Tifa

Warna-Warna Simbol Keindonesiaan

Sabtu, 16 December 2017 23:30 WIB Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2)

MI/ABDILLAH M MARZUQI

FIGUR itu tak terlalu banyak, tetapi cukup untuk membuat mata fokus. Justru dengan mata yang fokus pada figur, menikmati karya ini akan membawa pada hasrat untuk mengulik lebih jauh. Ada banyak ornamen yang seolah mengisi ruang longgar yang ada dalam bidang kanvas itu. Sebaliknya, figur yang diletakkan secukupnya saja. Tidak berlebih sehingga kesan proporsional dari sebuah bidang gambar dengan figur berpadu dengan latar motif tetap menarik untuk diperhatikan secara lebih teliti.

Memang kali ini pameran tunggal Yustoni Volunteero berbeda dengan seri sebelumnya. Pameran itu berlangsung pada 12 Desember 2017 di Rumah Miring, Pondok ­Indah, Jakarta. Pameran yang mengunjuk 40 karya dikuratori Sujud Dartanto. Bertajuk After Decora Magical, Yustoni seolah membuka lembar baru kekarya­an. Tidak melulu meng­ulang gaya sebelumnya, ia justru menggabungkan gaya dulu dengan gaya sekarang.

“Jadi ini sebenarnya, untuk pameranku yang sekarang gabungan gayaku yang sekarang dan yang kemarin. Kemarin ada figur seperti itu tapi lebih penuh dan ramai. Belakangnya lebih flat, warnanya biasa, warna-warni bisa, tapi blok saja. Lalu baru aku susun ikon-ikon, figur itu membentuk satu cerita,” terang Yustoni Volunteero yang akrab disapa Toni.

Pada fase kali ini, Toni lebih menampilkan warna-warna yang berani. Ia banyak membingkai karyanya dengan sapuan warna yang kuat. Toni mempunyai ide tentang keindonesiaan di balik pilihan warna.
“Pada fase kali ini aku ingin memperlihatkan bahwa Indonesia sebagai negara trapis itu kan warna-warni, dari Sabang sampai Merauke. Karena kita tropis, mataharinya full, kemudian hujannya juga full. Itu mengakibatkan bunga atau hijau daun itu lebih jreng. Warnanya penuh, Jadi kalau merah, ya merah beneran, unggu ya unggu beneran, hijau ya hijau beneran,” tegasnya.

Toni mengaku ingin menunjukkan Indonesia yang juga berwarna-warni melalui karyanya. “Terus terang aku ingin memperlihatkan bahwa Indonesia itu begitu. Akhirnya dari situ, aku ingin kalau orang melihat ini Indonesia, berwarna-warni,” tambahnya.
Satu lagi yang menjadikan karya Toni unik dan punya kekhasan. Ia memakai motif yang sengaja menjadi latar dari figur yang ia buat.

“Aku mendapatkannya itu di sebuah sejarah batik. Pada batik itulah muncul motif-motif itu. Aku itu tertarik dengan ­orang menciptakan motif batik. Kemudian pewarnaan batik yang cerah-cerah itu dan sebagainya. Ternyata mereka juga memperhatikan bagaimana Indonesia juga ber­warna-warni,” sambungnya.

Meminimalkan figur
Motif batik itulah yang kemudian ditransfer ke dalam kanvas. Ia memadukan motif itu dengan warna-warna yang cerah dan kuat. “Makanya aku mencoba mentransfer motif-motif itu dan warna-warna itu ke dalam lukisanku sekarang. Kemudian aku gabungkan dengan figur-figurku yang sebelumnya. Cuma lebih simpel. Aku mencoba lebih meminimalkan figurku. Cuma backround-nya aku tambahi ala batik,” Karena warnanya aku maksimalkan, terus motif itu juga dari keindonesiaan.

Karya-karya tersebut menampilkan figur-figur manusia, hewan, dan tumbuhan. Garis merahnya adalah karya-karya itu membawa pesan tentang menjaga lingkungan. Misalnya, lukisan berjudul The Kiss. Lukisan ini menampilkan objek berupa burung yang dicium seorang wanita. Didominasi warna ungu, lukisan tersebut berlatar belakang motif-motif tumbuhan sehingga terlihat dekoratif.

Menurut kurator Sujud Dartanto, karya-karya Toni bukan sekadar sebuah karya yang menampikan kecenderungan menghias semata. Namun lebih dari itu, karya Toni bagi dapat dibaca sebagai penegasan posisi estetisnya atas aliran dekora-magis. “Sebuah kecenderungan mendekor bidang dengan suatu makna spiritual tertentu,” terang Sujud dalam kuratorialnya.

Karya-karya pada pameran ini merefleksikan kejadian yang dialami sang seniman maupun dirinya sendiri. Karya-karya ini mewakili pengalaman Toni sehari-hari. Uniknya, Toni tidak memakai deskripsi karya yang menerangkan bahan, ukuran, ataupun medium karya. Biasanya, dalam sebuah pameran lukisan, deskripsi karya seperti itu ditempatkan di bawah judul. Alih-alih memakai deskripsi karya yang lazim, Toni malah keluar. Ia membuat deskripsi karya ala Toni, yakni sebuah puisi. Tentunya tatanan kata itu akan lebih memancing imajinasi dan tafsir, serta interpretasi yang sedemikian bebas untuk para penikmat karya Toni

Misalnya saja karya berjudul The Bushman and His Angel, Toni membuat deskripsi dengan puisi berbunyi. Cerita laki-laki bertubuh hijau Dia adalah pohon Akar, batang dan daun Mengawini tanah Beranak air? (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar