Properti

Siasati Pembangunan Infrastruktur, SPG Aktifkan Akses Alternatif

Selasa, 12 December 2017 16:48 WIB Penulis: Micom

Lokasi proyek Signature Park Grande di Cawang, Jakarta Timur. Dok SPG

KEMACETAN akibat pembangunan infrastrukur yang dilakukan serentak di sepasnjang Cawang-MT Haryono membuat pengembang hunian terintegrasi Signature Park Grande (SPG) mengaktifkan akses alternatif Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Direktur Marketing Pikko Group, Sicilia Alexander Setiawan mengatakan kendala sementara yang dialami kawasan Cawang-MT Haryono adalah kemacetan lantaran adanya pembangunan infrastrukur. Dampaknya, saat jam sibuk, bisa butuh waktu berjam-jam untuk melintas menuju Pancoran.

Seperti diketahui, selain proyek LRT, Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengerjakan proyek underpass Mampang Prapatan-Kuningan dan pembangunan flyover Pancoran. Titik-titik lokasi pembangunan itu menyebabkan kemacetan di persimpangan Cawang dan Jalan MT Haryono.

"Melihat kondisi tersebut, pengembang mengambil inisiatif untuk membantu penghuni kawasan terpadu Signature Park Grande dengan memberikan alternatif akses melalui Jalan Dewi Sartika menuju atau meninggalkan Jakarta. Alternatif akses ini untuk membantu para penghuni yang selama ini mengakses (in-out) arah MT Haryono.

Persimpangan Cawang-MT Haryono, lanjut Sicil merupakan junction-nya Kota Jakarta bagi arus kendaraan dan penglaju dari Bogor, Cibubur dan Bekasi untuk menuju pusat kota Jakarta sekitarnya. Posisinya sangat strategis dan merupakan titik temu Jabodatebek terkait penerapan sistem transit oriented development (TOD).

"Lokasi Signature Park Grande yang berada di posisi sudut Jalan Dewi Sartika-MT Haryono. Melalui akses Jalan Dewi Sartika, misalnya penghuni dapat menghindari penumpukan kendaraan di jalan utama MT Haryono menuju persimpangan Otista, Tebet, Pramuka dan Jakarta sekitarnya," katanya.

SPG dikembangkan KSO Pikko Group dan PT Pelaksana Jaya Mulia terdiri atas dua menara apartemen The Light (19 lantai) dan Green Signature (20 lantai) di lahan sekitar 4,3 hektare.

Tiap menara memiliki tiga tipe unit kamar. Dipasarkan dengan harga mulai Rp 900 jutaan hingga Rp1,6 miliar. Office building satu lantai berukuran 70-90 meter persegi, dipasarkan mulai Rp3,3-Rp6,7 milliar.

“Dengan harga tersebut selama Desember 2017, konsumen dapat memiliki unit fully furnished dengan bunga KPA hanya 4,1%, bebas biaya admin dan provisi serta uang muka hanya 10% yang dapat diangsur Rp 6 jutaan per bulan sesuai dengan komposisi unitnya” ujar Sicil.

Saat ini, proses serah terima kedua menara sedang berlangsung dan sebagian telah ditempati. Termasuk beberapa usaha konstruksi pembangunan telah menjalankan aktivitasnya dari SPG dan beberapa pihak perbankan telah mengajukan kerjasama usaha.

Kedepan, dengan rampungnya pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut potensi ekonomi kawasan bisnis baru (CBD) ini dipastikan bertumbuh. “Penghuni tidak hanya diuntungkan dari kenaikan harga lahan dan properti maupun sewanya yang bergerak naik. Namun, juga mendukung gaya hidup praktis dan modern kaum milenials” ucap Sicil.

Transjakarta Koridor 9 direncanakan terintegrasi dengan KRL Jabodetabek, lalu Tol Dalam Kota MT Haryono-Gatot Subroto terintegrasi dengan Tol Cikampek dan Tol JORR. Maka, ini rute terpanjang melintasi lima kota di Jakarta hingga Bandung.

Dengan akses yang tersedia, lanjut Sicil, SPG merupakan solusi paling ekonomis bagi mereka yang selama ini bekerja di Jakarta, tapi tinggal di sekitar Bodetabek. (Ria/X-12)

Komentar