Internasional

Hamas Serukan Intifadah

Jum'at, 8 December 2017 05:55 WIB Penulis: Anastasia Arvirianty

AFP/MAHMUD HAMS

PEMIMPIN Hamas, Ismail Haniya, mengatakan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel merupakan sebuah deklarasi perang melawan orang-orang Palestina, dan menyerukan intifadah Palestina baru. "Pengakuan ini membunuh proses perdamaian Israel-Palestina. Kebijakan zionis yang didukung AS tidak dapat dihadapkan kecuali jika kita menyalakan intifadah baru," kata kepala gerakan Islam Palestina bersenjata yang menjalankan Jalur Gaza tersebut, Kamis (7/12). Dia menekankan bahwa Palestina melihat Jerusalem sebagai negara bersatu dan ibu kota negara mereka di masa depan.

"Jerusalem, seluruh Jerusalem, ialah milik kita," kata Haniya di Kota Gaza. Dia meminta semua faksi Palestina untuk segera bersatu agar memiliki strategi untuk menghadapi pendudukan dan kebijakan pemerintah AS di wilayah Palestina. Ini ialah sebuah titik kritis dalam sejarah negara-negara Arab dan muslim setelah keputusan provokatif Trump itu. "Kami mendesak, kami meminta, dan kami menekankan perlunya menata ulang situasi Palestina untuk menghadapi rencana berbahaya ini dan untuk menempatkan prioritas kami dengan jelas menghadapi keputusan yang provokatif dan tidak adil tersebut," katanya.

Keputusan Trump tersebut juga memicu protes besar-besaran di kota-kota Tepi Barat seperti Ramallah, Hebron, dan Nablus, serta di Jalur Gaza. Aparat keamanan Israel membubarkan demonstran dengan gas air mata di pos pemeriksaan memasuki Ramallah. Palang Merah Palestina melaporkan puluhan orang terluka akibat gas air mata, peluru karet dan peluru tajam yang ditembakkan serdadu Israel. Tiga warga Palestina terluka di Kota Khan Yunis di Jalur Gaza, kata sumber-sumber medis dan saksi mata. Di lain pihak, Israel memperketat pengamanan ke daerah pendudukan di Tepi Barat dengan mengerahkan militer tambahan.

Persulit perdamaian
Para pengamat menilai langkah Presiden Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel akan mempersulit proses perdamaian yang selama ini sudah habis-habisan diupayakan menantunya, Jared Kushner. Trump berkilah keputusan itu justru untuk mempercepat proses perdamaian Israel-Palestina yang telah lama tertunda. Namun, analis Timur Tengah mengatakan keputusan itu justru bisa memiliki efek sebaliknya. "Kenapa sekarang? Dia menghancurkan upayanya sendiri?" tanya Ilan Goldenberg, peneliti senior dan Direktur Program Keamanan Timur Tengah di Center for New American Security, sebuah lembaga kajian di Washington.

Lebih lanjut, ia mengatakan skenario terbaiknya ialah keputusan itu itu akan mendongkrak upaya perdamaian Trump. "Skenario terburuknya ialah Anda juga memiliki demonstrasi yang meluas dan kerusuhan besar," lanjutnya. Goldenberg mengatakan langkah tersebut menempatkan Presiden Palestina Mahmud Abbas, yang memperjuangkan Jerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina nanti, dan pemimpin Arab lainnya dalam posisi yang sulit. "Sulit membayangkan Abbas atau salah satu pemimpin Arab dapat terlibat secara politis," katanya.

Trump mengatakan pada beberapa kesempatan bahwa dia bertekad untuk mengupayakan penyelesaian perdamaian Timur Tengah yang disebutnya sebagai sebuah kesepakatan akhir. Goldenberg mengatakan jika Trump benar-benar serius mempromosikan perdamaian Israel-Palestina, dia seharusnya menjadikan status Jerusalem sebagai bagian dari paket perdamaian global. Pengamat lainnya, Barbara Slavin dari the Atlantic Council, mengatakan langkah Trump itu merupakan penegasan bahwa (proses perdamaian Israel-Palestina) ialah sebuah ilusi.

"Upaya perdamaian yang dijalankan Kushner merupakan sebuah upaya untuk menutupi langkah Saudi bekerja sama lebih dekat dengan Israel menghadapi Iran," ujarnya. (AFP/Aljazeera/Arv/I-1)

Komentar