Internasional

Paus Dan Raja Abdullah Nilai Keputusan Trump Membahayakan Perdamaian

Selasa, 19 December 2017 22:48 WIB Penulis: MICOM

AFP PHOTO / Andreas SOLARO

PAUS Fransiskus dan Raja Yordania Abdullah menilai keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui secara sepihak bahwa Yerusalem sebagai ibukota Israel, merupakan langkah yang berbahaya untuk perdamaian Timur Tengah.

Paus dan Raja Abdullah berdiskusi khusus sekitar 20 menit dalam kesempatan kunjungan Raja Abdullah ke Vatikan dan Prancis.

Dalam sebuah pernyataan Vatikan mengatakan bahwa mereka tengah membahas "promosi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, dengan referensi khusus untuk pertanyaan Yerusalem dan peran Hashemite Sovereign sebagai Kustodian Kudus Tempat ".

Dalam pandangan ini, Dinasti Hashemite Raja Abdullah adalah kustodian dari tempat-tempat suci umat Islam di Yerusalem, membuat Amman peka terhadap perubahan status apapun dari kota yang disengketakan.

Ketika Trump mengumumkan keputusannya pada 6 Desember itu, Paus menanggapi dengan menyatakan bahwa kota itu dalam "status quo" untuk dihormati. Paus pun percaya bahwa ketegangan baru di Timur Tengah selanjutnya akan mengobarkan konflik dunia.

Di antara kritik masyarakat internasional terhadap kebijakan Trump, Jordania juga menolak Keputusan AS, dengan menyebutnya bahwa keputusan itu "tidak sah" karena mengkonsolidasikan Israel di wilayah yang didudukinya.

Segera setelah keputusan itu, AS terisolasi dalam lanskap politik internasional bahkan Dewan Keamanan PBB meminta agar deklarasi tersebut dibatalkan.

Dalam pembicaraan tersebut baik Vatikan maupun Yordania berpandangan sama bahwa solusi dua negara harus dikembalikan ke dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel, dengan status Yerusalem sebagai bagian dari proses perdamaian.

Untuk diketahui, warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan mereka yang independen, sedangkan Israel telah menyatakan seluruh kota (Jerusalem) merupakan satu kesatuan yang akan dikuasainya.(Reuters/OL-3)

Komentar