Jeda

Dipengaruhi Revolusi Digital

Ahad, 3 December 2017 11:30 WIB Penulis:

Klik gambar untuk memperbesar

LANGKAH berbagi yang dilakukan pasangan pengantin di acara pernikahan mereka diapresiasi sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar. Ia menilai sikap tersebut merakyat dan rasional.

“Salah satu yang dianggap unik itu ada yang kemudian mengadakan pesta. Kalau di restoran kan sudah biasa. Kalau di gedung itu sudah umum dilakukan. Akan tetapi, kalau misalnya dilakukan di rumah jompo itu kan mencerminkan sikap yang merakyat,” ujar Musni.

Lebih lanjut, Musni berpendapat rasionalitas tersebut juga dipengaruhi revolusi digital yang terjadi saat ini. Dengan arus informasi yang deras, masyarakat dapat melihat jika kebebasan berpendapat dan bertindak semakin mendapat tempat.

Maka kaum muda pun lebih berani menunjukkan sikap termasuk dalam cara merayakan pernikahan mereka. Pada dasarnya, acara pernikahan tetap menjadi perayaan momentum yang spesial. Namun, sekarang ini, cara merayakannya tidak lagi melulu dengan tradisi lama.

“Revolusi media sosial telah mengubah budaya dari masyarakat tradisional yang sangat mengagungkan tradisi dan budaya menjadi masyarakat yang sangat rasional. Rasional itu misalnya mereka mengadakan pesta yang sederhana. Para tamu yang datang pun bukan untuk sekadar makan. Para tamu memberi sumbangan. Mereka (pengantin) juga punya perasaan bukan sepatutnya mereka yang menerimanya. Biarlah orang lain,” tutur Musni.

Di sisi lain, mengenai keunikan kemasan pestanya, Musni mengingatkan untuk tidak sekadar meniru budaya luar. Menurutnya, budaya asli yang sarat dengan nilai-nilai baik juga harus dilestarikan.

Bahkan akan lebih baik lagi jika kreativitas dalam acara pernikahan tetap berdasar pada nilai-nilai tradisi baik yang sudah ada. Dengan begitu budaya akan terlestarikan dan bisa dikenal hingga luar negeri.

“Meniru budaya itu bagus, tapi yang sifatnya kreatif yang bisa mendorong bangkitnya negeri ini. Bangkitnya rakyat kita bersaing di tengah kehidupan bangsa. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga antarbangsa,” paparnya.

Di tempat berbeda, budayawan Radhar Panca Dahana menilai acara pernikahan unik sesungguhnya bukan hal baru.

“Biasa saja. Banyak yang begitu dari zaman dulu di luar negeri, banyak. Mau menikah di jalan raya, mau menikah di dalam laut, mau menikah di atas pohon, sampai di makam juga ada,” terang Radhar. Radhar menganjurkan untuk tidak terjebak dalam peristiwa-peristiwa tersebut. (Zuq/M-3)

Komentar