Sosok

Triawan Munaf, Loncat dari Swasta ke Birokrat

Ahad, 19 November 2017 10:47 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Rommy Pujianto

“SAYA juga enggak tahu,” ucap Triawan Munaf datar. Kala itu Media Indonesia bertanya mengapa dirinya dipilih untuk menjadi orang nomor satu di Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Lalu ia pun sedikit cerita mengenang 2015 lalu kala Bekraf dibentuk. Kisah itu diawali dari beberapa orang yang punya obsesi untuk memajukan Bekraf yang terasa sangat ketinggalan di Indonesia. Teman-teman Triawan Munaf berkumpul dalam wadah informal yang bernama Rembuk Kreatif. Mereka bertemu secara intensif. Akhirnya mereka berhasil mengidentifikasi dan menginventarisasi apa saja yang harus dilakukan untuk memajukan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, termasuk mengusulkan bentuk lembaga yang menangani ekonomi kreatif. Mereka merasa pekerjaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terlalu berat. Harus dipisah.

Rupanya ide mereka sama dengan kemauan Presiden Jokowi. Gayung bersambut, setelah Jokowi memenangi Pilpres 2014, dibentuklah badan baru untuk urusan ekonomi kreatif. “Awalnya mau bentuk kementerian mungkin, tapi kementerian sudah 34. Tidak bisa lebih. Jadi dibentuklah sebuah badan,” ujarnya.

Rembuk Kreatif lalu mengajukan proposal kepada Presiden. Ketika ditanya siapa yang mau menjadi kepala badan baru itu, malah semua teman Rembuk Kreatif mengusulkan nama Triawan Munaf.

“Waktu itu saya enggak ada. Saya dihubungi mereka, termasuk Presiden apakah saya bersedia. Akhirnya sejarah yang akan bercerita,” kenangnya.

Triawan Munaf bukan berasal dari dunia birokrat. Dulu dia praktisi komunikasi di bidang periklanan. Menurutnya, karakteristik di agensi periklanan berhubungan dengan semua subsektor, dari segala lini kreatif. Itulah sebabnya mantan pencetus kampanye Salam 2 Jari ini mengakui bersedia untuk menjadi Kepala Bekraf. “Waktu saya ditunjuk sebagai Kepala Bekraf, wah ini ideal sekali karena memang saya tahu banyak sekali kekurangan di semua subsektor yang ada,” ujarnya.

Masih jauh tertinggal
Namun, bekal itu juga terus diasah Triawan Munaf. Ia sampai keliling ke berbagai negara maju untuk mempela­jari dan membandingkan ekonomi krea­tif negara tersebut dengan Indonesia. Hasilnya, Indonesia memang masih sangat jauh tertinggal.

“Jadi saya OK. Kalau diberi tugas, saya mau coba,” ujarnya.

Selain itu, dunia baru itu ternyata menyimpan berbagai tantangan. Sebabnya, dunia birokrasi tidak begitu akrab dengan dirinya. Ia tidak menyerah. Hasilnya, sekarang ia bermitra erat dengan berbagai lembaga dan kementerian, termasuk DPR.

“Ya sudah saya hadapi terus sambil mempelajari birokrasi seperti apa. Tapi alhamdulillah mitra kerja kita Komisi X (DPR) awalnya keras. Tapi semakin kes ini mereka semakin tahu dan berteman dengan erat sekali,” terangnya.

Mula menjadi Kepala Bekraf merupakan saat terberat. Ia harus menyesuaikan diri dengan format birokrasi pemerintahan. Di sisi lain, ia harus memikirkan bagaimana agar ekonomi kreatif Indonesia bisa mengejar keter­tinggalan dari negara lain, bahkan menjadi yang utama dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Kini, Bekraf perlahan menemukan bentuk idealnya. Lembaga yang di­pimpinnya telah berubah menjadi lembaga yang bergengsi di mata para pelaku ekonomi kreatif. Namun, ternyata itu tidak pula mengendurkan matanya untuk menikmati jam tidur lebih banyak. “Dapat 5 jam sudah alhamdulillah, 5 jam maksimal,” ucapnya sembari tertawa lepas.

Beruntungnya, Triawan Munaf mempunyai rahasia kebugaran untuk segala aktivitas serbapadatnya. Ia ternyata juga mengonsumsi ramuan dari bahan alami untuk tubuhnya.

“Saya ada ramuan dari madu, bawang putih, jahe. Jadi begini, kita punya food start-up yang sangat kreatif. Mereka salah satunya memberi saya. Mereka bilang, pak ini buat bapak supaya bapak sehat dan bisa bantu kami terus,” ujarnya. (Zuq/M-2)

Komentar