Gaya Urban

Bugarnya Perempuan Kekinian

Ahad, 17 December 2017 11:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

Dok. Girls To Go

DI antara dominasi kaum adam yang bersiap di garis start ajang lari 21 km (half marathon), Vania Desiyanti tidak merasa minder. Malah, perempuan berusia 26 tahun ini makin merasa bersemangat. Ia tidak sabar untuk menguji fi siknya sekaligus melihat ketangguhan diri di antara para pelari pria.

Hasilnya, ajang Jakarta Marathon 2017 yang berlangsung Oktober lalu menjadi kenangan manis bagi Vania. Ia berhasil mencapai finis lebih dulu dari banyak pelari pria.

Namun, Vania tidak hanya bangga pada diri sendiri, tetapi juga pada teman-temannya di komunitas yang ia dirikan, Girls to Go (GTG). Lewat komunitas yang menyuarakan gaya hidup sehat bagi perempuan itu, mereka saling menularkan semangat berolahraga dan kepercayaan diri untuk ikut berbagai kompetisi layaknya para pria.

“Perempuan dengan pria itu harus equal (setara), tidak boleh ada perbedaan, termasuk juga di dalam olahraga baik itu yang tingkat ringan maupun berat seperti maraton bahkan triatlon karena di Girls to Go pun sudah banyak yang mengikuti olahraga berat tersebut,” tutur Vania ketika berbincang dengan Media Indonesia, Senin (11/12).

Dalam ajang Jakarta Marathon 2017 itu pun Vania begitu bangga dengan tiga rekannya yang ikut nomor 42 km (full marathon). “Ini jadi penyemangat Girls to Go, membuktikan bahwa perempuan bisa menyamai pria,” tambahnya.

Semangat yang dibawa komunitas yang berdiri pada 8 Maret 2015, atau bertepatan dengan International Women’s Day tersebut mampu menarik banyak kaum hawa. Terlihat dari berbagai kegiatan olahraga mereka yang selalu diikuti banyak peserta.

Akun Instagram mereka, @girlstogojkt, memiliki lebih dari 7.200 pengikut. Dalam berbagai kegiatan olahraga bersama yang mereka selenggarakan, peminatnya dari berbagai kalangan perempuan, termasuk dalam kemampuan mereka berolahraga. “Dari yang tidak suka olahraga, dari yang tidak kuat olahraga, bahkan yang tak pernah berkeringat dan takut dengan matahari.

Namun, persepsi itu perlahan berubah di kalangan perempuan Girls to Go,” tutur Vania. Perubahan positif itu ia lihat sebagai kesuksesan semangat GTG. Dengan berolahraga bersama, mereka bukan mencari keunggulan diri sendiri, melainkan saling menyebarkan semangat untuk sehat dan bugar.

Kegiatan GTG pun bukan hanya lari bersama atau turun di ajang maraton, melainkan juga bersepeda, yoga, zumba, hingga pound fit yang merupakan olahraga fi tness yang terisnpirasi gerakan drumer.

Belum lama ini mereka juga menggelar ajang zumba bersama dan dynamic workout. Di ajang yang digelar di lapangan basket itu, lebih dari 50 perempuan memacu fisik. Tampak dari wajah-wajah yang terus bersemangat meski melakukan beragam rangkaian gerakan dengan intensitas tinggi, termasuk gerakan sit-up.

“Kita bisanya melakukan kumpul dan melakukan olahraga yang berbeda-beda. Seperti minggu ini olahraga outdoor lari, sepeda, dan minggu depannya olahraga indoor yakni yoga, zumba, dan pound fi t. Jadi kita selang-selingkan,” jelas Vania.

Gaya hidup sehat
Meski kegiatan mereka banyak berupa olahraga, Co-founder GTG Cesara Roesselin menekankan misi GTG tetaplah untuk gaya hidup sehat yang menyeluruh. Tidak hanya itu, gaya hidup sehat itu pun bukan semata untuk kebugaran, melainkan untuk kebahagiaan.

“Kalau membuat perempuan menjadi identik dengan olahraga itu sih enggak, ya, tapi menurut saya setiap orang apa pun gendernya harus memulai aktif dan berolahraga supaya sehat dan bahagia.

Namun, lebih baik jika semua itu bisa dijadikan sebagai lifestyle agar dilakukan secara rutin dan menyenangkan,” ungkap perempuan yang kerap dipanggil Aya itu.

Persepsi itulah yang hendak dibentuk GTG melalui berbagai cara, termasuk lewat acara bincang-bincang dan diskusi. Beragam informasi seputar gaya hidup sehat juga rutin mereka unggah di media sosial.

Dalam unggahan itu, termasuk dalam soal keberhasilan para anggota mereka di kompetisi maraton, Aya menjaga agar nuansa pesan tidak intimidatif. Baginya, unggahan yang intimidatif justru hanya membuat orang ambisius dalam berolahraga. “Olahraga itu tidak harus ambisius dan pasti bisa langsung hebat, tetapi setiap perempuan itu bisa melakukan olahraga secara bertahap,” sambung perempuan 25 tahun itu.

Olahraga dan pembentukan fisik yang dilakukan bertahap diyakini akan memberikan hasil paling baik, yakni kebugaran raga dan jiwa. Jika olahraga itu juga dilakukan secara bersama-sama, keuntungan yang didapat makin besar yakni pertemanan yang makin luas.

Soal mengalahkan kaum adam, itu sesungguhnya dilihat sebagai bonus dan penambah semangat.

Prestasi di lintasan maraton juga ibarat reward setelah rutin berolahraga. Dari ajang itu kita bisa bangga akan kemampuan diri yang terus meningkat. Gaung GTG kini meluas juga ke luar Jakarta.

Beberapa waktu lalu mereka menggelar ajang olahraga bersama di Medan. Aya dan Vania pun berharap perempuan di berbagai kota lainnya bisa terinspirasi oleh semangat mereka. (M-3)

Komentar