Properti

Tren Penurunan Ritel Jakarta Diantisipasi Moratorium

Selasa, 19 December 2017 11:31 WIB Penulis:

MI/RAMDANI

FENOMENA penurunan penjualan sektor ritel di wilayah Jakarta telah bisa diantisipasi kebijakan moratorium mal yang telah dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beberapa tahun sebelumnya.

"Akibat kebijakan moratorium pusat perbelanjaan yang berlaku di Jakarta, sisi pasokan bisa dikontrol selama terjadi penurunan saat ini," kata Senior Associate Director of Research Colliers International Ferry Salanto dalam rilis paparan properti di Jakarta, Kamis (14/12).

Berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, tingkat okupansi atau keterisian pusat perbelanjaan atau pasar ritel saat ini tercatat berada pada tingkat terendah setidaknya selama 10 tahun terakhir.

Selain itu, ujar dia, pasar ritel saat ini berada dalam periode yang penuh tantangan antara lain karena menurun daya beli masyarakat dan tutupnya sejumlah gerai terkemuka pada beberapa mal.

Sebagaimana diwartakan, pemerintah perlu memperhatikan kebijakan dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat karena hal tersebut dinilai sangat penting sebagai upaya untuk melesatkan kinerja ritel yang saat ini dinilai sedang melesu.

"Saat ini terjadi penurunan daya beli, dengan kebutuhan meningkat, sedangkan income (penghasilan) tidak meningkat sepesat biaya kebutuhan," kata Ferry pula.

Menurut dia, berdasarkan sejumlah kajian seperti dari Nielsen, konsumen ritel saat ini sudah mulai berhemat dengan menurunkan biaya untuk kebutuhan tersier atau sekunder.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai penutupan dua gerai Matahari Department Store di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai bukan disebabkan penurunan daya beli masyarakat, melainkan upaya efisiensi perusahaan.

Seusai menghadiri acara Sinkronisasi Kebijakan Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Tahun 2017, Mendag menjelaskan meski kedua gerai tutup, kondisi ritel masih terbilang bagus karena kinerja Matahari Department Store dari tahun ke tahun (year on year) menunjukkan peningkatan pendapatan.

"Bukan karena daya beli. Tolong dilihat, yang year on year (yoy), pendapatannya perusahaan itu naik atau turun? Tidak ada yang turun. Jadi, tidak ada urusan sama daya beli," kata Enggartiasto, di Jakarta, Senin (18/9).

Menurut dia, penutupan gerai Matahari tidak membuat kondisi ritel terpuruk karena harus dilihat dari pembukuan tahunan yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan laba bersih yoy.

Ia mengakui pusat perbelanjaan di beberapa lokasi sepi karena ada pergeseran minat masyarakat yang fokus di kawasan Sudirman, SCBD, hingga Thamrin untuk lokasi utama belanja. (Ant/S-1)

Komentar