Megapolitan

Tarif Tol Dalam Kota Naik Rp500 Mulai Besok

Kamis, 7 December 2017 10:15 WIB Penulis:

MI/RAMDANI

TARIF ruas tol dalam kota yakni Cawang-Tomang-Pluit dan Cawang-Tanjung Priok-Pluit dipastikan mengalami kenaikan sebesar Rp500 dari Rp9.000 menjadi Rp9.500 untuk golongan I per 8 Desember mendatang.

Kenaikan pun terjadi untuk golongan lainnya di ruas yang sama.

Tidak hanya Tol Dalam Kota, empat ruas tol lain yang dioperasikan PT Jasa Marga yakni Belawan-Tanjung Morawa, Surabaya-Gempol, Palimanan-Kanci dan Semarang Seksi A, B, C juga mengalami kenaikan tarif.

Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan mengungkapkan penetapan kenaikan tarif di lima ruas tol itu sudah sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Pasal 48 ayat 3 tentang Jalan Tol.

Keputusan itu menyebutkan penyesuaian tarif rutin dijalankan setiap dua tahun sekali berdasarkan tarif lama sesuai pengaruh inflasi.

"Penyesuaian tarif tol diterapkan mulai 8 Desember 2017 pukul 00.00 waktu setempat," ujar Agus di Kantor Pusat Jasa Marga, kemarin.

Kenaikan tarif tol tidak sama di setiap ruas karena mengikuti laju inflasi setiap provinsi yang dilewati ruas tol itu.

Penghitungannya berdasarkan tarif berlaku saat ini ditambah akumulasi laju inflasi provinsi selama 2 tahun terakhir.

"Kenaikan akan mengikuti akumulasi inflasi di daerah masing-masing. Kalau Jakarta, Cirebon, Semarang, dan Surabaya rata-rata 6%-7%. Yang paling tinggi di Medan sampai 10%. Tapi, bukan berarti tarif naik karena ada inflasi. Inflasi itu hanya parameter karena di business plan memang sudah dijanjikan pemerintah kepada seluruh BUJT (badan usaha jalan tol)," jelas Agus.

Sejauh ini, ruas Tol Dalam Kota masih menjadi pemberi kontribusi terbesar bagi perseroan dengan volume 674 ribu kendaraan per hari.

Disusul Surabaya-Gempol sebanyak 282 ribu transaksi per hari, Semarang Seksi A, B, C 132 ribu, Belawan-Tanjung Morawa 72 ribu, serta Palikanci sebanyak 34 ribu.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) keberatan atas kenaikan tarif tol.

YLKI menilai kenaikan tarif itu bisa memicu kelesuan ekonomi karena beban alokasi belanja masyarakat akan bertambah di sektor transportasi.

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi menganggap apa yang dilakukan BUJT belumlah optimal mengingat jalan tol saat ini kerap menjadi sumber kemacetan baru dan minimnya rekayasa lalu lintas untuk pengendalian kendaraan pribadi.

"Kenaikan tarif tidak adil bagi konsumen karena Kementerian PUPR hanya memerhatikan kepentingan operator jalan tol, yakni dari aspek inflasi saja. Adapun aspek daya beli dan kualitas pelayanan pada konsumen praktis dinegasikan," tandas Tulus Abadi. (Pra/J-2)

Komentar