KICK ANDY

Hani Sutrisno Gerbang Dunia bagi Warga Dusun

Jum'at, 29 December 2017 23:16 WIB Penulis: (Sumaryanto Bronto/M-3)

MI/SUMARYANTO BRONTO

DUSUN Parakan, Desa Ngargogondo, Magelang, Jawa Tengah, tidak berbeda dengan dusun umumnya. Terletak jauh dari kota dan masyarakat berpenghidupan dari berladang. Namun, saat mendengar anak-anak dusun itu berceloteh, tidak jauh berbeda dari anak kota besar yang berpendidikan sekolah internasional. "Hi, how are you today?" sapa Fitria, salah satu bocah dusun itu yang berusia 9 tahun. Tanpa ragu sapaan itu dilontarkannya pada pendatang. Obrolan cas-cis-cus juga dilakukan teman-temannya dan di antara mereka sendiri.

Meluasnya penggunaan bahasa Inggris di dusun yang berjarak 3 kilometer arah tenggara Candi Borobudur, Jawa Tengah, pun membuat lokasi itu dijuluki Desa Bahasa Borobudur. Metode pembelajaran bahasa Inggris yang dilakukan di sana kini menjadi acuan berbagai lembaga pendidikan bahasa Tanah Air. Bahkan tiga profesor Jepang sengaja datang untuk melakukan penjajakan kerja sama penerapan konsep Desa Bahasa Borobudur untuk negara mereka. Pelopor desa bahasa itu adalah putra asli Borobudur kelahiran 1974, Hani Sutrisno.

"Desa bahasa ini lahir berawal dari keprihatinan para pemuda di sini. Waktu itu sekitar pertengahan 1998, kita prihatin akan kondisi dusun. Kita memiliki Borobudur, turis asing berdatangan setiap saat. Namun, kita sama sekali tidak bisa menyentuh karena terkendala persoalan bahasa," ujar Hani. Hani memang memiliki keterampilan bahasa Inggris yang mumpuni. Ia merupakan pendiri pusat pendidikan bahasa Inggris Spec (Simpel dan Cepat) pada 2008. Selain sebagai praktisi bahasa Inggris, Hani seorang penulis yang produktif. Bukunya, Vocabulary for Daily Conversation (2012), pernah menjadi buku best seller di kategori bahasa.

Buku bahasa Inggris lainnya yang ia tulis dan diterbitkan di Indonesia Tera yaitu Pintar Jari Tenses (2014), Fun Vocabulary for Daily Conversation (2014), How to Master Vocabulary for Daily Conversation (2015), Cepat Kuasai Kosakata Bahasa Inggris tanpa Banyak Mikir ala Desa Bahasa Borobudur (2016), dan 6 Hari Lancar Cas Cis Cus Bahasa Inggris ala Desa Bahasa Borobudur (2016). Di mata Hani, keterampilan berbahasa asing bisa menjadi modal hidup bagi setiap orang. Karena itu, ia selalu berusaha menyebarkan keterampilan berbahasa Inggris.

Anak petani
Manfaat besar dari mahir berbahasa Inggris telah dibuktikan Hani sendiri. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang berasal dari keluarga petani. Berpulangnya sang ayah di saat ia masih duduk di kelas 2 SD membuat Hani sekeluarga harus berjuang untuk menyambung hidup. Ingin meringankan beban keluarga, Hani memilih berjualan postcard di Borobudur sejak SMP. Saat seorang wisatawan asing menanyakan apakah dirinya juga seorang pemandu wisata, Hani tidak ragu memanfaatkan peluang berbekal brosur dari dinas pariwisata.

Hani mengenang pada pertengahan era 80-an itu pemandu wisata di Borobudur memang sangat minim, hanya berkisar tiga orang. "Turis asing tidak mengindahkan kalimat yang semestinya, yang terpenting saat menghadapi wisatawan yang berani ngomong, mengerti, dan sopan," ujar Hani. Ia mengaku jargon andalannya saat berjualan pun hanya kalimat 'Buy me, Sir'. Setelah lulus MA di Jombang, dia mengumpulkan uang dengan bekerja di pabrik konveksi di Bandung selama empat tahun. Kemudian, barulah ia bisa mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan di Basic English Course (BEC) di Pare, Kediri.

Setelah lulus dan mengantongi sertifikat, pada 1998, Hani pulang ke Desa Ngargogondo dengan membawa tekad membagi ilmu kepada warga desanya. Hani dan kawan-kawan yang sevisi meminta para orangtua di kampung mereka ikut kursus. Tujuannya untuk memancing anak-anak belajar bahasa Inggris. "Anak-anak tentu malu, masak orangtua mereka saja belajar bahasa Inggris, sedangkan mereka tidak. Dan ini terbukti, bahkan setelah tiga kali pertemuan, para orangtua juga ingin tambah jam belajar agar anak mereka semakin giat belajar," ujar Hani.

Suasana pelatihan dibuat informal dengan ruang kelas berbentuk lesehan. Sesekali anak-anak juga dibawa ke Candi Borobudur untuk bertemu dengan turis asing dan mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris. "Regenerasinya sangat bagus. Siswa SLTP atau SLTA di kampung ini sudah bisa menjadi pengajar," tambah Hani. Di tengah perjalanan, Hani mulai ragu, apakah kursus ini dapat terus berjalan tanpa ada dukungan pembiayaan. Dengan pertimbangan itu, ia lalu membuka lembaga pendidikan kursus (LPK) Simple English Course (Spec). Sebagian dana yang didapatkan dari lembaga ini dipakai untuk membiayai kursus gratis di Desa Ngargogondo.

Hingga kini sistem subsidi silang ini masih terus berjalan. Dari sebagian pendapatan kursus bahasa Inggris, Hani menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial. Hani membiayai pendidikan para stafnya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, ia juga merekrut anak-anak kurang mampu untuk belajar berbagai keterampilan selama satu tahun secara gratis. Mereka hanya dibebani uang makan. Hani juga membuat program homestay di 30 rumah di desa itu. Agar rumah warga layak, Hani membantu renovasi kamar mandi dengan menyediakan kloset.

Ia juga memberi kasur pada warga. Tidak hanya itu, dibangun pula beberapa kamar untuk dijadikan praktik perhotelan bagi anak dusun. Ia telah membuktikan bahwa gerbang dunia terus terbuka lewat keterampilan bahasa.

Komentar