Kesehatan

Nutrisi Cukup, Janin dan Ibu Sehat

Rabu, 27 December 2017 04:01 WIB Penulis: Indriyani Astuti indriyani@mediaindonesia.com

Ist

KEHAMILAN ialah saat membahagiakan bagi pasangan suami istri, khususnya ibu atau calon ibu. Namun, selama masa kehamilan berlangsung, ibu hamil harus memperhatikan kecukupan nutrisi agar janin berkembang sehat. Kecukupan nutrisi untuk janin harus dilakukan sejak terjadinya konsepsi (pembuahan) karena pembentukan organ pada janin terjadi sejak masa konsepsi. Periode emas pada anak yaitu usia nol (dalam rahim) sampai 1.000 hari masa kehidupan.

Menurut spesialis gizi Julia Dewi Nerfina dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur, Jawa Barat, masa kehamilan trimester pertama merupakan masa sangat penting karena di masa itu pembelahan sel janin untuk pembentukan organ terjadi sangat cepat.
Dua zat gizi yang paling penting di trimester pertama ialah zat besi dan asam folat. Selama ibu hamil, kebutuhan zat besi (Fe) meningkat karena volume darah ibu meningkat. Ia lalu membandingkan kebutuhan Fe pada perempuan dewasa adalah 14-16 gram, tetapi pada ibu hamil ditambah 20 gram.

Begitu pula kebutuhan asam folat. Untuk ibu hamil, kebutuhan zat tersebut mencapai sekitar 600 mikrogram. Kekurangan dua zat tersebut, ujarnya, dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada janin. "Kekurangan atau defisiensi asam folat dapat menyebabkan spinabifida, yaitu tidak tertutupnya selubung saraf tulang belakang bayi," kata Julia dalam diskusi Forum Ngobras bertajuk Nutrisi Tepat untuk Kehamilan (Janin) yang Tepat di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain zat besi dan asam folat, zat lain yang penting bagi ibu hamil adalah kalsium. Kebutuhan kalsium pada ibu hamil umumnya 1.000 mg/hari dan dapat dicukupi dengan mengonsumsi makanan sumber kalsium seperti susu dan produk turunannya. "Untuk membantu penyerapan kalsium di saluran cerna, dibutuhkan vitamin D," ucapnya. Ia juga memaparkan jumlah penambahan energi pada trimester pertama kehamilan lebih kurang 180 kalori, sedangkan di trimester kedua dan ketiga sekitar 300 kalori. Ibu hamil mengalami mual dan muntah pada trimester pertama yang dapat menjadi masalah dalam asupan nutrisi. Julia menyarankan, untuk menghindari mual, ibu hamil agar memilih makanan rendah lemak, mengurangi makanan dengan bumbu merangsang, dan hindari minum terlalu banyak sebelum makan. Ia juga menyarankan makanan yang dikonsumsi ibu hamil dibuat lunak sehingga mudah ditelan. "Tata laksananya, konsumsi makanan dalam porsi kecil, tetapi sering, untuk menghindari mual dan muntah," terangnya.

Risiko preeklamsia
Di tempat yang sama, konsultan fetomaternal dari Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Irvan Adenin mengatakan ada dua jalur utama pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk janin, yaitu jalur nutrisi (pembuluh darah ibu) dan komposisi nutrisinya.
Menurutnya, pembuluh darah memegang peran penting dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin sehingga harus dipastikan pembuluh darah ibu hingga ke pembuluh darah perifer dalam kondisi sehat (tidak menyempit). Hal itu berkolerasi dengan risiko preeklamsia pada ibu hamil.

Preeklamsia, tambahnya, dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang janin. Salah satu penyebab preeklamsia antara lain ibu hamil mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi). Untuk memantau pertumbuhan janin, Irvan menekankan pentingnya pemeriksaan rutin selama kehamilan. Tujuannya untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada janin. Hal itu dapat diketahui dengan anamnesis, pemeriksaan kondisi ibu, dan pemeriksaan USG dan CTG (alat untuk menghitung pola denyut bayi dengan kontraksi rahim).
Ia menjelaskan pertumbuhan janin terhambat dapat berdampak fatal. Menurut Irvan, 26% bayi meninggal diakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Namun, sekitar 70% kematian bayi akibat pertumbuhan janin terhambat dapat dicegah jika kelainan dikenali sebelum usia 34 minggu.

"Jika PJT terdeteksi di minggu ini, pilihan terbaik adalah dilahirkan dini. Karena jika dibuarkan dalam uterus seperti orang dipenjara. Tidak mendapat asupan makanan maksimal sehingga berisiko janin meninggal karena hipoksia (kekurangan oksigen di otak)," pungkasnya.

Rencanakan kehamilan
Secara terpisah, Ali Sungkar mengatakan, agar bayi dan ibu sehat, kehamilan harus direncanakan guna menekan risiko kematian ibu hamil. Oleh karena itu, ia mengimbau perempuan yang berencana hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk status gizi.
"Ibu hamil dengan hepatitis, anak yang lahir mungkin bisa terkena sirosis (kerusakan hati). Ibu hamil dengan anemia, ibu dapat mengalami pendarahan dan meninggal. Jadi, perbaiki dahulu gizinya, baru hamil," ujarnya dalam acara temu media bertema Jaga kehamilan untuk generasi yang lebih sehat.

Di sisi lain, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eni Gustina menyampaikan penyebab tingginya angka kematian ibu hamil di Indonesia di antaranya pendarahan berat (hemoragik), keracunan kehamilan (preeklamsia), dan infeksi (sepsis). "Karena itu, kehamilan perlu direncanakan," ucapnya.

Ia juga mengungkapkan, dari hasil riset Kemenkes terungkap, jarak ideal seorang ibu untuk mempunyai anak lagi perlu waktu empat hingga lima tahun. Alasannya karena proses perbaikan tubuh ibu agar siap hamil lagi butuh waktu empat hingga lima tahun. Oleh karenanya, Kemenkes menghimbau masyarakat agar mengikuti program Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan untuk menjaga jarak kehamilan. (H-2)

Komentar