Humaniora

3 Provinsi Imunisasi Difteri Lebih Dulu

Jum'at, 8 December 2017 05:13 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

TIGA provinsi segera melakukan imunisasi kembali atau outbreak response imunisasi (ORI) untuk menindaklanjuti kejadian luar biasa (KLB) difteri.

Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia.

Ketiga provinsi yang akan melakukan imunisasi kembali lebih dulu adalah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohamad Subuh mengatakan, dipilihnya Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat untuk melakukan imunisasi lebih awal karena potensi transmisi penyakit menular itu masih tinggi.

Transmisi yang tinggi tersebut didorong padatnya jumlah penduduk dan tingginya mobilisasi di tiga provinsi itu.

"Ada 20 provinsi yang melaporkan kasus (difteri). Beberapa kabupaten/kota melaporkan KLB dan di sebagian kabupaten/kota tersebut KLB sudah tertangani," kata Subuh di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, ketiga provinsi akan melakukan imunisasi lebih awal juga karena memiliki jumlah kasus lebih banyak dan kelompok usia dewasa juga terkena prenyakit tersebut.

Ia menyebutkan, di DKI Jakarta terdapat 22 kasus difteri.

Di Jawa Barat terdapat 123 kasus yang tersebar di 18 kabupaten/kota dengan 13 orang meninggal dunia.

Kasus terbanyak terjadi di Purwakarta dengan 27 kasus diikuti Karawang 14 kasus.

Di Banten , ujarnya, terdapat 63 kasus dengan sembilan orang meninggal dunia, dan hingga kini masih ada tiga orang yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang.

Dua orang di antara mereka berasal dari Kota Tangerang dan 1 orang dari Depok.

"Walaupun Jawa Timur memiliki paling banyak kasus difteri, provinsi itu sudah lebih dulu melaksanakan ORI (outbreak response immunization)," ujarnya.

Tingkat penularan difteri, lanjut Subuh, sangat tinggi karena penularan bakteri tersebut terjadi melalui percikan ludah saat bersin atau batuk.

Karena itu, ia menekankan segera dilakukan imunisasi ulang secara massal di seluruh wilayah yang terdapat kasus difteri.

"Imunisasi ulang dilakukan tiga putaran. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua selama satu bulan, sedangkan jarak antara putaran kedua dan ketiga selama enam bulan. Putaran pertama dilaksanakan pada 11 Desember 2017, dilanjutkan pada 11 Januari dan 11 Juli 2018," tegas Subuh.

Lindungi diri

Ia juga meminta semua warga untuk melindungi diri sendiri dengan memastikan anggota keluarganya telah memiliki status imunisasi lengkap mengingat penyebaran difteri terus berkembang.

Subuh menjelaskan, imunisasi difteri aman.

Adapun efek yang umum terjadi seperti demam setelah anak menda-pat imunisasi merupakan hal wajar.

"Setelah imunisasi bisa diberikan obat penurun demam," tuturnya.

Sementara itu, di Jawa Timur, dari 318 kasus difteri yang menyebar di 35 kabupaten mengakibatkan 12 orang meninggal dunia.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Kohar Hari Santoso di Surabaya, jumlah korban sebanyak itu terjadi sejak Januari hingga akhir November lalu.

Angka kejadian itu, ujarnya, berkurang bila dibandingkan dengan tahun lalu yang ter-catat 352 kasus.

Namun, tahun ini jumlah penderita yang meninggal dunia lebih banyak dibandingkan tahun lalu, yakni tujuh orang.

Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sepanjang tahun ini juga ditemukan tiga kasus difteri.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Asep Helmiono mengatakan, kasus tersebut terjadi di Kecamatan Cilaku, Cikadu, dan Kecamatan Cugenang.

(FL/BB/H-2)

Komentar