Internasional

Donovan Mengaku Terjemahan Rilis Indonesia Salah

Kamis, 7 December 2017 21:26 WIB Penulis: Irene Harty

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

DUTA Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Joseph R Donovan mengakui adanya kesalahan dalam terjemahan rilis yang diunduh ke situs Kedutaan Besar AS pada Kamis (7/12) mengenai keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Hal itu dikatakannya setelah memenuhi panggilan pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi di sela-sela Bali Democracy Forum (BDF) X di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD Serpong, Banten, Kamis (7/12).

"Saya di sini mengklarifikasi kontradiksi kesalahpahaman pernyataan dalam Bahasa Inggris yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dalam situs kami," imbuhnya.

Pernyataan dalam Bahasa Inggris dikatakan lebih akurat tanpa pernyataan bahwa 'pemerintah AS telah berkonsultasi dengan para rekan, mitra, dan sekutunya termasuk Indonesia, sebelum mengeluarkan keputusan tersebut'.

Selebihnya, rilis mengenai dukungan Presiden Trump untuk solusi dua negara tetap dilakukan jika memang itu dikehendaki kedua belah pihak.

AS juga disebut mendukung status quo situs suci Bukit Kuil atau Haram al-Sharif dan Yerusalem harus terus menjadi tempat dimana warga Yahudi berdoa di Tembok Barat, umat Kristiani melintasi Jalan Salib, dan umat Muslim beribadah di Masjid Al-Aqsa.

Donovan juga mengaku pihaknya bertemu dengan Retno untuk menerima reaksi pemerintah Indonesia atas keputusan Presiden AS, Donald Trump untuk menetapkan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

"Retno tidak mengetahui keputusan Presiden Trump sampai itu diumumkan. Namun sebelumnya retno telah meminta AS untuk tidak mengambil langkah ini," lanjutnya.

"Presiden percaya langkah yang tepat saat ini adalah mengakui fakta bahwa institusi Pemerintah Israel terletak di Yerusalem," tambah Donovan.

Sementara itu, Menlu Retno menyatakan atas instruksi Presiden RI, Joko Widodo, pemerintah Indoensia menyampaikan pernyataan sangat keras hingga meminta kedatangan Donovan untuk menyampaikan posisi resmi pemerintah Indonesia.

"Saya juga menyampaikan rilis kedutaan AS yang tidak mencerminkan situasi sebenarnya, Dubes menyampaikan ada kesalahan penerjemahan bahwa versi Indonesia tidak benar. Bahwa rilis Bahasa Indonesia salah," tutur Retno.

Dengan kejelasan tersebut, retno berharap kesalahpahaman dan interpretasi atas aksi dan posisi yang disampaikan pemerintah Indonesia sudah jelas dari awal.

"Kita sudah menyampaikan pesan keras. Kita minta AS membatalkan dan mempertimbangkan kembali karena apabila dilakukan akan membahayakan proses perdamaian dan perdamaian itu sendiri," tandas Retno. (OL-6)

Komentar