Tifa

Berteguh dalam Mooi Indie

Ahad, 31 December 2017 05:31 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi abdizuqi@mediaindonesia.com

MI/ABDILLAH M MARZUQI

MEMILIH objek alam tentu bukan soal gampang dalam dunia seni lukis Indonesia. Lukisan dengan tema itu telah mendapati stigma tersendiri di kalangan pemerhati seni lukis. Lukisan itu menghadapi pandangan umum yang mencemooh lukisan pemandangan alam dengan julukan mooi indie atau Hidia molek. Istilah itu akrab disematkan kepada salah satu maestro lukis Indonesia penentang mooi indie, yakni Sudjojono. Itulah yang menjadikan menarik ketika seniman dengan berani berdiri berpamer dengan karya tentang pemandangan alam. Bunawijaya adalah seniman yang berpamer dalam tajuk Menghadapi Stigma Mooi Indie di Galeri Nasional Indonesia 19 Desember hingga 5 Januari 2017. Dalam gelaran itu, sebanyak 47 karya dipajang dengan Jim Supangkat sebagai kurator.

Bunawijaya melukis pemandangan alam karena ia pencinta alam. Dua puluh tahun lalu, Bunawijaya masuk dunia seni rupa. Tujuannya jelas, ia ingin menampilkan keindahan alam melalui lukisan pemandangan alam. Di sisi lain, dengan keinginginan itu, Bunawijaya harus berhadapan dengan stigma mooi Indie. Bunawijaya lebih dulu dikenal di bidang olahraga dan bisnis. Awal Bunawijaya menjadi pelukis karena ia kenal seorang seniman di Bandung yang menjadi temannya berburu. Bunawijaya tidak pernah menjalani pendidikan formal dl bidang seni rupa. Ia juga tidak bergaul dengan para seniman sebelumnya.

Bunawijaya bukan pula seorang kolektor yang biasanya dekat dengan para seniman. Karena itu, Bunawijaya tidak mengenal berbagai wacana seni rupa. Bunawijaya memahamai seni dan karya seni dengan caranya. Bunawijaya memutuskan terus melukis berdasarkan keyakinannya. Ia pun berhasil bertahan. Menurut Jim Supangkat dalam kuratorial, pada awal perkembangan lukisan-lukisannya, Bunawijaya masih terlihat melukis berdasarkan kecintaan pada alam yang menjadi saluran bagi pengalaman merasakan keindahan. Namun, Bunwaijaya tidak berhenti di sini. Renungannya tentang alam menyuruk lebih dalam dan melampaui keindahan yang hanya membangkitkan rasa senang.

Peristiwa yang bisa dicatat menandai perubahan ini, yakni semburan lahar panas Gunung Merapi pada 2010. Bunawijaya berangkat ke Yogyakarta untuk melihat dari dekat kondisi alam di Merapi. Sebagai pencinta alam ia terperangah melihat kerusakan yang terjadi. “Saya merasakan alam seperti bernapas dan menyadari bukan cuma kita saja, manusia dan binatang yang bernapas di bumi ini,” katanya dalam catatan kuratorial Jim Supangkat.

Dari pengalaman itu, Bunawijaya membuat sejumlah lukisan yang memperlihatkan sisi lain alam yang membuatnya terkejut. Lukisannya. Luka masih Membara (2011) didominasi warna merah kecokelatan. Lukisan itu memberi kesan panas yang menjalar dan menguasai permukaan bumi. Batang-batang pohon yang tidak lagi bercabang dan berdaun menandakan kemusnahan. Lukisan lain berjudul Energi di Kaki Merapi (2010), Bunawijaya melukis Gunung Merapi di kejauhan sebagai latar belakang. Merapi seperti diam dalam kelelahan di hadapan dataran gersang abu-abu di mana batu-batu lahar berserakan.

Lukisannya Energi yang Abadi (2012) menandai kemunculan renungan yang mendalam tentang alam. Bunawijaya mengisahkan pengalamannya menemukan sebuah kawasan di lereng Gunung Merapi yang sudah memunculkan kembali kehijauan tanaman dan menandakan proses pemulihan yang sangat dini. “Dari kenyataan ini ia sampai pada renungan tentang infinity pada ruang alam, ruang yang tidak dibatasi waktu. Ia yakin alam yang tecermin pada kehidupan vegetatif berada di ruang infinity ini,” terang Jim.
Renungan itu menandai perkembangan bermakna pada lukisan pemandangan alam Bunawijaya. Sesudah 2015 lukisan-lukisannya memperlihatkan perhatian pada langit, awan, dan horizon. Untuk menampilkan ketiganya, ia mulai menjelajahi seascape, idiom yang sering digunakan untuk menampilkan misteri alam. Ia meninggalkan idiom yang lazim digunakan untuk menyajikan keindahan yang membangkitkan rasa nyaman, yakni lanskap. Bersamaan dengan ini Bunawijaya meninggalkan periode terikat pada sketsa-sketsa alam yang dibuatnya ketika berhadapan langsung dengan kenyataan.

Lukisan seascape
Bunawijaya tidak lagi merasa harus menjelajahi alam untuk mencari objek lukisan. Untuk melukis ia mulai mencari tanda tanda alam melalui literatur dan hasil fotografi di jaringan internet. “Kecenderungan baru itu membuat lukisan-lukisan Bunawijaya sesudah 2015 tidak lagi menyalin realitas alam. Lukisan-lukisannya menampilkan rekaan realitas alam yang tidak ada dalam kenyataan,” sambung Jim. Bisa ditenggok dalam pameran ini Bunawijaya interaksi dengan seniman video Eldwin Pradipta. Pada karya berjudul New Seascape (2017), Eldwin Pradipta mengangkat gambaran pada seri lukisan seascape Bunawijaya, Lingkaran Kaki Langit I–V pada kurun 2016-2017. Eldwin Pradipta membuat sebuah proyeksi video yang dipancarkan ke lantai dalam bentuk lingkaran 3,5 meter. Eldwin Pradipta menggerakkan awan, riak-riak laut, dan ombak yang menerpa batu karang di pusat seascape. Rekaan realitas yang tidak ada pada kenyataan dikembangkan Eldwin Pradipta.

Pada perkembangan paling akhir, lukisan-lukisan seascape Bunawijaya menjadi semakin gelap. Ia tiba-tiba tertarik untuk menampilkan gerhana bulan maupun gerhana matahari. Lalu, ia membuat sejumlah lukisan yang menampilkan bulan dalam berbagai kondisi dramatik yang tecermin pada suasana langit. Sesudah itu bulan dalam lukisannya menjadi semakin besar, bahkan menguasai seluruh bidang kanvas dan membawa kesan kuat bermakna simbolis. Salah satu lukisan dengan kecenderungan itu ialah Bulan Menghampiri Gedung MPR-DPR (2017). “Semua gejala ini menunjukkan, lukisan-lukisan Bunawijaya sudah jauh dari sekadar menyalin realitas alam. Ungkapan pada karya-karya Bunawijaya, kendati masih membawa tema alam, bisa ditegaskan berpangkal pada ide dan imajinasi di mana pengalaman merasakan keindahan bisa lebih intensif bersentuhan dengan renungan, bahkan pemikiran,” pungkas kuratorial Jim Supangkat. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar