Internasional

Natal di Betlehem Diiringi Rasa Cemas Karena Kebijakan Trump di Jerusalem

Rabu, 20 December 2017 15:27 WIB Penulis: MICOM

AFP PHOTO / FREDERIC J. BROWN

PENGAKUAN Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel tampaknya memiliki konsekwensi besar dalam perayaan Natal tahun ini di Bethlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus.

Beberapa penjual makanan, pedagang pernak-pernik liburan Natal dan seorang pengusaha hotel terkemuka di Bethlehem mengatakan demonstrasi Palestina, yang dipicu oleh apa yang oleh banyak orang dipandang sebagai demonstrasi provokatif bias pro-Israel, telah menyakiti bisnis Natal mereka.

Namun Betlehem juga menawarkan sebuah panggung untuk bantahan Palestina atas kebijakan Trump itu. Spanduk yang memproklamirkan Yerusalem sebagai ibukota abadi Palestina tampak pula di Lapangan Manger, sebagai latar belakang siaran TV Natal ke khalayak global.

Konflik Israel-Palestina diakui sangat terasa -mungkin lebih dari itu pada hari Natal, di Bethlemem hanya berlokasi beberapa mil (kilometer) selatan dari Yerusalem yang diperebutkan.

Perubahan kebijakan Trump di Yerusalem dua minggu lalu telah muncul sebagai tema dominan tahun ini. Kebijakan Presiden AS tersebut bertentangan dengan konsensus internasional bahwa nasib Yerusalem harus ditentukan dalam negosiasi.

Untuk diketahui pula, Jerusalem timur yang dicaplok Israel memiliki tempat-tempat suci bagi Muslim, Yahudi dan Kristen yang bersejarah, dan Palestina mencarinya sebagai ibukota masa depan.

Tak pelak kebiajakan Trump memicu bentrokan di wilayah Palestina antara pelempar batu dan tentara Israel yang menembakkan gas air mata, peluru karet dan amunisi sungguhan. Setelah Trump mengununkan kebijakannya itu, sebanyak delapan orang Palestina terbunuh oleh tembakan Israel, sebagian besar berada di perbatasan Gaza, dan sejumlah korban luka-luka.

Terasa di Bethlehem

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menerima Wakil Presiden AS Mike Pence, seorang Kristen yang taat, di Betlehem. Namun pertemuan di Yerusalem tidak terjadi.

Hal itu karena Abbas telah menyatakan posisi AS saat ini berubah dan Pelestina menolak Washington sebagai negara penengah (konflik) di Timur Tengah.

Dampak ekonominya, salah satunya hotel mewah di Bethlehem, Istana Jacir yang memiliki 250 kamar tidur terpaksa ditutup karena ada bentrokan antara warga sipil Palestina dengan tentara Israel yang dipersenjatai lengkap yang sering terjadi.

Manajer umum Marwan Kittani mengatakan bahwa hotel tempat dia bekerja telah dipesan penuh untuk Natal, namun sekarang dia khawatir hari-hari ini apakah dapat pesanan wisatawan yang biasanya datang membanjiri Bethlehem menjelang Natal. Kittani mengatakan aktivis Palestina telah menyerukan lebih banyak demonstrasi.

Di Manger Square, di samping Gereja Kelahiran Yesus beberapa pedagang menyalahkan Trump karena omset bisnis mereka turun.

Dua pemilik toko suvenir yang menjual aksesoris kelahiran Yesus dan hiasan pohon yang diukir dari kayu zaitun mengatakan mereka tidak memiliki pelanggan pada siang hari.

Mahmoud Salahat, yang menjual jus delima di alun-alun, mengatakan bahwa sumber pendapatan utamanya - warga Palestina Israel - sebagian besar tinggal jauh dari Bethlehem selama dua minggu terakhir, tampaknya takut mengalami masalah di jalan.

Namun, pejabat Palestina mengambil pandangan yang lebih optimis. "Musim Natal tahun ini merupakan tahun pariwisata di wilayah Palestina, dengan 2,7 juta pengunjung pada 2017, dibandingkan dengan 2,3 juta pada 2016, kata pejabat Kementerian Pariwisata Jiries Qumsieh. "Meskipun ada jadwal pembatalan ulang, 4.000 kamar hotel di Bethlehem lebih dari 90 persen dipesan untuk Natal, katanya.

Natal juga menawarkan kesempatan tahunan bagi Abbas untuk mengajukan simpati internasional atas tuntutan Palestina yang telah berlangsung lama untuk kenegaraan di Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem timur, yang diduduki Israel pada tahun 1967.

Untuk diketahui, sebagian besar warga Palestina adalah Muslim, tapi Abbas - seperti almarhum Yasser Arafat sebelumnya - menghargai hubungan dekat dengan minoritas Kristen. Dia secara teratur menghadiri misa Natal di Gereja Kelahiran Yesus, yang disiarkan secara langsung.

Tahun ini, rekaman TV kemungkinan akan menampilkan dua spanduk besar yang tergantung di atap di Manger Square, dengan berbunyi: "Yerusalem akan selalu menjadi ibu kota abadi Palestina."

Aktivis juga berencana untuk mengedarkan sebuah petisi kepada pengunjung Natal untuk mendukung klaim Palestina ke Yerusalem dan menyebarkan stiker yang berbunyi: "Kami (hati) Yerusalem, ibu kota Palestina," kata penyelenggara Munther Amira.

Awal pekan ini, puluhan pemrotes berkumpul di dekat pohon Natal yang menjulang tinggi itu, sambil memegang lilin putih dan foto Menlu AS Pence dan Jason Greenblatt, anggota tim Timur Tengah Trump.

"Bethlehem menyambut para utusan perdamaian, bukan utusan perang," ujar mereka. Para pemrotes juga membakar foto-foto mereka.

Amira mengatakan tindakan itu adalah sebuah demonstrasi melawan kebijakan AS, bukan rakyat Amerika.(AP/OL-3)

Komentar