Jeda

Relawan Kekinian Punya Keahlian dan Menebar Tagar

Ahad, 10 December 2017 11:45 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi

DOK ACT

DENGAN menggunakan sepeda motor roda tiga, para Difabel Siaga Bencana (Difagana) beraksi di Lapangan Siwa, Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (2/12). Mereka mempraktikkan aneka simulasi teknik pertolongan pertama pada korban bencana, mendirikan tenda pengungsian, hingga dapur umum.

I Made Sudana, salah satu anggota Difagana berkisah, Difagana berawal dari kepedulian relawan yang turun pada gempa Bantul 2006 kepada para korban yang sebagian menjadi difabel.

"Kemudian muncul keinginan mengerti lebih jauh cara memberi pertolongan untuk teman-teman difabel dalam situasi kebencanaan. Teman-teman difabel ketika itu dimintai tolong untuk memberi masukan kepada para relawan di lapangan tentang cara memberi pertolongan yang baik agar tidak melukai mereka, baik secara fisik maupun psikis," kata Sudana yang penyandang disabilitas daksa ini.

Pertemuan rutin berujung sinergi, keinginan saling memahami mencuatkan ide tentang pembentukan Difagana, yang menyertakan para disabilitas daksa dan tuli sebagai anggota. "Mereka sudah diberi TOT dari Tagana. Rencananya setiap tiga bulan akan ada pemantapan," terang Sudana. Seperti juga Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang juga dikoordinasikan Kementrian Sosial (Kemensos), anggota Difagana terbagi dalam berbagai divisi, termasuk bagian dapur dan logistik.

"Saat ini anggotanya 50 orang, di bawah koordinasi Dinas Sosial," kata Ely Novita, Ketua Difagana DIY yang organisasinya merupakan yang pertama di Indonesia dan akan diikuti daerah lain.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang juga berbincang dengan para Difagana itu memaparkan perkembangan dunia kerelawanan di Indonesia memang terus bertumbuh, menjadi bagian dari gaya hidup kaum urban dan anak-anak muda.

Kian autentik, strategis, dan spesifik

Kisah Roel Mustafa,39, warga Depok, Jawa Barat, yang merebut perhatian karena menyantuni janda dan memasang tagar lelaki 1.000 janda di media sosialnya, pembuat aplikasi khusus disabilitas, membantu keluarga penunggu pasien di RS hingga yang menyalurkan alat bantu dengar, kata Khofifah, menjadi penanda kerelawanan kian autentik, strategis, dan spesifik.

"Saya menangkap, gerakan menjadi relawan kini mulai masif dan strategis, sangat menarik dan kekinian, yang dilakukan para milenial ini," terang Khofifah kepada Media Indonesia di tengah perjalanan dari Jakarta menuju Bogor, Rabu (6/12).

Buat merangkul seluruh unsur relawan, Kemensos, kata Khofifah, punya kegiatan Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (LBKS) di setiap pelaksanaan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), untuk membangun kesadaran kolektif tentang nilai kepekaan terhadap sesama. Namun, nyatanya, kata Khofifah, negara yang telah lekat dengan kultur relawan lazimnya telah selesai dengan 'dapur' masing-masing.

Ada aturannya

Kerja para relawan, termasuk di daerah bencana, juga diakui Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jari. "Melihat besarnya potensi relawan, BNPB mengeluarkan pedoman untuk relawan penanggulangan bencana. Pasalnya, paradigma responsif kini menjadi preventif proaktif, mengedepankan pencegahan, dan kesiapsiagaan sehingga relawan harus mengetahui betul apa yang bisa mereka lakukan," kata Raditya.

Ia mengingatkan, selain harus memiliki kecepatan, tepat, prioritas, koordinasi, berdaya guna dan berhasil guna, relawan wajib nondiskriminasi, menghormati kearifan lokal, tidak menyebarkan agama tertentu, serta menjaga kesetaraangender.
Berperan tak hanya saat bencana, tapi juga bisa berkontribusi pada pelatihan mitigasi hingga menciptakan aneka aplikasi, Raditya menegaskan, siapa pun bisa jadi relawan. "Semua orang bisa menjadi relawan, tapi harus berbekal keahlian atau keterampilan tertentu!"

Kolaborasi ahli dan turis

Perbincangan tentang praktik kerelawanan selalu menyertakan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang kini aksinya banyak didiskusikan di media sosial. Sudah sejak 22 November lalu, mereka turun ke lokasi pengungsian Gunung Agung di Karangasem, Bali.
"Ada dari pusat, area Bali, tim lokal sehingga total ada 50," ujar Head of Emergency Response, Kusmayadi.

Berkoordinasi dengan Basarnas, BPPD dan dilengkapi kendaraan ACT tak semata menampung mereka yang terlatih. "Ada 2 wisatawan Austria dan Spanyol yang juga tertarik bergabung. Mereka siap diposisikan di dapur umum maupun trauma healing," imbuhnya.
Beroperasi di Indonesia, negeri cincin api dan dua samudra yang mengelilinginya, ACT juga menyebar timnya di Pacitan, Gunung Kidul, Semarang, Aceh, dan Tebing Tinggi yang kini juga dilanda bencana.

Semangat serupa juga dikisahkan salah satu pendiri Ketua Indonesian Youth of Disaster Risk Reduction (IYDRR) Fajar Shidiq yang kini tengah intens mengampanyekan isu kerelawanan agar menjadi isu seru di mata anak-anak muda. "Relawan yang sudah sering terjun pasti sudah ahli, sedangkan yang datang dengan otak kosong ujung-ujungnya hanya akan membantu untuk angkut-angkut. Kerelawanan membutuhkan orang-orang pintar dalam hal-hal teknis, contohnya penerimaan logistik," lanjut Fajar.

Bonusnya, lanjut Fajar, pengalaman, komparasi antara teori dan praktik serta jaringan!(TB/Riz/M-1)

Komentar