Khazanah

After Party ala Budaya Jawa

Ahad, 26 November 2017 05:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

TEKSTURNYA memang rapuh dan luluh. Ia memang lembek dan tak punya bentuk, seolah tak punya kepastian dalam dirinya. Ia mudah mengikuti bentuk wadah yang menampungnya. Sekali pun tidak pernah ia mencoba berdiri sendiri dan mandiri. Ia justru menimpakan pilihan untuk selalu bersama dengan cairan manis. Ketika hadir, ia harus selalu ada bentuk cair lain yang melingkupinya.

Bolehlah orang meremehkannya dengan bentuk yang telah dipilihnya. Namun, di balik bentuk yang sedemikian itu, ternyata tersimpan makna dan arti yang dalam. Itulah jenang sumsum, makanan rakyat yang lazim dijumpai di wilayah kebudayaan jawa.

Jenang sumsum akan mendapati bentuk bermakna ketika pesta usai. Jenang itu menjadi salah satu hidangan terpenting dalam pesta after party ala kebudayaan Jawa. Bahkan, namanya diabadikan dalam sebuah prosesi pasca pesta dengan sebutan Sumsuman. Pada prosesi itu, jenang sumsum menjadi bintang utama tunggal. Tak ada jenang sumsum, mustahil Sumsuman bisa digelar, tak terkecuali ketika orang nomor satu di Indonesia menggelar pesta pernikahan untuk anaknya. Presiden Joko Widodo menikahkan putrinya, Kahiyang Ayu, dengan Muhammad Bobby Afif Nasution. Jenang sumsum tetap tak ketinggalan.

Bahkan Sumsuman menjadi milik tidak hanya keluarga mempelai atau sang empu hajat. Seluruh masyarakat di sekitar wilayah tempat digelar upa­cara pernikahan juga turut menikmati jenang itu.

Jenang sumsum memang lazim dihadirkan saat sebuah acara usai atau yang akrab disebut after party bagi masyarakat kekinian. Saat itu biasanya diisi dengan acara evaluasi, ramah tamah, saling berucap maaf, dan berterima kasih. Evaluasi mulai perencanaan kegiatan hingga kegiatan berlangsung dan dinyatakan selesai dengan pembubaran panitia pelaksana kegiatan. Ramah tamah untuk proses yang memenatkan hingga memancing emosi. Terima kasih untuk sesama teman, dan maaf jika ada yang salam.

Penuh simbolis

Warna putih jenang sumsum diartikan sebagai bersihnya hati. Rasa manis pada ialah simbol kesejahteraan karena gula merupakan bahan pangan yang hampir dipakai di semua masakan Jawa dan harganya tidak murah. Tekstur lengket jenang sumsum diartikan persatuan dan kesatuan, menandakan adanya keharmonisan dalam keberagaman.

Dalam tradisi Jawa, Sumsuman ialah memakan bubur sumsum yang berwarna putih dengan paduan juruh atau gula jawa yang dicairkan. Sumsuman dipercaya dapat menghilangkan rasa lelah setelah acara hajatan.

Menurut budayawan Mudji Sutrisno, dalam budaya jawa, jenang sumsum ialah jenang putih hasil olahan beras yang dimasak sampai lembut. Jenang sumsum juga merupakan simbol rezeki.

“Dalam budaya jawa itu yang namanya Sumsuman jenang putih yang dari beras yang dimasak itu simbol dari rejeki. Artinya fooding nasi yang lembut itu yang jadi makanan kita waktu kecil. Lalu pakai juruh. Juruh itu kan manis. Itu simbol antara yang manis dan yang gurih itu menghidupkan,” terang budayawan yang akrab disapa Romo Mudji itu.

Ada alasan mengapa jenang sumsum dibuat dan dihadirkan saat sebuah pesta telah usai. Sebabnya, dalam budaya jawa, segala proses dalam kehidupan dianggap sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Perayaan itu juga termasuk tahapan kehidupan dalam kandungan, kelahiran, pernikahan, hingga kematian.

“Kalau Jawa kenapa itu dibuat after party atau pesta itu disyukuri. Sebenarnya tahap-tahap perayaan kehidupan orang Jawa. Jadi, tahap-tahap kehidupan itu dirayakan karena orang Jawa hidup dalam sebuah dialog dan relasi yang amat sakral,” tegasnya.

Padangan hidup masyarakat Jawa juga sangat memengaruhi tradisi Sumsuman. Masyarakat Jawa memaknai manusia sebagai jagat kecil yang berada dalam jagat besar. Dari situlah konsep maneges, yakni upaya harmonisasi antara manusia dan alam semesta raya.

“Karena individual orang Jawa itu jagat kecil, harus menyatu dalam jagat besar. Itu disesuaikan dengan kebatinan artinya kepekaan batin untuk selalu maneges. Maneges itu mencari harmonisasi antara yang mikro kosmos dan makro kosmos. Itu artinya suara batin,” lanjutnya.

Mensyukuri kehidupan

Sumsuman bermakna manusia yang sudah mensyukuri kehidupan dengan pesta perayaan. Memang itu juga bermakna syukur atas helatan ataupun acara pesta yang sudah selesai dijalankan dengan sukses.

“Artinya kita sudah selesai. Kita sudah mensyukuri kita sudah pesta dalam hidup ini, tetapi jangan lupa jenang sumsum ini juga untuk mulai lagi. Sama ketika kita masih kecil mendapatkan nasi yang masih lembut (jenang sumsum) dan antara gurih dan manisnya hidup itu untuk menjadi bagian yang menghidupkan hidup kita,” tegasnya.

“Setelah kita bersyukur. Jangan lupa syukur ini harus kita teruskan untuk melangkah baru,” lanjutnya.

Romo Mudji juga melihat pesan dalam upacara pernikahan putri Presiden Joko Widodo. Menurutnya, Jokowi ingin mengatakan kepada rakyat Indonesia ia sebagai presiden sama seperti masyarakat kebanyakan. Ia juga menikahkan putrinya. Karena ia berlatar budaya Jawa, ia pun mengikuti adat budaya jawa secara lengkap.

Kembali ke upacara adat. Tidak perlu yang mewah-mewah, yang penting tetap memberi serta mengandung makna dan nilai.

“Nilai adalah sesuatu acuan yang baik, benar, suci, indah, yang diacu orang atau kelompok untuk bisa survive menghadapi krisis. Itu kebudayaan sebenarnya. Wujudnya perkawinan dan Sumsuman tadi,” begitu Romo Mudji memungkasi penjelasannya tentang Sumsuman. (M-2)

Komentar