Travelista

Pelesir dan Belajar di Jantung Kalimantan

Ahad, 31 December 2017 18:00 WIB Penulis: Aries Munandar

MI/ARIES MUNANDAR

DERU longboat 40 pk yang dikemudikan Syafaruddin berhenti pas di persimpangan Sungai Mentibat. Perahu bermotor itu kemudian ditambat di daratan yang menyerupai tanjung berhamparan batu kali. Satu per satu penumpang pun turun untuk beristirahat siang sebelum melanjutkan petualangan berikutnya.

Perjalanan pada Kamis di pengujung Oktober tersebut merupakan lanjutan dari trip jelajah Betung Kerihun, kawasan taman nasional di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perjalanan journalist trip 25-27 November lalu itu dimulai dengan menyusuri daerah aliran Sungai Mendalam, dilanjutkan bermalam di Dusun Nangahovat, Desa Datah Diaan.

Mentibat merupakan satu dari cabang atau anak Sungai Mendalam. Sungai itu juga sekaligus menjadi pintu masuk ke Betung Kerihun dari jalur timur, selain daerah aliran Sungai Kapuas. Mentibat berarus deras dan jernih. Serombongan ikan hingga bebatuan di dasar sungai tampak jelas dari permukaan air.

Kami pun tergoda untuk menceburkan diri agar lebih menyatu dengan kejernihan dan kesegaran di depan mata. Berenang, menyelam, dan berendam di sungai hingga tubuh menggigil kedinginan. Seteguk-dua teguk air yang membasahi kerongkongan menggenapi kesegaran.

Serangga penanda waktu

Mentibat tidak hanya menawarkan kejernihan dan kesegaran sungainya. Gemericik air di antara bebatuan menghadirkan melodi alam pengusir penat. Alunannya semakin jernih terdengar, bahkan bergemuruh manakala suasana mulai merambat sunyi di pengujung sore.

Malam memang lebih cepat menjelang dan fajar lebih awal menyongsong di Betung Kerihun. Matahari mulai meremang sekitar pukul 17.00 WIB, dan kembali beranjak benderang sekitar pukul 05.00. Namun, kesunyian pada saat petang sesekali dipecahkan keriuhan suara satwa yang melintasi hutan untuk pulang ke sarang.

Di antara keriuhan itu, sebuah lengkingan khas tiba-tiba bergema dari balik kerimbunan hutan. Suaranya mirip jangkrik atau keriang, tetapi lebih nyaring dan beritme lebih lama. Belakangan kami mengetahui bahwa lengkingan itu merupakan suara belalang pohon.

"Mereka hanya muncul sekitar pukul 05.00 dan pukul 17.00 sehingga dijadikan penanda waktu oleh warga untuk turun dan pulang berladang," jelas Staf Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS) Badrul Arifin, yang menjadi pemandu kami.

Menara air

Betung Kerihun membentang sekitar 800 ribu hektare di timur hingga utara Kapuas Hulu. Keberadaannya sangat vital bagi kelangsungan hidup dan keseimbangan ekosistem regional. Ia menjadi penyuplai air bagi Kapuas, sungai utama di Kalimantan Barat dan sekaligus terpanjang di Indonesia.
Keberadaan dan fungsi kawasan hutan hujan tropis di jantung Kalimantan ini juga tidak bisa dilepaskan dari Sentarum. Danau seluas 120 ribu hektare tersebut juga merupakan taman nasional di utara Kapuas Hulu. Pengelola kedua kawasan ini pun belakangan disatukan menjadi Balai Besar TNBKDS.

"Suplai air dari Betung Kerihun ditampung Sentarum. Jadi, Betung Kerihun itu ibarat menara airnya sungai Kapuas," terang Badrul.

Betung Kerihun dikelilingi empat daerah aliran sungai (DAS) yang sekaligus menjadi jalur masuk ke kawasan. Selain Mendalam dan Kapuas di timur, ada DAS Sibau dan Embaloh di utara. Dibutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke Mentibat di perhuluan Mendalam dari ibu kota Kapuas Hulu di Putussibau.

Mendaki jeram

Perjalanan menuju Mentibat cukup menantang. Kami harus mengarungi sungai beriam dengan posisi melawan arus deras. Longboat pun seperti menyusuri lautan karena sungai berombak besar. Alur sungai semakin mengecil hingga kurang dari 3 meter di beberapa titik. Bahkan ada yang pas-pasan untuk dilewati sebuah longboat.

Syafaruddin, sang juru mudi, harus lihai bersiasat. Selain menantang arus deras dan ombak, dia mesti menghindari jebakan pusaran air. Syafaruddin juga harus sigap memilih alur sungai agar longboat tidak kandas. Aba-aba dari Kamarsyah, yang duduk di ujung longboat sebagai navigator, selalu diperhatikannya.

Alur sungai di perhuluan Mendalam termasuk dangkal walaupun dalam kondisi pasang. Hamparan batu besar dan kecil bahkan bisa menutupi hingga separuh badan sungai. Jalan longboat pun sering kali merayap dan mendaki. Kamarsyah, yang karib disapa Pak Ndut, kerap menjejakkan kayuh ke dasar sungai agar longboat terdorong ke depan.

Keanekaragaman hayati

Betung Kerihun bertopografi perbukitan yang menghubungkan Bukit Betung dan Kerihun. Dataran tinggi ini bagian dari pegunungan Muller, bentangan yang menjadi batas alam antara daratan Indonesia dan Malaysia. Sungai-sungai utama di Kalimantan juga berhulu di pegunungan Muller.

Betung Kerihun menjadi habitat bagi 301 spesies burung, 112 spesies ikan, dan 48 spesies mamalia. Menetap pula sebanyak tujuh spesies primata beserta 103 spesies reptil dan amfibi. Selain itu, ada 695 spesies pohon dari 15 marga dan 63 suku merimbuni Betung Kerihun. Sebanyak 50 spesies di antaranya endemik Kalimantan. Jadi, dengan menjelajahinya, kita berpelesir sekaligus belajar banyak tentang berkah alam. (M-1)

Komentar