KICK ANDY

Untung Subagyo Melewati Keterbatasan lewat Prestasi Angkat Berat

Jum'at, 29 December 2017 23:00 WIB Penulis: Sumaryanto Bronto

MI/SUMARYANTO BRONTO

DI area belakang sebuah rumah di Siyono Kulon, Desa Logandeng, Kecamatan Playen, Gunung Kidul, tampak orang-orang serius berlatih angkat berat. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami keterbatasan fisik, tetapi semangat mereka tidak kalah dengan yang lain.
Semangat dan kesetaraan itulah yang tampak ditularkan sang pelatih sekaligus seorang penyandang disabilitas, Untung Subagyo. Ia telah membuktikan diri sebagai atlet berprestasi dan kini seorang pelatih bertangan dingin. Untung berhasil menorehkan nama sebagai juara tiga kejuaraan angkat berat Pekan Olahraga Penyandang Cacat Nasional (Porcanas)--sekarang Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) di Kalimantan Timur.

Pada 2012, Untung meraih emas dan memecahkan rekor angkat besi nasional di Peparnas Riau. "Anak didik saya telah menorehkan prestasi di tingkat lokal. Satu atlet difabelnya masuk empat peringkat nasional, sedangkan atlet nondifabel selama tiga kali pelaksanan Porda meraih 1 emas, 5 perak, dan 12 perunggu," ujarnya dalam acara Kick Andy. Saat ini penyandang disabilitas yang berlatih di halaman belakang rumahnya mencapai puluhan. Mereka datang dari berbagai daerah, yakni 6 orang dari Gunung Kidul, 1 orang dari Prambanan, 1 orang dari Yogyakarta.

Sementara itu, atlet nonpenyandang disabilitas mencapai 24 orang yang dipersiapkan untuk event Porda DIY yang berlangsung dua tahunan. Kesemua atlet itu diperbolehkan berlatih tanpa dipungut biaya. Semua ini dilakukan Untung demi menunaikan janjinya. "Sudah menjadi janji saya, kalau sukses di olahraga ini akan membagi ilmu," tutur pria yang kini menjabat Ketua National Paralympic Committee (NPC) Gunung Kidul itu. Perjalanan Untung hingga berprestasi di olahraga tersebut memang berliku dan penuh tantangan. Beruntung ia bertemu dengan sosok-sosok yang terus menaruh keyakinan padanya.

Selain kedua orangtuanya, sosok penting tersebut adalah alm Heriyantoro, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Gunung Kidul yang kala itu masih menjadi atlet angkat berat. Alm Heriyantoro menawarkan kepada Untung untuk menjajal olahraga tersebut.

Polio
Untung menuturkan keterbatasan fisiknya berawal dari sakit panas di usia satu tahun.Tempat tinggal yang berada di pedalaman dan belum terjamah oleh akses kesehatan membuat orangtua Untung hanya membawanya ke dukun dan orang pintar. Sakit itu membuat kedua kaki pria kelahiran 2 Desember 1976 tersebut tidak bisa berfungsi secara normal. Setelah masuk SD, barulah Untung diketahui menderita polio. Beruntung, meski serbaterbatas, kedua orangtua Untung adalah pribadi-pribadi yang gigih. Mereka menyemangati sang bocah untuk terus bersekolah bahkan hingga menggendong Untung ke sekolah.

"Saya waktu SD di sekolah berjalan dengan bantuan keranjang, kelas 5 saya baru dapat bantuan kruk," kenang Untung. Ia juga mengaku dididik mandiri sehari-hari. Untung pun rutin turun ke sawah untuk membantu orangtua bertani. Kehidupan yang tangguh itu sukses mengantar Untung bersekolah hingga sekolah menengah kejuruan (SMK) di sekolah umum. Setelah lulus SMK, Untung bekerja sebagai penjaga wartel dengan bayaran Rp200 ribu per bulan. Untuk menambah keterampilan, ia mengikuti kursus menjahit pada siang hari.

Nahas, suatu hari saat pulang dari kursus menjahit, Untung mengalami kecelakaan motor. Dari peristiwa itu, Untung berpikir untuk mencari kegiatan yang lebih aman. Saat itulah ia mendapat tawaran dari alm Heriyantoro. Setelah berlatih selama enam bulan, Untung langsung bisa menorehkan prestasi. Sejak 2012, Untung terpanggil untuk menjadi pelatih angkat berat. Untung juga menjadi tenaga administratif di Sekolah Dasar Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Selain itu, Untung aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Merelakan uang bonus

Tempat dan peralatan berlatih yang ada di rumah Untung nyatanya buah tabungan sendiri. Tempat latihan dibuat setelah Untung mendapatkan bonus Rp40 juta dari menggapai medali emas di Riau. "Pada 2012, saat mendapatkan medali emas dan berhasil memecahkan rekor mendapat bonus sebanyak Rp40 juta, Rp20 juta untuk bangun rumah, Rp20 juta untuk beli alat," ujar Untung. Untung berharap, anak didiknya yang penyandang disabilitas bisa menorehkan prestasi dan dapat mandiri layaknya orang normal. Untung juga berharap keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas tidak disembunyikan.

Jika ada kesempatan ke daerah-daerah di wilayah Gunung Kidul, Untung selalu menyosialisasikan pentingnya memberi kesempatan bagi kaum penyandang disabilitas mengembangkan diri, salah satunya lewat olahraga. Bagi Untung, semua orang baik penyandang disabilitas maupun yang normal sama-sama memiliki kemampuan berprestasi. Malah, menurut Untung, penyandang disabilitas memiliki motivasi yang lebih jika dibandingkan dengan orang normal. Karena itu, motivasi tersebut harus disalurkan dengan cara yang baik. Memang tidak mudah menjadi seorang penyandang disabilitas.

Namun, dengan kemauan yang keras, semua halangan dapat diatasi dan dapat juga menorehkan prestasi. Lebih dari itu, penyandang disabilitas juga dapat hidup mandiri. Untuk lebih banyak merekrut atlet baik dari kaum penyandang disabilitas maupun yang normal, Untung berencana mendirikan tempat latihan yang mudah diakses dengan angkutan umum. Rumah Untung yang selama ini digunakan sebagai tempat latihan berada jauh dari jalan raya. Lokasi itu kerap menyulitkan penyandang disabilitas yang tidak memiliki kendaraan.
(M-3)

Komentar