Tifa

Menengok Chairil Anwar melalui Perempuan

Ahad, 19 November 2017 11:06 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Aktor Reza Rahadian (kanan) memerankan penyair Chairil Anwar dan aktris Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja dalam pementasan teater Perempuan-Perempuan Chairil, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (11/11)---MI/Abdillah M Marzuqi

PANGGUNG itu memang bukan untuk menampilkan biografi utuh dari seorang sosok sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Alih-alih disebut sebagai biografi utuh, pentas itu tidak menampilkan masa kecil sang sastrawan ataupun proses kehidupan penting lainnya. Lalu apa yang dimaksudkan dalam pementasan ini? Memang pentas ini tidak bertujuan ke situ. Pentas ini juga tidak berupaya masuk ke ruang penggambaran runtut dan runut dari proses hidup seorang penyair besar.

Masuk melalui fragmentasi peristiwa yang dibangun sedemikian rupa hingga menghasilkan dramaturgi apik. Setiap fragmentasi yang dibangun mampu menunjukkan bahwa Chairil Anwar adalah manusia biasa. Ia bisa sakit, sedih, takut, dan bahagia. Sungguh olahan dramaturgi memikat dari sebuah biografi besar seorang tokoh yang punya banyak sisi. Itulah yang menjadikan pentas ini berbeda dan indah.

Sekelumit kesan itu muncul dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil yang diselenggarakan Titimangsa Foundation didukung Bakti Budaya Djarum Foundation. Pentas itu berlangsung selama dua hari, 11 dan 12 November 2017, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pentas ini bercerita tentang sosok penyair ternama Indonesia Chairil Anwar. Tak dapat dimungkiri, Chairil Anwar adalah penyair legendaris dengan karya-karya yang mampu menjadi sumber inspirasi banyak orang. Puisi-puisinya juga terus langgeng dan menjadi bahan kajian hingga saat ini.

“Chairil Anwar melalui karya-karyanya merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa. Setidaknya esensi itulah yang mendorong saya mewujudkan mimpi mementaskan perjalanan hidup Chairil Anwar. Lewat puisi-puisinya, Chairil Anwar telah mengambil peran yang tak kecil demi memberi tenaga dan makna pada semangat revolusi dan kemerdekaan negeri ini. Chairil Anwar mati muda, tetapi karya-karyanya melampaui zamannya. Ia seakan tak pernah mati. Semangatnya selalu ada dan terus hidup bersama kita,” ujar produser Happy Salma.

Pementasan ini terinspirasi oleh buku berjudul Chairil karya Hasan Aspahani. Dari buku itulah Happy Salma dan Agus Noor selaku sutradara menemukan bentuk dan fokus pemanggungan Chairil. Termasuk biografi Chairil yang berhubungan dengan sejumlah sosok perempuan yang hadir dalam puisinya. Perempuan-perempuan itulah yang akhirnya digunakan sebagai gerbang untuk memasuki dunia Chairil Anwar dengan kegelisahan hidup dan pemikirannya, serta pertaruhan yang dilakukan.

Menurut Agus Noor, dengan pendekatan biografi puitik ini, penulisan lakon menjadi memiliki fleksibilitas tafsir karena tak terlalu terbebani untuk menginformasikan sebanyak mungkin fakta seputar Chairil. “Fakta-fakta dirujuk untuk mempertegas adegan, percakapan, dan konflik. Pergulatan batin dan kegelisahan Chairil, juga tokoh Ida, Sri, Mirat, dan Hapsah, bisa dieksplorasi menjadi sebuah drama. Karena bagaimanapun, ini adalah pertunjukan teater yang mestilah memiliki bangunan dramatika atau dramaturgi yang diharapkan memikat,” terang Agus Noor.

Cinta dan perempuan
Pentas ini lebih membahas cinta dalam kehidupan Chiril dengan menempatkan perempuan sebagai pintu masuk untuk mendalami sosok sang penyair. Itulah pula yang menjadikan tajuk dan fokus utama pementasan ini adalah perempuan dan cinta. Bagi Chairil, cinta dan perempuan adalah inspirasi, juga tragedi yang membuat hidupnya terempas, terlepas, dan luput.

Diakui Agus Noor, percakapan dalam pentas ini tidaklah sebagaimana yang terjadi sesungguhnya. Sebab tentu sulit mencari rujukan dialog Chairil dengan tokoh-tokoh yang terlibat. Namun, di sinilah letak kedigdayaan tim kreatif diuji. Mereka wajib bisa membayangkan pergulatan batin dari puisi-puisi yang ditulis Chairil untuk Mirat. Bentuk itulah yang nantinya dijadikan dasar untuk membuat percakapan dan adegan.

“Karena itulah saya lebih suka menyebut lakon ini sebagai biografi puitik, di saat adegan dan percakapan dihidupkan kembali berdasarkan puisi-puisi Chairil,” terang sutradara Agus Noor.

Lakon ini terdiri dari empat babak, yang menggambarkan hubungan Chairil dengan empat perempuan, yakni Ida, Sri, Mirat, dan Hapsah. Memang ada banyak perempuan dan nama berlintasan dalam hidup dan sosok Chairil Anwar. Namun, empat nama ini istimewa. Mereka menggambarkan sosok perempuan pada zaman itu. Ida Nasution adalah mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis, dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat. Sri Ajoti ialah seorang mahasiswi yang bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Sri gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan, bahkan ia ikut main teater, jadi model lukisan.

Fragmen perempuan ketiga menampilkan Sumirat. Perempuan itu adalah seorang terdidik yang lincah dan tahu benar bagaimana menikmati kedaraan. Ia mengagumi keluasan pandangan Chairil. Ia juga menerima dan membalas cinta Chairil dengan sama besarnya. Tapi akhirnya cinta itu kandas.

Lalu akhirnya, Chairil disadarkan oleh Hapsah bahwa dia adalah lelaki biasa. Perempuan yang memberi anak pada Chairil ini begitu berani mengambil risiko mencintai Chairil karena tahu lelaki itu akhirnya akan berubah. Meskipun itu terlambat, ia tahu Chairil menyadari bahwa Hapsah benar.

Empat perempuan yang tak sama, empat cerita yang berbeda. Tanpa mengecilkan arti dan peran perempuan lain, tapi lewat cerita empat perempuan ini kita bisa mengenal sosok Chairil, juga dunia yang hendak ia jadikan, serta zaman yang menghidupi dan dihidupinya.

Teater Perempuan-Perempuan Chairil menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar, Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat, dan Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja.

Pada akhirnya, pentas ini melestarikan ingatan bahwa Indonesia punya sastrawan yang menjadi anak emas pada zamannya bahkan zaman sesudahnya. Ia bukan hidup dalam kemapanan serbacukup, puas, dan bahagia dalam kehidupan. Namun ia berhasil membuat segala yang ada dalam hidupnya menjadi energi besar untuk karya-karyanya. Pentas ini mampu menggambarkan hal itu dengan sangat baik melalui pintu masuk yang pas lewat perempuan-perempuan Chairil. (M-2)

Komentar