Humaniora

Imunisasi Ulang untuk Atasi KLB Difteri

Kamis, 7 December 2017 07:43 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

PEMERINTAH segera melakukan imunisasi kembali atau outbreak response immunization (ORI) untuk menindaklanjuti laporan kejadian luar biasa wabah difteri di 20 provinsi dan 95 kabupaten/kota.

Imunisasi kembali akan dilakukan serentak di 12 kabupaten/kota pada 11 Desember.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohamad Subuh mengatakan imunisasi akan menyasar anak-anak usia satu tahun hingga di bawah 19 tahun.

"Secara epidemiologi beban daerah yang paling berat adalah Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sehingga imunisasi dilakukan lebih dulu karena kepadatan penduduknya," kata Subuh dalam konferensi pers mengenai kejadian luar biasa difteri di Kantor Kemenkes, Jakarta, kemarin.

Penyuntikan pertama, tuturnya, dilakukan pada 11 Desember, lalu diulang untuk penguatan pada enam bulan berikutnya. Sebanyak 12 kabupaten/kota yang vaksinasinya dilakukan lebih dulu yaitu Jakarta Barat, Jakarta Utara, Purwakarta, Karawang, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan Kota Tangerang Selatan.

"Cakupannya seluruh kabupaten/kota. Jadi bukan di kecamatan saja," imbuhnya.

Saat ini logistik untuk imunisasi itu tengah dipersiapkan karena pemerintah akan membutuhkan banyak vaksin.

Untuk memenuhi kebutuhan vaksi, tutur Subuh, Kemenkes telah berkoordinasi dengan perusahaan Bio Farma.

Selain itu, pemerintah daerah diminta dukung operasional pelaksanaan imunisasi kembali.

Sejak Januari hingga November 2017, Kemenkes menerima laporan 593 kasus diduga difteri di 20 Provinsi. Sebanyak 32 orang di antara penderita dilaporkan meninggal dunia.

Batuk dan demam

Gejala difteri hampir sama dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Umumnya batuk disertai demam selama lima hingga enam hari.

Pada waktu pemeriksaan tenggorokan ditemukan pseudomembran yang biasanya ditegakkan sebagai suspect difteri.

Subuh menjelaskan imunisasi ialah langkah paling efektif mencegah semakin luasnya wabah. Difteri merupakan penyakit yang penularannya cenderung mudah, yakni melalui percikan atau droplet saat batuk ataupun bersin.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk mengecek kembali status imunisasi apakah sudah lengkap atau belum.

"Saat ini diperlukan imunisasi rutin agar kekebalan dapat dibangun. Kekebalan komunitas dapat dicapai apabila cakupan imunisasi mencapai 95%. Saya berharap masyarakat tidak menolak pelaksanaan outbreak response immunization," ucapnya.

Imunisasi difteri merupakan imunisasi wajib yang diberlakukan sejak 30 tahun lalu dan diberikan pada bayi usia enam bulan kemudian diulang ketika usia sekolah dasar.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menyampaikan kepadatan penduduk dan migrasi orang berpengaruh dalam penularan difteri.

"Awalnya kasus difteri di Tangerang, Banten, kemudian posisinya menyebar. Jakarta Barat dan Jakarta Utara dilakukan imunisasi kembali karena kasusnya banyak," pungkasnya.

Sementara itu, di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ditemukan satu orang yang terkena difteri.

(DG/DW/H-2)

Komentar