Ekonomi

Tidak Perlu Gentar di Era Digital

Jum'at, 8 December 2017 05:43 WIB Penulis: Nyu/E-2

MI/Arya Manggala

DI tengah isu ketidakpastian ekonomi jelang tahun politik ditambah semakin terdisrupsinya bisnis konvensional akibat digital, para pengusaha harus optimistis menatap 2018.

"Kalau orang menganggap ada disrupsi teknologi dan semua pesimistis, ketakutan itu salah. Ketakutan akan pilkada salah, ketakutan akan daya beli turun salah, kita harus optimistis. Kalau tahun lalu saya ngomong tahun lalu pilkada DKI seperti langit mau runtuh nyatanya sekarang tidak ada apa-apa, jadi ya kita harus menghadapi 2018 dengan smart optimism," ujar Hermawan dalam acara The 12th Annual Markplus Conference 2018 bertajuk Navigating the Unpredictables di Hotel Ritz-Carlton Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan optimisme yang cerdas tersebut ada dalam rumus DAMO, yakni discovery, adventure, momentum, dan outlook.

Dari sisi discovery, kata dia, pelaku usaha khususnya yang offline harus menemukan cara baru bagi konsumen untuk berbelanja seperti memanfaatkan teknologi.

"Orang pindah beli baju dengan pengalaman baru pakai teknologi. Pesan makanan dan tiket bioskop, langsung via gadget," tukas pria yang berprofesi sebagai pakar pemasaran itu.

Dari sisi adventure, Hermawan berpendapat, dunia bisnis harus berani bermigrasi memperluas pasar melalui online.

Akan tetapi, kata dia, ini bukan berarti disrupsi melainkan hanya mengembangkan bisnis.

Begitu pula perusahaan-perusahaan startup yang memulai bisnis secara online, juga harus berani mengembangkan bisnisnya secara offline.

Hermawan menilai bergugurannya banyak ritel tahun ini disebabkan tidak mengembangkan pasar secara online.

"Ritel jangan hanya jadi ritel biasa, jadilah new retail. Kalau ritel yang berguguran itu kan ritel yang tidak ada online kayak Glodok, tapi kalau Alfamart bagus karena pakai online," tegasnya.

Komentar