Tifa

Tari Kolosal dalam Dongeng di Tanah Ajaib Oz

Ahad, 3 December 2017 07:21 WIB Penulis: Abdillah M marzuqi/M-2

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KETIKA lampu-lampu panggung itu menyala, dapat dipastikan itu bukan sebuah pentas sembarang-sembarang. Bukan pentas suka-suka. Seluruhnya telah dikonsep, diatur, dan disusun sedemikian rupa. Tak ada celah untuk kesalahan bahkan untuk yang terhitung baru dalam dunia panggung. Mereka yang masih berada di level dasar harus mampu bersenyawa gerak dengan para penari yang lebih dahulu malang melintang menjajal panggung. Sebab mereka harus berbagi panggung yang sama.

Tapi itulah yang indah dalam pentas Land of Oz oleh Namarina di Gedung Kesenian Jakarta pada 26 November 2017. Ketika para penari berbagai tingkatan bertemu dalam satu panggung sebagai bagian dari cerita yang utuh. Mereka masing-masing harus menjalankan bagian untuk merangkai cerita.

Pentas ini didukung 450 penari. Jumlah itu termasuk para penari ballet dan jazz dengan tingkatan yang beragam, dari tingkat madya sampai mahir. Rentang usia mereka pun beragam, dari usia 12 tahun hingga dewasa. Yang menarik, para penari tersebut harus mampu berbagi panggung dengan penari-penari Namarina Youth Dance yang merupakan semiprofessional dance company.

Land of Oz adalah adaptasi dari sebuah dongeng klasik The Wonderful Wizard of Oz karya L Frank Baum yang diciptakan pada 1900.

Gadis yatim piatu
Land of Oz bercerita tentang gadis yatim piatu bernama Dorothy. Dia tinggal bersama Emily, bibinya. Di balik keriangannya, Dorothy menyimpan keinginan untuk bertualang. Dia selalu mengandaikan tempat yang di dalamnya tidak ada masalah. Ketika asyik berandai-andai, tiba-tiba tornado besar membawanya ke tanah ajaib Oz. Dorothy merasa aneh, bingung, dan ketakutan. Dari sinilah perjalanan Dorothy bermula.

Dorothy bertemu teman barunya, yakni Scarecrow yang menginginkan otak, Tin man yang selalu berharap memiliki hati, dan Lion yang menginginkan keberanian. Sementara itu, Dorothy memiliki keinginan untuk kembali pulang. Mereka berempat pun melakukan perjalanan untuk bertemu Wizard yang diharapkan bisa memenuhi keinginan mereka. Ternyata setelah bertemu Wizard, mereka pun sadar bahwa yang mereka inginkan ternyata sudah ada dalam diri mereka.

Kisah itu membawa pesan yang sarat makna. Tema ini juga dipilih untuk menggambarkan seluk beluk sebuah perjalanan yang penuh tantangan, susah dan senang, untuk menjadi manusia yang lebih baik. "Ini mempunyai pesan moril terkadang kita tidak menyadari apa yang sebenarnya sudah kita miliki di dalam diri. Sebuah pesan yang sarat akan makna dan tak lekang oleh waktu," terang Artistic Director Maya Tamara.

Selain itu, pesan yang tak kalah penting dari lakon ini ialah percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Sebab bagaimana pun kemampuan yang dimiliki tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan keyakinan terhadap diri. Salah satu medium untuk memperjelas konsepsi diri adalah membuka diri. Tentunya dalam pentas ini disimbolkan sifat tenggang rasa dan tolong menolong terhadap orang lain.

"Ketidaksadaran akan kemampuan seringkali menimbulkan keragu-raguan bahkan hilangnya rasa percaya diri. Tuntutan dalam hidup tanpa sengaja dapat memunculkannya kembali. Tinggal bagaimana kita dapat mengendalikan konsepsi sebagai seorang individu akan dirinya sendiri," lanjut Maya Tamara.

Komentar