BIG CIRCLE

Indonesia Berdaya Bersama Social Enterprise

Kamis, 23 November 2017 23:01 WIB Penulis: Retno Hemawati

MI/ADAM DWI

SOCIAL enterprise menjadi sangat mengemuka baru-baru ini. Banyak masyarakat belum memahami apa itu social enterprise yang sebenarnya. Social enterprise merupakan wirausaha yang melakukan kegiatan usahanya dengan tujuan membantu masyarakat kecil yang kurang mampu secara ekonomi ataupun jasmani. Mereka tidak semata-mata memikirkan keuntungan pribadi, tetapi juga memikirkan pembangunan dan pengembangan komunitasnya agar lebih berdaya. Social enterprise dapat mengurangi dua masalah di Indonesia, yakni kemiskinan dan pengangguran, karena social enterprise mempekerjakan dan memberikan modal serta pembagian profit usaha kepada orang-orang yang kurang berpendidikan yang hanya memiliki keterampilan tertentu.

Untuk itu, di episode spesial HUT Metro TV kali ini, Big Circle mengangkat tema Social enterprise cerdas melihat peluang. Narasumber yang akan hadir yakni Du'Anyam, Gen Oil, dan Angkuts. Yang akan kita bahas di awal ialah Du'Anyam yang digagas Azalea Ayuningtyas, 28, sang CEO, dan Yohanna Keraf, 27, chief community officer. Du'Anyam ialah sebuah wirausaha sosial yang memberdayakan ibu-ibu di Flores untuk menghasilkan produk kerajinan anyaman. Produk kerajinan tangan ini tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional.

Du'Anyam memasarkan hasil produksi ibu-ibu perajin ke beberapa toko konvensional dan secara daring (online). Saat ini Du'Anyam telah memberdayakan 400 ibu Flores di 17 desa di Kabupaten Flores Barat.

Malnutrisi
Masalah malnutrisi yang diidap para ibu dan anak-anak di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah sedemikian serius. Sekitar 45% anak dan 50% ibu yang tinggal di wilayah tersebut menderita malnutrisi. Tingginya angka malnutrisi di Flores disebabkan para orangtua tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan bergizi bagi kebutuhan sehari-hari anak dan mereka sendiri. Kondisi ini menggerakkan Ayu yang merupakan lulusan Program Biologi Molekuler, University of Michigan, Amerika Serikat (AS), dan Magister Kesehatan Masyarakat, Harvard University, AS, ingin berbuat sesuatu.

Ayu meninggalkan pekerjaannya di Boston dan bergabung bersama enam temannya untuk membangun kewirausahaan sosial di Flores dengan nama Du'Anyam. Ia menggandeng ibu-ibu di Flores yang selama ini menggantungkan kehidupan dari menganyam daun lontar untuk sama-sama membangun bisnis. Dalam sebulan, kapasitas produksi Du'Anyam mencapai 4.000 produk. Sementara itu, penjualan Du'Anyam mencapai 2.000 produk. Harga per produk untuk dijual wholesales Rp15 ribu-Rp200 ribu. Sementara itu, harga produk ritel Rp25 ribu-Rp750 ribu.

Produk yang paling murah seperti sandal dan keranjang kecil. Produk yang paling mahal seperti keranjang besar. Dengan kondisi itu, Du'Anyam masih harus menyeimbangkan produksi dan pemasaran. Kendala lainnya apabila Du'Anyam telah melihat tren produk yang ada di pasaran dan menginginkan ibu-ibu perajin bisa membuat produk yang sama dari anyaman. Namun, hal ini perlu waktu. Sebab, ibu-ibu perajin butuh diajari soal teknik terlebih dahulu.

Host Andy F Noya bersama Amanda Zevannya akan berdiskusi bersama para narasumber, yaitu Azalea Ayuningtyas (CEO Du'Anyam), Hanna Keraf (CCO Du'Anyam), Melia Winata (CMO Du'Anyam), Andi Hilmy (CEO Gen Oil), Ahmad Sahwawi (Manajer Operasional Gen Oil), dan Hafiz (Founder Angkuts). Kali ini, mereka didampingi mentor Ben Soebiakto (Founder Ideafest) & Arto Soebiantoro (local brand consultant) yang akan memberikan banyak insight kepada narasumber. (H-3)

Komentar