Humaniora

Pinisi Masuk Daftar Warisan Budaya Dunia

Kamis, 7 December 2017 17:26 WIB Penulis: Basuki Eka Purnama

ANTARA/Abriawan Abhe

PINISI, seni membuat perahu asal Sulawesu Selatan resmi masuk dalam warisan budaya tak benda dunia UNESCO (UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Hal itu diputuskan dalam sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO yang digelar di Pulau Jeju, Korea Selatan, kemarin.

"Pinisi mengacu pada sistem tali temali dan layar sekuner Sulawesi. Pinisi tidak hanya dikenal sebagai perahu tradisional masyarakat yang tangguh untuk wilayah kepulauan seperti Indonesia tetapi juga tangguh pada pelayaran Internasional. Pinisi menjadi lambang dari tekhnik perkapalan tradisional negara Kepulauan. Pinisi adalah bagian dari sejarah dan adat istiadat masyarakat Sulawesi Selatan khususnya dan wilayah Nusantara pada umumnya," ungkap Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia.

Pengetahuan tentang teknologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung ini sudah dikenal selama setidaknya 1.500 tahun. Polanya didasarkan atas teknologi yang berkembang sejak 3.000 tahun lalu, berdasarkan teknologi membangun perahu lesung menjadi perahu bercadik.

Saat ini, pusat pembuatan perahu itu ada di wilayah Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba. Serangkaian tahapan dari proses pembuatan perahu mengandung nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian/presisi, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Menurut Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, penetapan Pinisi dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan akan teknik perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia yang diturunkan dari generasi ke generasi dan yang masih berkembang sampai hari ini.

Dengan penetapan Pinisi sebagai warisan budaya tak benda, Indonesia kini memiliki delapan elemen budaya dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO.

Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya ialah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012), dan Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015). Serta satu program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO mengadakan sidang pada 4-9 Desember 2017 di Pulau Jeju, Korsel. Sidang itu dihadiri Duta Besar LBBP Prancis, Monaco dan Andora/Wakil Tetap RI di UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan; Duta Besar/Deputy Wakil Tetap RI untuk UNESCO, TA Fauzi Soelaiman; Kasi Pengusulan Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hartanti Maya Krishna; Wakil Bupati Kabupaten Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, beserta tim delegasi Indonesia lainnya.

Dalam sidang tersebut, 24 negara anggota Komite membahas enam nominasi untuk kategori List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding, serta 35 nominasi untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dari 175 negara yang sudah meratifikasi konvensi 2003 UNESCO.

Sekretariat ICH UNESCO menggarisbawahi perlunya Indonesia membuat program untuk tetap menjaga ketersediaan bahan baku bagi keberlanjutan teknologi tradisional ini yang diwujudkan dalam bentuk perahu yang berbahan baku utama kayu.

Selain itu, sidang juga menilai perlunya program-program baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal terkait dengan transmisi nilai tentang teknik dan seni pembuatan perahu tradisional ini kepada generasi muda.

Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan bahwa komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Pinisi ke dalam daftar ICH UNESCO.

"Hal itu menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Tak Benda yang ada di wilayah masing-masing terutama bagi pengembangan pengetahuan, teknik dan seni warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan di tanah air pada umumnya, seperti pembuatan perahu tradisional Pinisi ini," jelasnya. (RO/I-2)

Komentar