KICK ANDY

Sungai Kasih untuk Anak Nusantara

Sabtu, 23 December 2017 06:31 WIB Penulis: (Big/M-2)

MI/SUMARYANTO BRONTO

PERISTIWA 12 tahun lalu itu masih kuat di ingatan Priskila Linda. Pada penghujung Maret tersebut, saat di dalam mobil ia mendengar gempa mengguncang Nias. Hatinya begitu tersentuh hingga beberapa hari kemudian sudah tiba di Nias dengan membawa bantuan.
Di sana, Linda bukan saja mendistribusikan bantuan, melainkan juga mendapat pengalaman yang kemudian menjadi pelajaran berharga. Kala itu Linda diminta seorang ibu untuk menggendong dan mendoakan anaknya. Namun, karena sang anak sangat lusuh, Linda yang merasa masih berpakaian rapi dan bersih menolak menggendong.

Belakangan Linda sangat menyesali kejadian itu. Pulang ke Jakarta, ia menyadari betapa egois sikapnya tersebut. “Setelah kejadian itu, saya mulai introspeksi. Sejak itu, saya terus melakukan misi kemanusiaan, memberi sembako dan obat-obatan ke berbagai daerah di Indonesia, mulai Jawa, Sumatra, Kalimantan, NTT, Ambon, hingga Papua,” tutur perempuan berusia 57 tahun itu dalam acara bincang-bincang Kick Andy. Selama tiga tahun berkeliling ke berbagai daerah tersebut, semakin banyak ketimpangan yang ia lihat. Salah satunya soal akses sanitasi yang sangat minim.

Di pedalaman Papua, perempuan asal Pontianak ini juga mendapat pengalaman menyen­tak soal kebersihan. Saat itu Linda berjumpa dengan anak kecil yang pada hidungnya terdapat lendir yang sudah mengeras. Saat mengusapnya, Linda tersentak karena mendapati hidung sang anak bahkan sudah di­hinggapi ulat. “Itu semua yang membuat saya luluh dan belas kasihan pada mereka di peda­lam­an,” tambah perempuan yang mengaku tidak lagi mudah jijik setelah sering mengunjungi wilayah pedalaman. Belas kasih Linda terhadap warga pedalaman membuatnya semakin berkomitmen dalam misi kemanusiaan. Pada 2008, ia pun meninggalkan bisnis otomotif yang telah membawanya pada kesuksesan.

Ia banting setir dengan mendirikan kegiatan sosial Rumah Kasih di Pontianak pada 2010. Organisasi serupa juga ia dirikan di Singkawang dan Jakarta. Namun, Rumah Kasih di Jakarta terpaksa tutup akibat penggusuran. Baru pada 2011, kegiatan sosial didaftarkan menjadi Yayasan Sungai Kasih (YSK). Baginya, aksi-aksi tanggap bencana sulit bertahan lama dan membutuhkan biaya tinggi. Dengan berbentuk yayasan, Linda yakin dampak kegiatan tersebut akan lebih kuat, termasuk dapat membantu anak-anak kurang mampu hingga mewujudkan cita-cita mereka di hari depan.

Semua golongan
Lewat yayasan dan rumah singgah, Linda dan komunitasnya memberikan layanan pendidikan yang bersifat melengkapi pendidikan formal dan layanan kesehatan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sudah sekitar seribu anak yang dibantu sejak Rumah Kasih ini berdiri. Sekitar 400 anak terlayani di Pontianak dan 600-an anak di Singkawang. Di Rumah Kasih pula anak-anak diajari bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. “Moto Rumah Kasih adalah ‘Aku pemimpin masa depan’, itu yang kita yakinkan pada anak-anak. Nah, sekarang ini, selain bahasa Inggris, bahasa Mandarin memegang peran penting di masa depan bagi yang menguasai. Itu saja sebenarnya alasannya,” jelasnya.

Yayasan Sungai Kasih juga memberikan beasiswa pendidikan, baik untuk anak-anak maupun guru yang bekerja di Rumah Kasih. Hingga saat ini telah 20 anak dan 4 guru mendapat beasiswa dari yayasan itu. Secara berkala, tambah Linda, di Rumah Kasih juga diadakan pemeriksaan kesehatan. Dalam menyikapi beragamnya masyarakat di lingkungan sekitar Rumah Kasih, berbagai kegiatan yang ia lakukan tidak pernah membeda-bedakan kelompok atau golongan tertentu. Di sisi lain, Linda juga meng­akui pendanaan merupakan tantangan besar. Perempuan yang pada awalnya memakai uang pribadi untuk kegiatannya ini bersyukur sekarang banyak mendapat donatur. Donatur tetap itu tidak lain adalah teman-temannya yang berada di Jakarta dan Singapura.

“Selain itu, ada donasi dari berbagai pihak lainnya. Kita ada rekening untuk donasi. Saya juga sering merogoh kantong sendiri. Pada 2011, saya bahkan pernah jual rumah untuk membiayai kekurangan dana, saat itu kami sedang benar-benar membutuhkan,” aku Linda. (Big/M-2)

Komentar