Features

Petualangan Baru di Hotel Gantung

Selasa, 28 November 2017 23:31 WIB Penulis: (Reza Sunarya/N-3)

MI/Reza Sunarya

BAGI yang hobi panjat tebing, Gunung Parang di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sudah tidak asing lagi. Gunung yang dipenuhi batu andesit ini sudah dikenal sebagai salah satu surga olahraga panjat tebing. Gunung Parang merupakan gunung batu tertinggi kedua di Asia, dengan ketinggian 963 mdpl. Namun, sekarang ini ada yang berbeda di Gunung Parang. Di tebing batu yang kukuh, ada hotel menggantung. Namanya Pajajaran Anyar Gunung Parang. Bila ingin berakhir pekan dan menginap di hotel gantung, perlu uji nyali untuk mencapai hotel tersebut. Untuk mencapai ke hotel tersebut harus memanjat tebing. Demikian juga saat pulang, harus turun menggunakan tali.

Dhany Daelami, pencinta panjat tebing sekaligus pengelola kawasan wisata Gunung Parang saat ditemui Media Indonesia pekan lalu mengatakan, pihaknya sedang mengejar target untuk membuka sepuluh kamar. “Sekarang baru satu kamar yang dibangun, karena terbentur dana. Rencananya ada 10 kamar,” ujar Dhany, Minggu (19/11). Di dalam kamar hotel gantung seperti kamar hotel pada umumnya. Ada tempat tidur dan toilet. Menurutnya, meski hotel itu menggantung, keamanan yang dibangun berstandar internasional layaknya hotel gantung di Peru, Amerika Selatan.

Setiap ruangan kamar hotel dibangun dari rangka besi, dan ditempelkan dengan alat khusus ke batu andesit gunung tersebut. Lokasi ketinggian berbeda-beda. Yang paling mahal harganya di ruangan yang berada di lokasi paling tinggi. Harga kamar paling tinggi Rp4 juta per malam, sedangkan paling rendah Rp3 juta. “Hotel bergantung di Gunung Parang ini yang pertama di Indonesia, bahkan Asia. Peminatnya juga besar. Banyak teman dari luar negeri sudah menanyakan hotel gantung ini. Tapi dari target 10 kamar, baru satu yang rampung,” jelas Dhany.

Ia berharap ada investor yang bisa bekerja sama agar target sembilan kamar lainnya bisa segera dibangun. Dhany menambahkan, selama ini Gunung Parang selalu didatangi pencinta climbing dari dalam dan luar negeri. Bahkan, pendaki asal Jepang, Belanda, dan Inggris telah mengenal keindahan gunung tersebut.

Ketinggian Gunung Parang memiliki trek vertikal dan berbatu. Ketenaran Gunung Parang ini menjadi andalan Dhany untuk mempromosikan hotel gantungnya itu. “Trek dijajal oleh setiap pencinta panjat tebing. Untuk mencapai puncak gunung butuh waktu sekitar 1,5 jam. Treknya pun vertikal dan bukan seperti gunung biasanya. Pasti sangat menantang dan paling disukai oleh para pemanjat tebing,” katanya. Apalagi, sekarang dilengkapi dengan hotel gantung. Bagi pencinta olahraga yang menantang, menginap di hotel gantung akan memicu naiknya adrenalin. (Reza Sunarya/N-3)

Komentar