Eksplorasi

Sistem Pengereman Motor Otomatis Karya Pelajar Jogja

Sabtu, 25 November 2017 06:16 WIB Penulis: Febriana Rizal Ramadhani

Dok. Honda

DUA pelajar SMAN 8 Yogyakarta, Ignatius Vito dan Attar Husna Fathiya, membuat sebuah inovasi sistem pengereman otomatis pada sepeda motor.

Inspirasi mereka datang dari banyaknya kecelakaan sepeda motor di Tanah Air.

Dibantu pihak sekolah dan Dinas Dikpora DI Yogyakarta, mereka merampungkan penelitian dalam jangka waktu 13 bulan.

Sistem pengereman otomatis pada sepeda motor itu menggunakan pengombinasian rumus pemograman laser distance meter (alat ukur) dan motor stepper (actuator) sebagai dasar perintah pengoperasian alat rem.

Ignatius dan Attar mengaku memilih untuk menggunakan laser distance meter sebagai alat ukur karena memiliki akurasi lebih tinggi jika dibandingkan dengan alat ukur lainnya.

Alat ukur seperti sensor sonar, mereka nilai kurang akurat karena tidak dapat mendeteksi sudut dengan sempurna pada kemiringan jalan.

Sistem pengereman otomatis itu mereka padukan dengan mekanika pengereman sepeda motor melalui motor stepper yang terhubung dengan kaliper.

Kerja motor stepper yang diatur sistem pemograman menunjukkan sinkronisasi dengan laser distance meter sehingga laju sepeda motor dapat melambat dalam jarak yang telah ditentukan (kaliper melakukan pengereman otomatis).

Ketika alat ukur mendeteksi jarak minimum, alat pemograman, yang digunakan adalah Aglino, akan mengirimkan perintah kepada stepper motor.

Pengereman secara otomatis kemudian dihasilkan dengan mengunakan IC driver motor, L298n.

Ketika ada objek mendadak yang muncul pada jarak minimum, alat ini akan langsung bekerja.

Alat ini akan terpisah dari rangkaian asli sepeda motor atau merupakan sistem hidraulik tambahan, jadi akan ada rem manual yang memang bawaan dari sepeda motor dan alat rem otomatis ini.

Di sisi lain, penemuan dua siswa ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Penemu baru bisa mengaplikasikan laser distance meter dan memadukannya dengan mekanika sepeda motor, tetapi belum mengkaji tentang faktor kecepatan, kemiringan jalan, dan sistem antipenguncian rem (anti-lock braking/ABS).

Untuk itu, masih banyak inovasi tambahan yang ingin mereka lakukan di antaranya mengkaji faktor kecepatan dan kemiringan jalan, menambahkan sistem ABS, dan menggunakan internal wave.

Dengan begitu, ketika pengendara sedang tidak dalam kondisi prima, sistem akan bekerja lebih optimal.

Selain itu, ukuran alat akan diperkecil dengan menggunakan kontrol mikro yang berbeda dan akan didesain ulang agar lebih aman dan praktis.

Masih baru

Sistem temuan ini sebelumnya sudah terdapat di beberapa mobil mewah tapi masih sangat jarang pada sepeda motor.

Awal 2017 perusahaan otomotif Honda di Amerika Serikat telah mengajukan paten baru berupa sistem pengereman darurat otomatis untuk sepeda motor.

Paten baru itu diajukan ke Patent and Trademark Office Amerika Serikat.

Paten yang diajukan itu menggambarkan suatu sistem yang akan mengerem motor secara otomatis ketika mendeteksi kemungkinan tabrakan frontal.

Honda sudah memiliki fitur serupa pada beberapa mobil model 2017 yang disebut sebagai Collision Mitigation Braking System.

Pada mobil, sistem itu menggunakan kombinasi radar gelombang dan kamera untuk membaca potensi tabrakan frontal.

Sistem itu yang juga digunakan pada sepeda motor.

Ketika potensi tabrakan terbaca sensor, sistem akan memeriksa apakah pengendara sudah mulai mengerem atau belum.

Jika belum, sistem pengereman otomatis memberikan pengereman tambahan sambil tetap menjaga rasio yang sama antara rem depan dan rem belakang sehingga terasa lebih alami untuk pengendara.

(Indonesia Science Expo (ISE)/Riset MI/M-3)

Komentar