wakil Sekretaris APBTN Daerah Istimewa Yogyakarta
- Anggota Komunitas Organik Indonesia (KOI) DIY-Jawa Tengah
- Seksi pengajar pada organisasi Masyarakat Pertanian Organik Indonesia

Komentar