Kesehatan

Cegah Selfitis, Kecanduan Berswafoto

Rabu, 27 December 2017 04:45 WIB Penulis: (*/H-3)

thinkstock

SAAT ini, swafoto atau selfie sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hal itu terjadi seiring dengan berkembangnya media sosial dan teknologi ponsel pintar (smartphone). Bagi sebagian orang, selfie memang memberikan kesenangan tersendiri. Namun, hati-hati jika kegemaran selfie sudah mengarah pada kecanduan.

Mengutip penelitian yang dilakukan tim Janarthanan Balakrishnan dari Nottingham Trent University, praktisi kesehatan Ari Fahrial Syam menyampaikan ada enam motivasi mengapa seseorang melakukan selfie. Yaitu, meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia setelah melakukan selfie, mencari perhatian, meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar mereka, serta bisa juga untuk berkompetisi secara sosial.

"Jadi, di satu sisi jelas bahwa selfie membawa dampak positif untuk mental seseorang. Akan tetapi, jika selfie dilakukan secara berlebihan sehingga mereka menjadi obsesif untuk selalu mengambil gambar selfie dan melakukan upload, ternyata dikelompokkan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis," papar Ari yang baru saja terpilih sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, melalui keterangan tertulis.

Selfitis sebagai suatu penyakit dibagi menjadi tiga tingkat. Pertama, borderline, yakni mengambil gambar selfie sebanyak tiga kali dalam sehari tetapi tidak diunggah ke media sosial. Kedua, akut. Yakni mengambil foto selfie sebanyak tiga kali dalam sehari dan mengunggah seluruh foto itu ke media sosial. Ketiga, kronis. Yakni jika keinginan membuat foto selfie tidak terkendali dan mengunggah ke media sosial lebih dari enam kali per hari.

"Di era berkembangnya teknologi gadget, kita harus menyikapi dengan bijaksana dan proporsional dalam melakukan selfie. Tetap harus fokus dan aktivitas selfie ini jangan sampai mengganggu aktivitas rutin kita sehari-hari," pesan Ari. (*/H-3)

Komentar