Kesehatan

Stres Bisa Picu Mimpi Buruk Berulang

Sabtu, 23 December 2017 16:01 WIB Penulis: Sri Yanti Nainggolan

thinstock

SEMUA orang pernah mengalami mimpi buruk. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa bila terus-menerus mengalami mimpi yang sama berkali-kali adalah pertanda sesuatu yang spesifik hilang dalam kehidupan sehari-hari Anda. Penemuan tersebut menyebutkan bahwa pria dan wanita yang merasa frustasi dan tak kompeten di siang hari cenderung mengalami mimpi buruk di malam hari, dibandingkan mereka yang merasa puas dan terkontrol. Penelitian lain menemukan adanya emosi positif dan negatif dari membawa beban pada mimpi. Mimpi buruk adalah representasi dari bagian pengalaman buruk yang tertinggal.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal Motivation and Emotion tersebut belum meneliti lebih jauh tentang mimpi dan peran dari lingkungan dan sosial. Pemimpin studi Netta Weinstein dari University of Cardiff di Inggris mencari tahu apakah tiga kebutuhan dasar psikologis (otonomi, kompetensi dan keterkaitan) dengan mimpi yang mengganggu. Orang yang cenderung puas dengan hidup mereka merasa bisa mengontrol pilihan mereka, baik pada apa yang mereka lakukan dan terkoneksi dengan orang lain di lingkungan sosial mereka. Kehilangan hal-hal tersebut dapat menyebabkan gelisah, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Penelitian tersebut meminta 200 orang mengisi survei tentang seberapa stres atau kepuasan mereka dengan berbagai aspek hidup, termasik mimpi yang dialami. Mereka juga meminta 110 orang membuat buku harian mimpi dan merespons pertanyaan psikologi dalam tiga hari. Kedua penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara tak bertemunya kebutuhan psikologis, frustasi dengan pengalaman hidup, dan mimpi negatif yang membuat ketakutan, sedih, atau marah. Emosi tersebut kemungkinan adalah hasil langsung dari mimpi yang menekan.

Orang yang frustasi dengan hidup juga cenderung mengalami mimpi berulang tentang, jatuh, gagal, dan diserang. Namun, bukan berarti ini kesimpulan akhir.

"Saya harap ada asumsi tertentu tentang mimpi api atau terjadtuh, namun bukti ini masih cukup sederhana. Kita butuh sampel yang lebi besar," ujar Weinstein.

Partisipan pada penelitian kedua mengaku mengalami mimpi buruk yang lebih parah ketika merasa frustasi, dibandingkan saat mereka merasa puas. Ini semakin menguatkan ungkapan dimana kebutuhan yang tak terpenuhi memang berpengaruh pada mimpi.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman ini sangat berbahaya, tak hanya pada fungsi kemampuan di siang hari namun juga kemampuan tidur di malam hari."

Ia menyarankan, untuk mengurangi intensitas mimpi buruk, sebaiknya orang-orang merasa dirinya berharga, lebih percaya pada diri sendiri, dan lebih terkoneksi dengan orang lain. (MTVN/OL-8)

Komentar