Inspirasi

Melampiaskan Kesedihan dengan Menulis

Kamis, 30 November 2017 00:16 WIB Penulis:

DOK PRIBADI

‘INNALILLAHI Wainna Ilaihi Raaji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Muhammad Zaki 6 tahun di ICU PJT RSCM hari ini jam 09.00.... Selamat jalan, Nak, perjuanganmu di dunia selesai dan semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan. Rumah Kita berduka’, tulis pendiri Darah untuk Aceh (DUA), Nurjannah Husien, di dinding media sosialnya, Minggu (19/11). Baru dua hari sebelumnya, Nurjannah menuliskan kabar duka serupa tentang anak lainnya. Mereka ialah penyandang talasemia yang telah berpulang. Menghadapi kehilangan yang bertubi-tubi, Nunu--panggilan akrabnya--mengaku sempat terpuruk. Terlebih, keseharian anak-anak itu begitu lekat di hatinya.

“Pada awal-awalnya kakak sempat down karena menghadapi kenyataan seperti itu. Kita sudah seperti keluarga, ketika anak-anak penderita talasemia datang bersama orangtuanya ke Rumah Harapan Indonesia untuk tranfusi kita bercerita, tetapi tiba-tiba mereka meninggal. Itu yang tidak sanggup hadapi,” kenang Nunu di sela-sela kegiatan lokakarya di Jakarta, baru-baru ini. Akibat kesedihan yang berlarut, ia bahkan sempat didiagnosis mengalami kebutaan. Rupanya, kesedihan batin yang dideritanya berdampak pada penglihatannya. Dokter pun menyarankan untuk meninggalkan kegiatan sosial guna memulihkan psikologisnya dan ia dianjurkan menjalani terapi.

Atas saran dokter dan beberapa kerabatnya, Nunu memilih mengasingkan diri di sebuah apartemen milik teman di Jakarta. Namun, kondisi terasing itu justru membuat kesedihannya menjadi. Akhirnya, meski bukan penulis, Nunu mulai menumpahkan kegelisahannya di atas kertas. Ia memilih menulis. "“Saya tidak pintar menulis, tetapi kondisi kesedihan yang saya rasakan itu bisa ditumpahkan lewat tulisan. Saya mengalir saja menulisnya, tanpa beban dan tidak ada yang mengganggu saya,” tukasnya. Akhirnya, dari tiga bulan mengasingkan diri itu, ia menghasilkan sebuah buku berjudul I Have a Name dan sebuah naskah film.

Sekembali ke Tanah Rencong, Nunu kembali memeriksakan kesehatan matanya. Di luar dugaan, dokter menyatakan penglihatannya kembali normal. Kini, tulisan tangannya itu menanti diterbitkan. Tidak hanya kembali aktif di organisasi, Nunu juga aktif mengikuti konferensi dan menjadi pembicara di berbagai acara terkait dengan talasemia.

Sejak 17 hingga 19 November 2017, ia mengikuti konferensi di Thessaloniki, Yunani. Untuk membiayai berbagai perjalanan maupun kehidupannya, Nunu memilih berjualan daring. Semuanya ia jalani dengan suka hati demi berbuat untuk sesama. (FD/M-3)

Komentar