Jeda

Milenial Zaman Kini Doyan Pelesiran

Ahad, 26 November 2017 10:25 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

Pengunjung berswafoto bersama di kawasan objek Wisata Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat---ANTARA/Fahrul Jayadiputra

KETIKA ada waktu luang, Pipiet selalu menyempatkan diri untuk memburu tiket promo dari berbagai macam maskapai penerbangan, baik itu domestik maupun internasional. Karena baginya, traveling juga merupakan sebuah investasi.

“Saya bersama suami sering berkelakar kalau kami bekerja untuk berlibur. Karena bagi kami, traveling itu sebenarnya bukan sekadar berlibur atau menghamburkan uang, melainkan sebuah investasi pengalaman hidup yang kadang tak ternilai,” tutur Pipiet kepada Media Indonesia, Rabu (22/11).

Kebiasaan berlibur itu juga terus dilakukan ketika perempuan bernama lengkap Pipiet Tri Nooraatuti sudah memiliki anak. Bahkan, ketika anaknya masih berusia lima bulan, ia bersama dengan suami sudah mengajak anaknya berlibur untuk memperkaya wawasan.

“Setelah kami sudah memiliki anak yang kini sudah berusia 4,5 tahun, kami ingin memberikan berbagai pengalaman dari traveling ini. Karena bukan hanya jalan-jalan saja, melainkan kita bisa mengenal dunia lebih luas lagi,” sambungnya.

Ketika sudah lima tahun berkeluarga, perempuan 34 tahun itu telah beberapa kali mengunjungi kota-kota di Indonesia dan menjelajahi berbagai negara bersama keluarga kecilnya itu. Bahkan dalam waktu dekat, sudah ada dua destinasi telah dijadwalkan.

“Kalau domestik sudah banyak ya mulai dari Yogyakarta, Solo, Bali, Lombok, Malang, Surabaya, Ambon, Maluku dan lain-lain. Nah kalau untuk waktu dekat ini, akhir tahun kami akan ke Yogyakarta dan Februari tahun depan ke Jepang,” tutur Pipiet yang juga sudah mengajak anaknya ke Singapura, Malaysia, dan Jepang itu.

Prioritas
Dalam menjalankan kegemaran pelesiran bersama keluarga ke berbagai kota dan negara lain, Pipiet bahkan tak pernah ragu menunda kebutuhan tersier lain untuk lebih memilih dialokasikan ke dana jalan-jalan.

Namun, Pipiet memastikan ia bersama dengan suami selalu menjadikan kebutuhan primer sebagai yang utama. Barulah setelah kebutuhan utama terpenuhi, dana untuk jalan-jalan akan menjadi prioritasnya.

“Kalau sampai mengorbankan kebutuhan primer sih tidak ya. Tapi kalau menunda kebutuhan tersier lain untuk bujet jalan-jalan, itu pasti. Karena kami selalu selalu menyisihkan dana untuk traveling,” sambungnya.

Meski sedikit berbeda, David Kartono mengaku bisa melakukan penghematan dan menabung untuk menyambangi destinasi yang sudah menjadi impian sejak lama. Namun, semua dilakukan masih dalam batas wajar.

“Terkadang kami lakukan itu (mengorbankan kebutuhan lain), terutama untuk destinasi impian kami, tetapi tidak sampai ekstrem karena kami masih mengimbangi dengan kebutuhan primer keluarga,” ungkap David.

Bagi David dan keluarga, pelesiran ke destinasi baru merupakan sebuah tujuan hidup yang selalu dinanti-nantikan seluruh anggota keluarga. Bahkan terkadang, istri atau anak-anak kerap menanyakan kapan melakukan perjalanan lagi.

“Karena traveling adalah waktu dan momen yang paling ditunggu-tunggu keluarga sehingga untuk trip tertentu yang cukup jauh, pasti kami menabung untuk merealisasikannya,” tutur pria 36 tahun ini.

Semua itu bisa terlihat dari daftar perjalanan yang sudah dilewati David bersama istri dan keluarga di tahun ini. Sebut saja dari yang terdekat yakni Singapura, Malaysia, Jepang, Dubai, hingga Turki sudah dijelajahi olehnya. “Jadi dalam setahun itu bisa tiga sampai lima kali perjalanan dan destinasi yang akan dituju biasanya ditentukan anggota keluarga,” sambungnya.

Jadi gaya hidup
Salah satu penyedia jasa pariwisata, Obaja Tour & Travel, mengakui saat ini kebutuhan akan traveling sudah menjadi sebuah kebiasaan di kalangan masyarakat baik itu bepergian ke dalam maupun luar negeri.

“Saat ini kebutuhan traveling sudah menjadi tren di masyarakat Indonesia, sudah mulai menjadi salah satu kebiasaan bahwa saat musim liburan adalah kesempatan yang tepat untuk berlibur dan jangan sampai terlewatkan,” tutur Presiden Director Obaja Tour & Travel Rudy Lie ketika berbincang, Kamis (23/11).

Menurutnya, setiap pendapatan masyarakat yang terus mengalami kenaikan, maka traveling akan menjadi salah satu prioritas aktivitas kehidupan mereka. Apalagi saat ini tiket penerbangan, hotel, atau apa pun bisa mudah didapat melalui sistem online.

“Memang saat ini sistem pembelian sudah mulai bergeser pada pembelanjaan melalui transaksi online. Hal ini tentunya menjadi sebuah pergeseran konsumen dari konvensional ke transaksi online,” sambung Rudy.

Selain itu, pihak Obaja mengakui setiap waktu selalu mencermati perubahan-perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dinamis dan tuntutan akan kebutuhan gaya hidup yang semakin tinggi. “Traveling itu menjadi salah satu tren, hanya pola distribusinya saja yang berbeda dan mulai bergeser pada era digital ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Obaja selalu senantiasa membuat inovasi dengan cara menciptakan beragam produk dengan tujuan wisata yang menarik serta harga yang ekonomis, tetapi para traveler yang ikut dengan Obaja Tour mendapatkan pelayanan yang maksimal.

“Para traveler akan nyaman pergi dengan kita karena kita mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan perusahaan maskapai penerbangan, hotel, dan vendor lainnya,” pungkasnya. (M-2

Komentar