MI Muda

Meriset Kerang, Menyelamatkan Teluk Jakarta

Sabtu, 25 November 2017 23:31 WIB Penulis: Dwi Safitri Universitas Jambi

Dok. Pribadi

KERANG hijau yang jadi salah satu komoditas masyarakat di pesisir Teluk Jakarta sekaligus memicu kekhawatiran karena habitatnya yang telah rusak, dapat menjadi pahlawan lingkungan dalam riset Devina Grisella dan Christopher Prasetya Mulya, siswa SMA Santa Laurensia, Tangerang, Banten.

Riset mereka tentang butiran cangkang kerang hijau, Perna viridis, yang dipadukan dengan bahan aktif dari kayu bakau, Rhizophora mucronata, menjadi pengurai alami limbah kation dan anion, yang dihasilkan rumah tangga, berhasil menjadi juara satu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2017 Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Kelautan yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Oktober lalu. Simak obrolan Muda dengan mereka, ya!

Ceritakan dong penelitian kalian ini tentang apa?

Riset kami dilandasi permasalahan ling­kungan Jakarta, beberapa tahun lalu, ditemukan banyak ikan mati di pesisir Teluk Jakarta. Setelah kami telusuri, penyebab utamanya blooming algae yang disebabkan limbah logam berat seperti besi dan mangan.

Selain itu, adanya limbah fosfat dari rumah tangga. Kenyataannya, konsentrasi limbah di perairan Jakarta sudah jauh melebihi batas normal.

Maka dari itu, kami tergerak untuk membuat absorben untuk menyerapnya menggunakan kedua bahan baku khas Indonesia yang potensinya belum dimaksimalkan, yaitu cangkang kerang hijau dan kayu bakau.

Ide kami menggunakan butiran cangkang kerang hijau yang notabene memiliki kemampuan sebagai adsorben logam berat dan kayu bakau untuk bio adsorben logam berat.

Perjalanan riset kalian?

Di sekolah ada pelajaran proyek, kami harus melakukan penelitian. Sebelumnya sudah pernah melakukan beberapa penelitian karena setiap tahun ajaran kami didorong memecahkan masalah dengan penelitian.

Nah tahun ini, kami mencari masalah lingkungan di sekitar Jakarta dan Tangerang, tempat tinggal kami.

Solusi untuk perairan Jakarta ini, menurut pembimbing, idenya cukup menarik dan kami didorong untuk ikut kompetisi, sehingga akhir­nya kami mendaftar.

Tantangan apa saja yang kalian hadapi?

Selama penelitian, biasanya tidak semua rancangan penelitian yang kita sudah buat, ketika dilakukan di lapangan, tidak sesuai pun ada pula material yang tidak bisa didapatkan. Jadi harus mencari literatur untuk prosedur lain yang pas untuk penelitian ini.

Kendala lainnya, alat yang digunakan untuk pengujian, karena di sekolah tidak ada, harus ke lab milik LIPI dan harus mengantre, jadi ada kendala waktu juga.

Saat di acara lomba, tantangannya nervous saat mau presentasi di depan juri, itu harus dikontrol supaya bisa presentasi dalam 10 menit.

Siapa saja yang mendukung kalian?

Dari awal, kami punya pembimbing dari sekolah. Setelah lolos seleksi proposal, kami dibimbing mentor dari Pusat Penelitian Kimia LIPI Kimia, namanya Dr. Ajeng Arum Sari, beliau sangat membantu mengembangkan metode penelitian dan menggunakan alat-alat di LIPI yang tidak ada di sekolah.

Ada juga pembimbing dari sekolah, Ibu Dra MM Rosyati. Prosesnya dari Agustus sampai pengumpulan laporan pada Oktober.

Agenda kalian ke depan?

Ke depan, kami ingin mengembangkan produk water treatment untuk pabrik yang menghasilkan limbah berbahaya. Jadi sebelum dibuang, sudah bersih dan tidak mencemari perairan.

Selain itu, kami ingin mengarah pada rumah tangga, jadi sebelum air bekas cucian dibuang, bisa diserap dulu sehingga bersih dan airnya bisa digunakan kembali.

Pembelajaran apa saja yang sudah didapat dari penelitian ini?

Kami belajar untuk tidak pernah menyerah karena prosedurnya sering salah dan kami dikejar waktu pengumpulan sehingga prinsip never give up harus ada terus supaya tetap semangat mengerjakannya.

Selain itu, kami belajar manage waktu karena kami ada tugas dan ulangan sekolah yang tidak boleh ditinggalkan. Jadi harus pintar-pintar atur waktu untuk bisa menyesuaikan jadwal supaya dua-duanya selesai.

Kami juga belajar tidak boleh menunda karena kalau ditumpuk, penelitian tidak ada yang selesai.

Sebenarnya dalam proses penelitian pasti banyak nilai-nilai yang dapat diambil dan secara tidak sadar membangun karakter menjadi orang yang lebih baik, tangguh, dan semangat buat masa depan.

Proses meneliti ini membuat kami sadar, dengan meneliti kami dapat membantu Indonesia menjadi negara yang lebih baik dengan menyelesaikan persoalan yang ada.

Bagaimana rasanya bertemu dengan peneliti-peneliti muda lainnya?

Ikut lomba yang diikuti peserta dari berbagai daerah, kami jadi kenal dengan banyak orang dari berbagai daerah, jadi lebih banyak sahabat, mengenal, menghargai dan menghormati budaya mereka.

Kami juga jadi sadar, Indonesia itu beragam, banyak suku, agama, budaya yang berbeda dan bikin kami bangga, harus menghormati satu sama lain dan tetap bersahabat.

Harapan kalian untuk Indonesia?

Semoga dengan adanya peneliti-peneliti muda, Indonesia bisa semakin berkembang dengan banyak penemuan baru yang bermanfaat. Semoga semua bukan hanya dipublikasi, melainkan juga diterapkan, sehingga manfaatnya terasa secara nyata di lingkungan masyarakat.

Pesan buat anak-anak muda Indonesia?

Jangan sangka tugas kita sebagai pelajar hanya belajar untuk diri sendiri. Kita harus me­ne­rapkannya untuk kebaikan bersama. Jika ada kesempatan untuk membuat ling­kungan sekitar lebih baik, kenapa tidak diambil? Ja­ngan hanya diam, lakukan yang bisa dilakukan sebagai pelajar yang dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar! (M-1)

Komentar