Internasional

Indonesia-Tiongkok Luncurkan Rencana Aksi Kerjasama Teknologi

Kamis, 7 December 2017 18:23 WIB Penulis: RO/Micom

MI/DEDE SUSIANTI

PADA tahun ini Tiongkok dan Indonesia akan meluncurkan Rencana Aksi tiga tahun (2018-2020) tentang kerja sama ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Rencana Aksi ini memiliki makna penting dalam peningkatan kerja sama Iptekin antara kedua negara, juga dalam memandu kerja sama inovasi antara Tiongkok dan ASEAN.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Tiongkok Madam Liu Yandong saat pembukaan Forum Kerja Sama Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi Tiongkok-Indonesia yang digelar pada, Senin (27/11).

Pertama, kata Liu Yandong, diperkuatnya perencanaan di tingkat tinggi untuk mewujudkan koordinasi strategi pembangunan antara kedua negara. Kedua negara harus memanfaatkan sebaik-baiknya fungsi Mekanisme Pertemuan People-to-people Exchange tingkat Wakil PM.

"Kedua negara juga perlu mempertahankan sikap saling menghormati, menjunjung kesetaraan, dan mengutamakan keuntungan bersama. Kedua negara perlu memperkuat kerja sama di bidang teknologi kelautan, pengembangan konstruksi transportasi, bioteknologi, pengembangan konstruksi pelabuhan, Science and Technology Park, dan lain-lain," ujarnya.

Selain itu, kedua negara perlu mengembangkan fungsi pendukung dan pemandu bagi kerja sama Iptekin demi mendorong pembangunan ekonomi, meningkatkan kualitas kehidupan rakyat, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Kedua, lanjutnya, perlu ditumbuhkannya sikap untuk saling melengkapi secara positif demi meningkatkan level kerja sama Iptekin secara menyeluruh. Kedua negara perlu meningkatkan level kerja sama dan memperbarui pola kerja sama.

"Misalnya, teknologi Tiongkok di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir cukup terjamin secara teknis, unggul dalam hal keamanan, dan kompetitif di bidang ekonomi. Karena itu, kerja sama antara kedua negara dalam membangun laboratorium bersama High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR) adalah sebuah upaya yang sangat baik dalam mewujudkan kolaborasi antara kebutuhan pembangunan Indonesia dengan teknologi unggul yang dimiliki Tiongkok," tuturnya.

Ketiga, katanya, terwujudnya pertukaran personel yang erat demi pembinaan sumber daya manusia bersama. Kedua pihak perlu meningkatkan sinergi dalam bidang pendidikan dan penelitian serta mendukung saling kunjung antara pelajar, tenaga ahli dan para pengajar dari institusi pendidikan tinggi kedua negara, demi terwujudnya perpaduan organik antara tugas riset dengan pembinaan SDM.

"Kedua pihak perlu membentuk mekanisme pertukaran personel di bidang Iptek yang beragam dan mencakup semua tingkatan. Tiongkok bersedia menyediakan bantuan yang lebih besar bagi para ilmuwan muda Indonesia untuk melakukan riset jangka pendek di Tiongkok. Kedua pihak perlu mendorong generasi muda kedua negara untuk merintis kerja sama inovasi dan wirausaha, sehingga mereka bisa bertumbuh dan berkembang secara bersama-sama," tuturnya.

Kemudian, rencana aksi keempat, yakni dengan semakin meluasnya bidang-bidang koordinasi regional agar hasil kerja sama Iptekin semakin dirasakan, kedua pihak perlu bergandeng tangan merintis kerja sama pihak ketiga.

Kedua pihak juga perlu meningkatkan kerja sama sebagaimana tertuang dalam Rencana Aksi Iptekin “One Belt One Road” dan Program Kemitraan Teknologi Tiongkok-ASEAN, serta berupaya bersama demi kesuksesan penyelenggaraan “Tahun Inovasi Tiongkok-ASEAN”.

"Kedua pihak juga perlu membangun tatanan yang baik yang dengan dukungan bersama antara pemerintah, industri, pendidikan, dan kalangan masyarakat. Kedua pihak perlu membangun komunitas inovasi regional, menyumbangkan pengetahuan dan tenaga demi kemajuan bersama antara Tiongkok, Indonesia, dan kawasan Asia Pasifik," tukasnya. (OL-7)

Komentar