WAWANCARA

Berubah atau Tergilas oleh Perubahan

Ahad, 3 December 2017 10:45 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/Ramdani

BERAGAM perubahan sedang terjadi menuntut masyarakat untuk segera beradaptasi. Jika tidak, ancaman tergilas oleh zaman semakin kuat. Perubahan itu juga menuntut masyarakat menciptakan era baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bagaimana sebenarnya perubahan itu terjadi dan sejauh mana akan berdampak pada kehidupan? Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan akademisi dan praktisi bisnis <b>Rhenald Kasali<p> yang belum lama ini menerbitkan buku Disruption yang membahas strategi di tengah tren digitalisasi saat ini.

Di buku Disruption, Anda menjelaskan disrupsi terjadi pada banyak hal. Namun, banyak yang berpendapat masalah disrupsi hanya menyangkut teknologi. Bagaimana Anda menyikapi kritik tersebut?

Saya tidak peduli apakah masyarakat mau percaya atau tidak terhadap konsep disrupsi. Bagi yang percaya silakan menerapkan karena ini berdasarkan riset, bukan pikiran opini. Riset tersebut sudah ada sejak 1997, 200 tahun setelah Robert Maltus menulis populasi. Di situ dia mengatakan bumi akan kalah menghadapi pertumbuhan manusia, tapi dari situlah kemudian manusia yang percaya merevolusi dunia dengan menyediakan pangan lebih cepat dan transportasi lebih efisien. Sekarang terbukti, setiap 12 tahun sekali bertambah 1 miliar jumlah penduduk di muka bumi ini. Itu cara pandang ilmuwan melihat dunia sehingga kemudian manusia merespons. Pada 1997 ketika teori disruption muncul, belum ada digital disruption, tetapi pada waktu itu teorinya sudah meramalkan apa yang terjadi ke depan. Yaitu menjawab pertanyaan mengapa perusahaanperusahaan hebat (great company) bisa jatuh. Bisa juga great nations atau great institution.

Apakah perusahaan yang jatuh itu tidak siap dengan era teknologi informasi (digital)?

Pada 2011 internet berubah menjadi internet of things atau internet everything. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan internet. Semua itu mengakibatkan metode berubah. Itulah yang disebut dengan bisnis model. Namun, akibat selanjutnya yang akan jatuh bukan hanya 1 atau 2 perusahaan. Di situ, yang jatuh bukan lagi nama perusahaan, melainkan jenis industri yang sudah bangga dan besar bisa jadi hancur dan digantikan dengan platform baru atau mengecil. Yang besar terdampak itu adalah media, ritel, transportasi, hotel yang model bisnisnya dimiliki sendiri oleh suatu perusahaan, menjadi sharing economy. Lalu apa yang terjadi? Dunia ekonomi itu menjadi berubah platformnya dari tadinya berharap pertumbuhan tinggi menjadi pertumbuhan menengah karena dunia juga declining ekonominya. Tadinya, ada 20 ribu taksi Ekspres muncul di pasar, maka akan ada 20 ribu mobil dibuat di Toyota. Hari ini ada 20 ribu taksi Grab, tapi tidak ada peningkatan produksi di Toyota. Yang ada saja dimanfaatkan. Bahkan ilmu marketing yang selama ini kita kenal berubah. Ilmu ekonomi selama ini adalah branding. Kita membidik konsumen menengah atas yang mampu membeli brand kuat. Namun, saat ini branded atau luxurious goods menjadi public goods sehingga kemudian disrupsi itu menciptakan konsumen bisa menikmati barang lebih murah. Jadi, yang tadinya branding menjadi pendekatan bisnis moda, yang menentukan bagaimana orang bisa mendapatkan uang.

Kalau masyarakat di daerah bagaimana dalam berproses?

Masyarakat itu sangat adaptif. Tidak pernah kita sangka di Klaten itu ada sebuah desa yang berpenghasilan dari dana BUM-Des dengan modal Rp300 juta menjadi Rp15 miliar per tahun karena mereka memanfaatkan teknologi selfie (swafoto). Orang berfoto di dalam air, ada ikan lewat, ada motor, itu (yang menciptakan) anak-anak muda di perdesaan. Tidak pernah terbayangkan para petani di sebuah desa di Yogyakarta memanfaatkan keindahan alamnya yang namanya Kalibiru menjadi sangat terkenal. Itu levelnya bukan desa, melainkan dusun. Namun, pendapatannya bisa berdampak pada 2-3 kecamatan di sekitarnya. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita khawatirkan. Pertama, regulator yang selalu mengacu pada peraturan lama bukan pada induk peraturan, yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur. Para pelaku usaha baru itu peraturannya belum ada, tapi kemudian dipaksakan regulator untuk menaati peraturan lama. Kedua, perlu diperhatikan juga perilaku politik yang memanfaatkan situasi disruption sebagai situasi 'kekacauan' karena menimbulkan isu-isu tidak sehat. Misalnya, saat pengurangan pekerja akibat elektronifikasi atau virtual jobs, itu sebenarnya otomatis akan menciptakan ribuan bahkan jutaan pekerjaan baru. Akan tetapi, perilaku politik dan pengamat politik itu hanya tertarik pada yang negatifnya saja, yaitu pekerjaan yang hilang. Dalam elektronifikasi pembayaran jalan tol, misalnya, mereka fokus melebih-lebihkan angka 10 ribu orang akan kehilangan pekerjaan yang faktanya tidak demikian karena dipindahkan ke control room. Kekhawatiran ketiga, pengamatpengamat ekonomi yang sudah terlalu tua untuk memahami era shifting digitalisasi. Teman-teman di Kadin itu juga perlu diingatkan bahwa mereka dibesarkan platform bisnis lama sehingga melihat keruntuhan sektor ekonomi lama itu seakan-akan keruntuhan ekonomi dunia, keruntuhan ekonomi Indonesia. Padahal kenyataanya ada di dunia lain yang mereka tidak kenal, yaitu dunia anak-anak mereka. Kecuali kalau kita mau belajar kembali dengan anak-anak kita untuk mempelajari dunia yang baru itu, kita akan melihat potret baru dari ekonomi dunia.

Tadi Anda singgung pemerintah masih berpatokan pada peraturan lama. Apakah pemerintah terlalu lambat memprediksi perubahan?

Tidak ada pemerintahan di dunia ini yang benar-benar siap terhadap semua prediksi itu. Saya melihat Menteri Budi Karya Sumadi sudah cukup responsif terkait dengan transportasi online. Tentu saja dia tidak bisa memberikan ruang terlalu besar karena sudah ada pelaku lama. Namun, aparat penegak hukum itu juga harus membuka diri, bukan hanya regulatornya. Aparataparat di pemerintahan daerah harus membuka pikirannya. Misalnya, di salah satu provinsi pemerintah melarang ojek daring dengan asumsi telah mematikan sopir angkot dan taksi konvensional. Persoalannya ialah netizen menurut apa tidak? Karena netizen memerlukan armada itu. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah efi siensi dalam transportasi dan konsumsi. Sebab, ojek online juga bermanfaat untuk mengantarkan makanan yang dijual di ganggang, bukan cuma restoran besar.

Terkait dengan isu menurunnya daya beli masyarakat serta perubahan pola konsumen yang saati ini lebih untuk memilih leisure, seperti kuliner dan jalan-jalan, bagaimana Anda melihatnya?

Sekarang ini leisure sudah menjadi esteem economy. Yang namanya shifting itu terjadi bukan hanya dari dunia riil ke dunia daring karena tidak semua industri begitu. Akan tetapi, shifting itu juga menyangkut dari leisure ke esteem. Sekarang ini untuk pergi ke kebun teh kita perlu waktu 4-6 jam, kita juga tidak bisa menikmati udara segar di Puncak karena polusi. Apa itu leisure? Saya pikir itu self esteem. Yang dicari manusia saat ini ialah mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa dia sudah sampai di tempat itu, dia ingin dapat like, share, dan dapat comment di medsos. Shifting itu terjadi secara luas.

Bagaimana prediksi Anda tentang perekonomian 2018?

Shifting akan melebar, masuk ke industri-industri lama dan memang diproteksi negara, khususnya di sektor keuangan. Jadi yang di bawah itu akan menjadi pasar potensial. Untuk masyarakat prasejahtera yang tadinya tidak menjadi pasar, akan menjadi pasar, apalagi sekarang Dana Desa memasuki tahun ketiga. Pasti aparatur desa sudah akan lebih pintar mengelolanya sehingga masyarakat yang ada di bawah itu akan lebih baik. Hanya, pasar Indonesia akan semakin diminati asing, apalagi kalau tidak didorong kebijakan industrialisasi di daerah. Sebab, industri itu mahal biaya angkutnya, maka pemerintah daerah harus mendorong industrialisasi dengan mengganti perizinan lama dengan yang baru. Yang akan dibuka banyak itu nantinya adalah rumah untuk kelas menengah ke bawah. Upaya pemerintah dan pebisnis mencari yang marginnya tinggi, tapi lebih pasti demand-nya, baik itu landed house maupun rusun, itu yang akan banyak ditawarkan di 2018. Lalu media-media konvensional yang tidak bisa menjawab perkembangan zaman akan mulai berpikir untuk mencari bisnis tambahan baru.

Bagaimana dengan kebijakankebijakan pemerintah, apakah sudah mengakomodasi perubahan itu semua?

Ada yang sudah dan ada yang belum. Kebijakan ekonomi itu harus bisa memperkuat modal di dalam negeri, tidak masuk di akal negara dengan kekuatan GDP nomor 16 di dunia, kita dengan bunga yang mahal di Indonesia. Artinya apa? Ada uang dari masyarakat yang tidak diputar di Indonesia tapi di putar di negara lain. Kenapa? Jawabannya adalah pertama soal transparansi, yang kedua instrumen-instrumen keuangan di Indonesia telalu kurang. Bank Indonesia harus memberikan masyarakat kita kesempatan untuk memutar uangnya di luar dari produk-produk yang ada.

Soal generasi milenial, banyak yang merisaukan kinerja mereka. Bagaimana Anda melihat para milenial?

Kutu loncat, itu kalau dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Semakin mereka matang akan lebih stabil bahwa ada sejumlah milenial yang labil itu iya, cobacoba sana-sini karena mentalnya tidak kuat. Jadi, milenial itu adalah anak dari yang orangtuanya lebih sejahtera jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Akan tetapi, mereka juga bisa diandalkan untuk masa depan jika tidak dirusak dengan generasi di atasnya. Jadi PNS, tetapi dirusak karena hanya disuruh fotokopi, diberikan pekerjaan-pekerjaan yang mudah dan tidak menantang. Namun, kalau negara mendorong adanya inovasi, tantangan, membangun mentalnya, dan revolusi mental ini masih harus dibangun dengan serius, masih belum dibangun revolusi mental ini menurut saya. Akan tetapi, kalau mereka berasal dari keluaga yang berjuang bisa kita mengandalkan mereka yang demikian, masih ada sekitar 20% anak yang demikian. (X-7)

Komentar