Humaniora

Pinisi Jadi Warisan Budaya Dunia

Jum'at, 8 December 2017 05:03 WIB Penulis: RO/H-3

MI/Abdus Syukur

SENI pembuatan perahu tradisional Sulawesi Selatan, pinisi, masuk daftar warisan budaya tak benda UNESCO.

Penetapan itu dilakukan pada Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Jeju Island, Korea Selatan, kemarin.

Melalui siaran pers, Tim Delegasi Indonesia untuk sidang itu menjelaskan pinisi mengacu pada sistem tali temali dan layar sekunder Sulawesi.

Penetapan pinisi: art of boatbuilding in South Sulawesi sebagai warisan budaya tak benda UNESCO dinilai sebagai bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan akan teknik perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia.

Tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi dan masih berkembang hingga hari ini.

"Penetapan ini sekaligus menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan warisan budaya tak benda yang ada di wilayah masing-masing," ujar Wakil Tetap RI di UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan.

Pinisi tidak hanya dikenal sebagai perahu tradisional masyarakat yang tangguh untuk wilayah kepulauan seperti Indonesia, tetapi juga tangguh pada pelayaran internasional.

Pinisi menjadi lambang dari teknik perkapalan tradisional negara kepulauan. Pinisi merupakan bagian dari sejarah dan adat istiadat masyarakat Sulawesi Selatan khususnya, dan wilayah Nusantara pada umumnya.

Pengetahuan tentang tek-nologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung ini sudah dikenal setidaknya sejak 1.500 tahun lalu.

Saat ini pusat pembuatan perahu ini ada di wilayah Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Serangkaian tahapan dari proses pembuatan perahu mengandung nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian/presisi, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Dengan penetapan pinisi ini, Indonesia telah memiliki 8 elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya tak Benda UNESCO.

Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah wayang (2008), keris (2008), batik (2009), angklung (2010), tari Saman (2011), noken Papua (2012), dan tiga genre tari tradisional Bali (2015).

Serta satu program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Komentar