Tifa

Absurditas Politik Kekuasaan Internasional

Ahad, 26 November 2017 10:33 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Pameran tunggal Made Wianta Run for Manhattan dihelat di Gedung Plaza Asia, Ciptadana Center, Jakarta pada 24 November hingga 8 Desember 2017---MI/Abdillah M Marzuqi

TAJUK itu cukup membuat dugaan kosong pada awalnya. Run for Manhattan, begitu judul pameran tunggal seni rupa karya Made Wianta dilekati. Judul itu bukan seperti judul gelaran acara olahraga yang kerap memakai kata run untuk merujuk pada aktivitas olahraga. Memang run identik dengan lomba maraton atau semacamnya. Namun, kali ini berbeda. Jauh dari pertandingan atau perlombaan, Run for Manhattan ialah acara pameran tunggal seniman terkenal asal Tabanan, Bali.

Itulah tajuk pameran tunggal Made Wianta yang dihelat di Gedung Plaza Asia, Ciptadana Center, Jakarta, 24 November hingga 8 Desember 2017. Ekshibisi itu memajang 46 karya Made Wianta yang dikuratori Emmo Italiaander.

Menurut Emmo Italiaander, ide mengenai ekshibisi muncul setahun yang lalu, bertepatan dengan 2017 yang menjadi momen perayaan 350 tahun perjanjian Breda yang disepakati pada 1667. Pameran ini lebih dari sekadar pernyataan getir tentang absurditas politik kekuasaan internasional dalam realitas semesta.

“Pak Wade Wianta muncul dengan ide Run for Manhattan dengan sarkas. Di masa itu dua negara yang berkuasa merebut Pulau Run. Ironisnya Pulau Run sekarang seperti tidak terdengar namanya lagi,” terang Emmo.

Sekedar pengingat, Run adalah pulau kecil di Laut Banda yang pernah dijadikan sebagai penukar Pulau Manhattan di New York. Pulau itu menjadi kunci dalam Perjanjian Breda yang mengakhiri konflik Inggris dan Belanda. Dalam kesepakatan itu Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda dan sebagai imbalan Inggris mendapat Pulau Manhattan di Pantai Timur Amerika Utara.

Perjanjian Breda berisi penawaran pertukaran Pulau Run dan Manhattan akibat perebutan sengit dan berdarah antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris pimpinan Kapten Nathaniel Courthope pada awal abad ke-17. Disebut Perjanjian Breda atau Treaty of Breda karena perjanjian itu ditandatangani di Kota Breda, Belanda. Perjanjian Breda ditandatangani pada 31 Juli 1677.

Belanda rela menukar Pulau Manhattan dengan Pulau Run karena pala memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bahkan kala itu, Belanda berperan peting dalam ekonomi dunia karena memiliki Pulau Run.

Bagi Wianta, keseluruhan transaksi itu ibarat lelucon. Manhattan selalu menjadi fokus penting ketika menyangkut kekayaan dan kekuasaan. Sementara itu, Run, dulu memang pernah menjadi kepingan berharga. Namun kini, ia hanya seolah menjadi gundukan tanah yang ditinggalkan dan dilupakan.

Kunci bagi dunia
Dulu Pulau Run adalah satu-satunya pulau yang menyediakan suplai pala terbesar di dunia meskipun pulau tersebut hanya mempunyai panjang sekitar 3 km dan lebar sekitar 1 km. Keberadaan Pulau itu pun diburu negara-negara kolonial macam Portugis, Belanda, dan Inggris. Saat itu Run kunci bagi dunia. Biji pala waktu itu ditukar dengan berat yang sama dengan emas. Harga emas dan harga pala sama persis.

Judul Run for Manhattan menjadi permainan kata-kata sekaligus mantra misterius. Seni merupakan sihir yang mampu bekerja dengan garis penghubung yang tak terlihat. Karya lukisan dan tiga dimensi milik Made Wianta yang dipamerkan melalui Ciptadana Art Program itu ada yang menceritakan New York dan Pulau Run. Putri pertama Made Wianta, Buratwangi, yang menemani sang ayahanda melakukan riset, mengatakan sudah tiga kali ke Pulau Banda dan berkali-kali ke New York.

Run for Manhattan merangkul seluruh periode karya kreatif Wianta yang memamerkan jangkauan bakat dan visi artistiknya yang sangat luas. Meskipun dia mempelajari seni lukis Bali tradisional kekagumannya kepada seni Western dan Eropa mendorongnya melancong ke Eropa pada tahun 1975 untuk menyaksikan sendiri kekayaan ragam gaya seni Eropa, ia menyerap pelajaran tentang surealisme dan mengembangkan dengan versinya.

Wianta dikenal sebagai seniman penuh gairah dan multitalenta. Selain melukis, Wianta terlibat aktif dalam seni batik, teater, tari, musik, puisi, dan kaligrafi. Dia pertama kali menembus seni kontemporer Indonesia pada dekade 1970 di Yogyakarta. Wianta memang memiliki semangat tersendiri terhadap seni lukis tradisional Bali. Namun, itu tidak membuatnya berhenti untuk bereksplorasi. Berangkat dari kekaguman terhadap seni modern Barat, ia berangkat ke Eropa pada 1975. Ia lalu menyerap gaya surealisme Eropa. Alih-alih berhenti berproses, ia malah mengembangkan gaya surealismenya yang merefleksikan nurani, sekaligus menggabungkan penampakan imajiner dengan sensibilitas etnis.

Terdapat beberapa periode klasifikasi lukisan, di antaranya periode karangasem, periode titik, periode segi empat, periode segitiga, periode parakitan, periode kaligrafi, periode kalender, dan periode media campuran.

Meski demikian, periode itu tidak berjalan linier searah dengan garis waktu. Sebaliknya, periode itu layaknya spiral yang bisa saja melintasi masa lalu dan masa kini. Di antara karyanya pada periode titik juga ditemui singgungan dengan pola pada periode lain.

“Yang penting bagi saya adalah waktu, waktu yang saya jalani sejak lahir, waktu saat ini, dan di masa depan, waktu yang saya jalani untuk hidup,” begitu menurut Wianta ketika berbincang tentang esensi. Sebabnya, baginya esensi adalah waktu.

Begitulah Wianta, seniman yang punya karya dengan visi masa depan sembari mengizinkan masa lalu dan masa kini hadir dalam setiap karyanya. (M-2)

Komentar