MI Muda

Diplomat Muda Kupas Masalah Dunia

Ahad, 3 December 2017 02:15 WIB Penulis: Galih Agus Saputra / M-1

DOK HIGHSCOPE MODEL UNITED NATIOS

PULUHAN siswa sudah memasuki kelas dan menempati tempat duduk masing-masing. Pada tiap meja, terdapat papan nama negara yang mereka wakili. Ada yang mewakili Indonesia, Inggris, Jerman, Amerika, dan negara-negara lainnya. Puluhan siswa ini sedang mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam kegiatan HighScope Model United Nations (HSMUN) 2017. HSMUN 2017 diprakarsai dan berlangsung di Sekolah HighScope Indonesia pada Rabu-Kamis, (22-23/11). Simulasi sidang PBB ini diikuti siswa SMA dan menjadi agenda rutin selama delapan tahun terakhir.

Pada tahun ke sembilan ini, HSMUN untuk pertama kalinya diikuti peserta dari luar negeri, yaitu Lorma Colleges Basic Education Schools, Filipina. Sementara itu, peserta lain berasal dari 34 sekolah di Yogyakarta, Bandung, Bogor, Jakarta, dan sekitarnya. Tema yang dikupas tahun ini, Ensuring the betterment of the future by revisiting the past. Selama dua hari, puluhan siswa SMA mengasah aneka keterampilan, meliputi berbicara di depan publik, menulis, negosiasi, penelitian, pemecahan masalah, menyusun mufakat serta berkompromi dan bekerja sama.

Sidang komite
Rangkaian HSMUN 2017 terdiri dari beberapa sesi, misalnya upacara pembukaan, konferensi, dan sidang umum. Saat konferensi, siswa berperan sebagai delegasi negara anggota PBB yang tergabung dalam beberapa komite. Siswa Jakarta Intercultural School, Virginia Rose menjadi diplomat dari Republik Yaman. Gina tergabung dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membahas upaya pemecahan masalah atas perang saudara di Republik Yaman. "Saya tidak pernah membayangkan konferensi yang saya ikuti akan mengalami perubahan dinamika begitu cepat. Bahkan para anggota dalam komite sempat terbelah menjadi dua kubu," jelas Gina.

Keseruan lainnya dialami Gerald CM Rombelayuk dari SMAK 1 BPK Penabur, Bandung. Ia menjadi bagian dari Press Corps yang mengamati jalannya konferensi. "Karena saya bagian dari pers, jadi saya tidak mengutarakan topik. Saya juga tidak memberikan solusi apa pun karena hanya melakukan observasi jalannya konferensi untuk menulis artikel berita. Sejauh observasi saya di komite yang saya liput, terbelah menjadi dua kubu, pendukung pemerintah dan pihak Kurdish," terang Gerald.

Terbagi dua kubu
Di Komisi Hak Asasi Manusia, topik budaya femicide atau kekerasan terhadap perempuan, yang berakhir pada penghilangan nyawa di negara berkembang ada Fiza Javaid Khan dari Sekolah Cita Buana. Ia menjadi delegasi Singapura. "Kalau suasana konferensi baik-baik saja, tetap ada dua kubu, tapi bisa balance. Kita punya tujuan sama, menawarkan resolusi, memberikan edukasi, konseling, atau mendukung program politik atau pemerintah untuk mengurangi kekerasan domestik," jelas Fiza.

Suasana konferensi Komite Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan juga tak kalah seru. Siswa Sekolah Global Jaya, Minke Jung, yang menjadi diplomat Iran, turut membahas upaya perlindungan terhadap budaya yang terancam punah akibat globalisasi.

"Kami sudah menghasilkan resolusi. Banyak orang mengusulkan resolusi yang lebih general, misalnya edukasi. Akan tetapi, saya akan mencoba menawarkan ide memberdayakan Iran untuk mengatasi ekstremis atau melatih beberapa orang berdasarkan identitas kulturnya," jelas Minke.

Pacu kolaborasi
Kontribusi para peserta untuk masalah-masalah global, kata Sekretaris Jenderal HSMUN 2017, Prana Kurnia, diharapkan akan memacu kolaborasi yang baik antarnegara. "Saya menginginkan hubungan diplomatis, menguntungkan satu sama lain. Jadi setiap negara saling menghargai sekaligus melahirkan solusi yang membuat dunia damai dan lebih baik," imbuh Prana. (M-1)

Komentar