Internasional

Kedepankan Diplomasi Kemanusiaan dan Perdamaian

Kamis, 7 December 2017 09:25 WIB Penulis: Irene Harty dan Anastasia Arvirianty

MI/ARYA MANGGALA

SEPANJANG 2017, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah bekerja keras melakukan berbagai aksi diplomasi.

Ada dua aksi diplomasi Indonesia yang menonjol sepanjang tahun ini, yaitu di Marawi, Filipina, dan konflik Rohingya di Myanmar dan Bangladesh.

Berikut wawancara khusus wartawan Media Indonesia Irene Harty dan Anastasia Arvirianty dengan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (4/12).

Sepanjang 2017, Kementerian Luar Negeri RI menonjol dalam membantu berbagai persoalan dengan diplomasi humanisnya. Apa saja pencapaian diplomasi RI dan penghargaan yang diterima sepanjang tahun ini?

Diplomasi kemanusiaan dan diplomasi perdamaian memang cukup menonjol sepanjang 2017.

Jadi, kalau di tahun-tahun sebelumnya, diplomasi kemanusiaan kita itu banyak menangani masalah keamanan, perairan Sulu dan sebagainya, pembebasan para sandera, kemudian juga repatriasi warga negara kita dari negara konflik Yaman pada 2015, tahun ini, kita berusaha memberi kontribusi untuk Marawi.

Setelah Marawi diserang kelompok teroris lokal, kita membantu Filipina untuk penguatan kerja sama di bidang counterterrorism dan di sela-sela pertemuan ASEAN, tiga menteri luar negeri dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina duduk kembali.

Kita juga bicara mengenai apa yang perlu kita lakukan setelah Marawi dibebaskan karena Marawi dibebaskan bukan berarti ancaman turun.

Ancaman tetap di sana, laten, oleh karena itu kerja sama counterterrorism tetap akan kita jalankan.

Belum lagi diplomasi kemanusiaan kita yang terkait dengan isu di Rakhine State.

Jadi tahun lalu kita melakukan itu.

Cycle of violence terjadi pada Oktober tahun lalu. Mulai November, saya sudah di sana.

Desember, saya ke sana.

Terus kemarin, pada saat new cycle of violence terjadi lagi pada 25 Agustus, 4 September saya sudah ada di Myanmar.

Kita menyambut baik ditandatanganinya arrangement antara Bangladesh dan Myanmar untuk masalah repatriasi karena masalah ini sangat penting.

Kita sangat mengharapkan implementasi arrangement yang ditandatangani Myanmar dan Bangladesh ini dilakukan sesegera mungkin.

Kita sudah sampaikan dalam pertemuan saya dengan menteri sosial Myanmar bahwa Indonesia tetap siap membantu di dalam konteks repatriasi, menerima repatriasi misal mengenai masalah selter atau housing, kemudian masalah yang terkait dengan livelyhood dan lain-lain.

Untuk krisis yang terjadi di Myanmar, kira-kira sudah sampai mana keberhasilan upaya diplomasi Indonesia?

Kita mencoba membantu Myanmar dan Bangladesh.

Saya berkomunikasi juga dengan Bangladesh apa yang dapat dilakukan Indonesia untuk mengurangi, at least untuk mengurangi beban dampak krisis kemanusiaan ini.

Misalnya di Bangladesh, hasil pembicaraan saya dengan perdana menteri dan menteri luar negeri Bangladesh membuat Presiden mengirimkan bantuan kemanusiaan antara lain tenda kemudian obat-obatan, dan makanan pokok. Kita bersama LSM kita juga membantu.

Sekarang di Bangladesh ada pelayanan kesehatan, dokter, dan sebagainya. Tentunya bekerja sama dengan otoritas setempat.

Baru-baru ini Pak Dubes kita juga melakukan groundbreaking pembangunan rumah sakit Indonesia.

Ini juga kerja sama berbagai macam pihak untuk memajukan rumah sakit Indonesia.

Jadi kemarin groundbreaking fase kedua untuk membangun kompleks dokter dan perawat.

Jadi banyak hal yang kita lakukan untuk membantu penyelesaian krisis kemanusiaan.

Dari berbagai persoalan yang ditangani, manakah yang tersulit?

Politik luar negeri itu tidak hanya menangani konflik.

Politik luar negeri di kita prioritasnya ada empat.

Satu, melindungi NKRI; dua, perlindungan WNI; tiga, diplomasi ekonomi; dan empat, peran kita di kawasan dan dunia termasuk di antaranya pada saat konflik terjadi kita berusaha beri kontribusi.

Politik luar negeri tidak cuma menyelesaikan konflik, tapi juga yang sangat kelihatan tantangannya besar tapi pencapaiannya konkret ialah perlindungan WNI.

Semua isu ada tantangannya. Tantangannya beda-beda. Alhamdulillah hingga sekarang kita bisa menjalankannya dengan baik.

Untuk masalah perlindungan WNI, saya ingin memberi sedikit data untuk 2017, per Oktober, kita itu sudah menyelesaikan 27.336 kasus yang menyangkut WNI di luar negeri.

Kita jadi merepatriasi 45.844 WNI yang memiliki masalah utamanya karena overstayers.

Kemudian sampai 2017, ini mundur tiga tahun, ya, kita sudah mengevakuasi dari wilayah konflik perang 16.414 WNI.

Jadi kenapa saya tampilkan angka? Dari situ kelihatan sekali magnitude tantangannya dan dari situ terlihat seberapa jauh keberhasilan kita.

Apa rencana diplomasi Indonesia pada 2018?

Empat prioritas akan kita teruskan karena itu kan bukan prioritas setahun, melainkan empat priroitas untuk lima tahun dan dari waktu ke waktu dari setiap tahun hal yang menyangkut empat prioritas itu berbeda-beda.

Jadi seperti yang saya sampaikan 2015 kita waktu itu harus evakuasi ribuan WNI kita dari Yaman, berarti saat itu kita fokuskan di situ.

Tahun ini banyak sekali perhatian kita untuk krisis kemanusiaan di Myanmar, untuk Marawi, untuk Sulu yang kita lakukan.

Kita akan tetap berusaha untuk membantu agar krisis kemanusiaan di Rakhine dapat segera diselesaikan dan sekali lagi repatriasi itu dapat dilakukan dengan save and dignified repatriation.

Rumah sakit masih dalam proses dan kita akan melihat.

Sekali lagi jika kita mau membantu kita bicara bantuan apa yang kamu perlukan tetapi at least mereka paham bahwa kita mau membantu sehingga kalau sewaktu-waktu diperlukan ada additional assistant yang diperlukan dari kita, kita dengan senang hati membantu.

Rumah sakit akan kita teruskan, pelayanan kesehatan akan kita teruskan.

Kita akan lihat apakah diperlukan pemerintah Myanmar penambahan pembangunan rumah sakit misalnya.

Jadi tidak bisa begitu saja, kita harus bicara dengan mereka, kebutuhannya juga yang paling tahu adalah mereka.

Mereka membentuk berbagai macam komite.

Intinya kita membantu mereka.

Sekali lagi karena ini masalah manusia yang harus kita prioritaskan, kita perhatikan, sehingga dapat selesai. (I-2)

Komentar