Wirausaha

Dapur Warung Putri yang Senantiasa Sibuk

Sabtu, 25 November 2017 23:01 WIB Penulis: */M-1

MI/IIS ZATNIKA

TAK kurang 20 jenis sayur, 25 jenis lauk, satu karung beras seberat 50 kg, dan tak kalah pentingnya, satu kuali sambal, dimasak setiap hari di Warung Putri di Jalan Pulau Bangka Raya, Bekasi, Jawa Barat. Konsisten menjaga fokus pada volume untuk memutarkan modal, harga yang dipasang untuk satu piring nasi, lauk, sayur, dan segelas air putih mulai Rp5.000. Untuk lauk yang terhitung paling mahal ialah Rp13 ribu untuk sepiring nasi, sayur, sepotong ayam, dan segelas air.

“Yang penting mutar, supaya orang yang mau makan, dari semua kalangan bisa dilayani, juga agar saya dan dua yang kerja di sini juga bisa terus jalan,” kata Umronah, sang pemilik warung yang merintis bersama sang mendiang suami sejak 2005, kepada Media Indonesia, Minggu (12/11).
Untuk memasak sejak pukul 04.30--sesudah pulang dari Pasar Baru Bekasi--hingga pukul sebelas siang, dilanjutkan memasak secara bertahap ketika beberapa jenis lauk atau sayur tandas, Umronah menggunakan sedikitnya empat tungku kompor.

“Untungnya sekarang ada sambungan gas alam, PGN ke sini, sejak dua tahun lalu. Ketika ditawari untuk mendaftar, saya enggak ragu, dan ternyata sekarang cuma habis Rp1 juta sebulan. Dulu ketika pakai tabung 3 kg bisa habis 3 tabung sehari, totalnya Rp1,8 juta,” kata Umronah.

Mementingkan volume

Respons yang cepat dan tanggap pada perubahan, dipadu dengan konsistensinya menggarap pasar warung yang mengedepankan jumlah penjualan, membuat Umronah tetap optimistis dalam berbagai kondisi, termasuk ketika isu perlambatan ekonomi dan daya beli menyeruak.

“Karena orang tetap butuh makan, bagi kami yang penting juga atur keuangan. Kalau bisa, punya warung yang tempatnya milik sendiri, seperti saya, sehingga harga kita bisa murah dan terus bertahan dalam persaingan,” ujar Umronah yang menghargai seribu rupiah untuk satu jenis sayur, guna memastikan pelanggannya yang sensitif terhadap harga tetap mampir ke warungnya.

Dengan dikawal para perempuan, Umronah pun tak khawatir dengan pilihan Warung Putri pada energi yang disalurkan melalui pipa. Terlebih, kontrol rutin dilakukan PT PGN, serta perjalanan warungnya yang belun pernah mengalami masalah dengan sumber bahan bakar itu.

Dalam menjalankan operasi Wa­rung Putri yang buka mulai pukul tujuh pagi hingga pukul delapan malam, Umronah konsisten memelihara semangatnya dengan tak memiliki hari libur, kecuali Ramadan dan Lebaran. Warung Putri setia terus memasak, memutar modal, mengenyangkan banyak orang. (*/M-1)

Komentar