Nusantara

Kerugian Banjir di Aceh Utara Capai Rp250 Miliar

Kamis, 7 December 2017 20:24 WIB Penulis: Amiruddin Abdullah Reubee

MI/Amiruddin Abdullah

GENANGAN banjir di sebagian kawasan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, hingga Kamis (7/12) siang mulai surut. Sebagian besar pengungsi juga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

Berdasar penuturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, Munawar, kepada Media Indonesia, Kamis, kerugian akibat banjir besar itu mencapai kisaran Rp250 miliar. Namun, pihaknya belum bisa memastikan secara persis karena banjir belum pulih sempurna.

Kerusakan paling parah yakni kerusakan struktur dan infrastuktur akibat terjangan air. Di antaranya yaitu ada sekitar 5 unit jembatan, puluhan kilometer badan jalan, dan tanggul sungai hancur. Itu belum lagi ditambah dengan kerugian akibat lumpuhnya perekonomian warga.

"Walaupun perkiraan sementara, saya kira kerugian akibat bencana banjir kali ini mencapai Rp200 miliar lebih. Misalnya banyak tanggul sungai dan jalan hancur. Ini banjir paling besar sejak tiga tahun terakhir" katanya.

Dikatakan Munawar, menurut pantauan, cuaca di Aceh Utara pada Kamis siang sudah mulai mabaik. Banjir akibat luapan tujuh sungai yang berhulu di Kabupaten Bener Meriah mulai surut. Jumlah pengungsi yang sebelumnya tersebar di 15 titik dan mencapai 16.375 ribu jiwa, kini berkurang tinggal 9 kecamatan lagi.

Dari tinggal 9 kecamatan lokasi pengungsi itu, pihaknya sudah mendapat laporan di 7 kecamatan yang jumlahnya 9.751 jiwa.

"Sudah ada laporan dari camat, jumlah pengungsi tinggal 9.751 jiwa, mereka tersebar di 7 kecamatan" jelas Munawar.

Para pengungsi banjir yang masih bertahan itu antara lain di Kecamatan Samtalira Aron 1.199 jiwa, Baktiya Barat 532 jiwa, dan Kecamatan Lapang 830 jiwa.

"Alhamdulillah mudah-mudahan terus berkurang dan cuaca semakin normal" ujarnya.

Pada bagian lain, para korban banjir di bumi Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia sangat mengharapkan bantuan dari donatur. Pasalnya, mereka sekarang mengalami krisis bahan makanan, pakaian, selimut, perlengkapan bayi, dan air bersih.

Walaupun ada sebagian korban banjir sudah mulai pulang ke rumah, tapi persediaan beras, bahan pokok, dan kebutuhan sehari-hari sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali sehingga harus mengharap bantuan tetangga.

Kondisi seperti demikian sangat terasa di Kawasan Kecamatan Pirak Timu yang merupakan sebuah lokasi terpencil yang dilanda banjir parah sejak sepekan terakhir.

"Kami jauh dari jalur keramaian ibu kota kabupaten, sulit dari jangkauan pihak luar. Untuk keluar ke pusat kecamatan saja harus menggunakan perahu" tutur Abdur Rahman, tokoh masyarakat Desa Leupe, Kecamatan Pirak Timu.

Kondisi hampir sama juga dikatakan Abdul Latif, warga Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas. Latif mengaku belum ada ada bantuan sejak rumahnya terendam air setinggi 1 meter sejak sepekan terakhir.

"Gabah padi yang saya simpan untuk kebutuhan keluarga pun sempat terendam. Sekarang sangat menanti bantuan dari donatur lain," kata lelaki berusia 60 tahun itu berharap. (OL-2)

Komentar