KICK ANDY

Cahaya bagi Mereka yang Terpasung

Sabtu, 23 December 2017 06:10 WIB Penulis: Suryani Wandari wandari@mediaindonesia.com

MI/SUMARYANTO BRONTO

BERKELILING dari kampung ke kampung di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi kegiatan rutin bagi Avent SaurBukan saja untuk berburu berita, pria 35 tahun ini juga menyalurkan bantuan dan perhatian bagi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Aksi sosial ini memang bagian dari komitmennya sebagai pastor. Selain berprofesi sebagai wartawan di Flores Pos, Avent merupakan pastor di Paroki Roworeke, Keuskupan Agung Ende, sejak 2011. Pada 2014 ia mulai fokus melayani ODGJ, dan bahkan mendirikan komunitas Kelompok Kasih Insani (KKI) pada 25 Februari 2016.

Saat ini anggota KKI sudah ada sekitar 450 anggota yang tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, seperti Amerika, Australia, Jerman, Austria, Belanda, Thailand, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Malaysia. Mereka berkomunikasi via grup di Facebook dan aktif menggalang bantuan untuk menolong pengobatan orang-orang yang memiliki gangguan mental. Keseriusan Avent di misi itu membuatnya dijuluki sebagai Pastor Orang Gila. Berbincang di acara Kick Andy, Avent mengungkapkan kepeduliannya berawal dari pertemuannya dengan Anselmus Wara pada Februari 2014. Anselmus OGDJ yang dipasung warga Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, karena dianggap membunuh salah satu pemuka adat (mosalaki).

Anselmus memang dikenal warga sebagai orang yang ‘kadang waras kadang eror’. Saat waras, ia bekerja biasa seperti orang pada umumnya, tapi saat sedang eror ia bisa marah hingga berujung ke peristiwa tragis itu. “Ketika saya datang ke sana, kondisinya mengenaskan. Sebagian kakinya sudah membusuk, bahkan di makan ulat yang cukup banyak. Ia meminta tolong untuk dilepaskan dari pasungan dan mengobati lukanya,” kenang Avent. Upayanya mengevakuasi Anselmus mendapat penolakan warga, bahkan Avent diancam dibunuh. Tidak menyerah, Avent menulis laporan panjang di Flores Pos tentang kondisi Anselmus. Tulisannya yang berjudul Memandang yang Terpasung itu sekaligus menyentil kepekaan masyarakat soal pembiaran terhadap umat yang sedang sakit. Avent berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, termasuk yang sakit kejiwaan sekalipun.

Avent juga menemui banyak pihak, mulai Bupati Ende hingga anggota DPRD untuk bergerak menolong Anselmus. “Sekitar 3 bulan kemudian, usaha saya berhasil berkat perhatian pemerintah, dalam hal ini bupati, dan media massa Flores Pos. Namun, ia (Anselmus) dilepaskan bukan untuk dibebaskan, lebih pada untuk mengobati kakinya yang membusuk itu,” jelas Avent. Setelah lukanya terobati, Anselmus dibawa ke panti rehabilitasi gangguan jiwa di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Pada 2016 ia dipindah ke rehabilitasi gangguan jiwa di Sukabumi. “Saat ini kondisinya sudah sehat, kakinya sudah sembuh dan kejiwaannya juga sudah pulih. Ia sekarang di panti rehabilitasi gangguan jiwa di Sukabumi. Dia harus tinggal disana, maksimal 2 tahun,” jelas Avent.

Membentuk
Kelompok Kasih Insani
Selain kasus Anselmus, Avent Saur juga sering mengunggah banyak foto dan cerita ODGJ di Facebook. Bermula dari sana, banyak pula orang yang melaporkan kondisi saudaranya yang bernasib sama untuk segera dibantu. Bahkan, beberapa orang ikut terpanggil hatinya untuk terlibat kegiatan Avent Saur. Akhirnya, pada 2016 didirikanlah Kelompok Kasih Insani (KKI). Mereka yang ingin bergabung dengan grup harus memiliki kesamaan visi dengan KKI. Meski KKI dibentuk di Ende, cakupan kegiatan KKI juga ada di Maumere, Lembata, dan Kupang. Setiap akhir pekan, komunitas mendatangi ODGJ, baik di jalanan maupun yang ada di rumah.

Kepada para OGDJ yang tinggal di rumah, anggota KKI akan mengajak berkomunikasi dan mengecek perkembangan kesembuhan, serta memberi obat yang dititipkan keluarganya. Sementara itu, untuk ODGJ yang tinggal di jalan, KKI membantu memberi makan, minum, dan memotong rambut, tetapi tidak memberi bantuan obat. “Obat ini khusus untuk orang gangguan jiwa, bisa kami dapatkan dari dinas sosial atau dinas kesehatan. Tapi, obat ini harus diserahkan bagi mereka yang ada keluarganya. Kalau yang di jalanan, diberi obat, nanti siapa yang memastikan diminum rutin atau tidak, jadi tidak kami berikan,” ucap Avent.

Tak hanya itu, Avent juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan penanganan yang benar maka penderita gangguan jiwa dapat disembuhkan. Dengan begitu, penderita tidak perlu dipandang sebagai aib apalagi dipasung. KKI mendata ada lebih dari 500 ODGJ di Flores, dan 300-an di antaranya ada di Ende. Angka ini diyakini belum menggambarkan keseluruhan jumlah yang sebenarnya karena jangkauan kegiatan KKI yang terbatas. Selain berkeliling membantu memberi makan dan minum ODGJ, KKI juga beberapa kali mengupayakan ODGJ dirawat di panti rehabilitasi kejiwaan. “Jumlahnya ada belasan, di rehabilitasi Maumere ada 4, di Ruteng ada 9, dan di Sukabumi ada 3. Untuk perawatan di rehabilitasi, per bulan 1,5 juta untuk satu orang saja. Jadi, biayanya cukup besar, kadang kita punya uang, tapi kadang juga hutang dulu,” jelas Avent.

Saat ditanya, apa harapan Avent Saur ke depan, dirinya menandaskan, “Harapan terbesar saya adalah agar negara ini bertindak adil pada warganya, tidak terkecuali mereka yang sakit. Kalau sakit batuk, flu, dan lain-lain mereka bisa sediakan layanan, mengapa untuk orang dengan gangguan jiwa tidak? Belum lagi dengan pemasungan, ini jelas dilarang oleh Undang-Undang Kesehatan Jiwa, tapi di daerah pemerintah tidak pernah menerapkannya (melarang), dengan alasan yang bermacam-macam”. Sementara itu, untuk masyarakat dan keluarga penderita ODGJ, Avent berharap semua orang memandang manusia dengan setara sebab semua orang sama di hadapan Tuhan, tidak terkecuali bagi mereka yang sakit. “Tidak benar bagi manusia menindas manusia lain, dengan asalan karena manusia lain dianggap sakit,” tegas Avent. (M-3)

Komentar